“Kau bisa membangunkannya, ‘kan?” protes Ronald dengan wajah kesal. Assad menegakkan punggung dan melepas tangannya yang sudah menyentuh punggung Harra, kemudian laki-laki itu menatap Ronald dengan geli.
“Aku bukan nggak suka Kamu melakukan itu pada seorang gadis, aku hanya keberatan dengan status gadis itu, dia bukan gadis biasa,” kilah Ronald lebih lanjut. Assad tersenyum.
“Itulah, karena dia bukan gadis biasa,” balas Assad balik berkilah, kemudian menggendong Harra yang tetap bergeming dan tertidur pulas.
“Ah ...,” desah Ronald kesal.
“Selama berada di sampingmu, baru kali ini, aku melihat hal konyol seperti ini, apa pada Zica Kamu juga seperti ini?” seru Ronald geram sambil mengikuti Assad dari belakang.
Assad menghentikan langkah dengan mendadak dan itu membuat Ronald turut mengerem langkah kaki.
“Ini rahasia,” ucap Assad sambil mengerling usil pada Ronald, laki-laki berambut panjang sebahu itu kembali mendesah kesal melampiaskan geram.
“Hei! Kenapa mengikutiku?” seru Assad dengan nada tak suka yang kental.
“Aku akan memastikan gadis itu berada di kamarnya, bukan di kamarmu, juga, memastikan gadis itu tak Kau apa-apakan,” jelas Ronald tanpa bermaksud menghentikan langkahnya.
“Uh ... menyebalkan sekali, Ro ... jangan posesif gitu dong,” balas Assad dengan kesal.
“Hei, gadis itu bukan gadis bodoh, bisa saja dia memanfaatkan kelakuanmu itu untuk menghancurkan klan kita, kita harus waspada,” kilah Ronald cepat. Assad hanya bisa menggeleng-nggelengkan kepala mendengar alasan itu.
Assad meletakkan Harra di ranjang empuk kamar itu. Kemudian menarik selimut yang ada di sudut ranjang dan menutupkannya di tubuh Harra hingga menutupi leher.
“Hem ... hem ... sebwah klakuan aneh. Dia belum jadi anakmu ‘kan?” komentar Ronald yang berdiri di belakang Assad. Bos mafia itu mendengkus mendengar komentar itu. Kemudian tanpa bicara menyeret kaki tangannya itu keluar kamar itu. Assad mengaktifkan pengunci pintu kamar itu dan memanggil seorang pegawai laki-laki.
“Gadis itu akhir-akhir ini mendapat serangan beruntun. Pastikan dia aman selama tidur di kamar itu. Jika ada yang mencurigakan, segera ambil tindakan, mengerti!” perintahnya pada pegawai laki-laki itu. Pegawai laki-laki itu dengan patuh mengangguk, kemudian bergegas dan berdiri di depan pintu kamar Harra.
Ronald berusaha menjajari langkah Assad dan berhasil mencegat laki-laki itu ketika tiba di depan sofa dengan bentuk huruf L di pinggir kolam renang itu.
“Bisa dijelaskan drama apa yang baru saja terjadi?” seru Ronald dengan geram, wajahnya terlihat gusar.
“Drama?” balas Assad sambil mengernyitkan kening.
“Oke. Gini. Pertama-tama, aku menemukanmu sedang makan malam romantis di rooftop yang lantai satunya berantakan. Dua, dengan tanpa ragu Kau menuntun tangan gadis itu untuk melihat kejadian penting dalam klan kita. Tiga, Kau dengan gampang mengikuti sarannya setelah memutuskan akan balas penyerang klan Segitiga Emas. Empat, selama dalam perjalanan hingga barusan, Kau memperlakukan gadis itu seolah dia adalah bagian dari hidupmu. Dari pengamatan ini, bagian mana yang nggak drama?” papar Ronald dengan menahan geram.
Assad menatap Ronald dengan takjub.
“Oh ya, terlihat begitukah aku?” celetuk Assad dengan heran, Ronald terhenyak melihat itu.
“Em, aku juga nggak tahu kenapa aku begitu,” kilah Assad dengan tenang.
“Ah! Itu jawaban yang paling menyebalkan yang pernah kudengar, tahu?” seru Ronald kesal.
