Liora menatap layar ponselnya yang memintanya untuk bertemu. Perempuan itu teringat dengan ucapan Harald tadi malam. Bahwa Naya sudah mengetahui hubungan gelapnya dengan Varengga. “Jadi pada akhirnya, aku harus berhadapan dengan Naya empat mata,” gumam Liora kemudian. Tring! Ponsel Liora kembali berdering, kali ini cukup lama yang menandakan adanya panggilan masuk. Perempuan itu langsung menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari Jea, manajernya. “Halo, Je,” sapa Liora begitu panggilan tersambung. “Bagus kalau kau sudah bangun. Aku sedang dala perjalanan, jadi begitu aku sapai di apartemenmu, kau sudah harus siap,” oceh Jea panjang lebar. “Siap? Siap kemana?” tanya Liora heran. “Oh, astaga. Tentu saja untuk pergi syuting!” oceh Jea tak habis fikir. “Berlibur romantis dengan keka