“Padahal ada keinginan untuk melenyapkan gadis itu dalam setiap kesempatan. Apa perbuatan yang terlihat seperti drama di mata Ronald itu hanya untuk membuka peluang untuk melenyapkan gadis itu sendiri?” batin Assad, tapi sesaat kemudian kepalanya menggeleng dengan wajah yang masih terlihat tertegun.
“Tidak! Sepertinya tak begitu, keinginan itu masih ada, tapi sisi hati lain hati ini terus merasakan kesenangan ketika berada di samping gadis itu, ingin melindungi dan membuatnya terus tetap aman. Ah ... aku pun nggak ngerti bagaimana ini terjadi,” lanjut batin Assad sambil kembali menggeleng.
Ronald yang melihat tingkah Assad yang lain dari biasanya itu, kemudian mencondongkan kepala mendekat ke arah Assad.
“Hei! Apa yang Kau geleng-gelengkan?” tanya Ronald dengan ekspresi penasaran tingkat tinggi.
“Hah?” sahut Assad yang baru menyadari keberadaan orang dekatnya.
“Nggak papa,” lanjut Assad sambil mendorong wajah Ronald menjauh dari wajahnya.
“Istirahatlah ... hari ini pasti lelah sekali, ketemu lagi besok,” saran Assad sambil bergegas meninggalkan Ronald menuju ke kamarnya. Ronald hanya bisa menendang-nendang ruang kosong untuk melampiaskan kekesalannya melihat itu.
Matahari menyembul di ufuk timur, tingkah rutin pijar panas bola raksasa itu membuat langit seluruh jagad raya terang. Harra terbangun dan menggeliat dengan merentangkan kedua tangannya.
“Heh!” serunya, seketika kedua tangan itu terhenti di udara. Kepalanya bergerak miring ke samping.
“Gimana semalam aku pulang?” tanya gadis itu dalam hati. Pandangan matanya bergerak turun dengan kedua tangan masih teracung ke atas.
“Ini masih pakaian semalam,” lanjut batin Harra, keningnya mengernyit.
“Kok aku nggak ingat bagaimana semalam aku sampai di kamar ini,” sambungnya kemudian, kali ini kedua tangannya dengan pelan-pelan turun.
Tangan Harra mengangkat-angkat selimut yang kini menutup pinggangnya dengan lipatan bertumpuk tak teratur. Kemudian pandangan matanya memperhatikan seluruh permukaan ranjang yang seluruhnya tertutup selimut. Tak ada kesan selimut itu ditarik paksa atau dipakai dengan terburu-buru, itu artinya semalam selimut ini ditarik dengan prosedur normal. Kepalanya menggeleng dan keningnya masih mengernyit karena tak mengingat melakukan gerakan normal tarik selimut itu.
“Ah ...,” desah Harra pelan sambil beranjak dan bergegas menuju kamar mandi. Sistem mandi bebek diterapkan dan dalam beberapa menit gadis itu sudah berganti baju dan keluar kamar.
Harra memperhatikan sistem pengunci otomatis yang disetel di pintu kamar itu.
“Wow!” seru gadis itu ketika menekan handle dan langsung terdengar bunyi klik. Gerak handle pintu dari dalam akan menonaktifkan sistem pengunci pintu yang diaktifkan dari luar ruangan. Gadis itu mengamati daun pintu untuk mencari tahu sistem pengunci itu.
“Hah!” seru Harra terkejut ketika hampir menabrak seorang pegawai laki-laki yang seolah pohon yang ditanam di depan pintu.
“Sejak kapan berada di sini?” tanya Harra dengan ekspresi ingin tahu yang jelas.
“Tadi malam, Nona. Silahkan ke meja makan ...,” jawab pegawai laki-laki itu sambil bergeser dan memberikan jalan untuk gadis itu. Harra melongo mendengar jawaban pegawai laki-laki itu. Gadis itu segera bergegas untuk menutupi keterkejutannya.
Harra tertegun.
“Itu penjagaan atau penyekapan? Pintu dikunci dari luar, aku yakin pintu itu juga bisa disetting untuk tak bisa dibuka dari dalam, dan pengawal itu ...?” batin Harra sambil berjalan. Pengamatan Harra terhenti ketika melihat meja makan yang terletak tak jauh dari sofa dengan bentuk huruf L itu telah terisi dua orang laki-laki penghuni rumah mewah ini. Ruangan yang didesain dengan tema semi terbuka ini memang menjadi mood booster yang baik. Tapi, begitu kaki Harra sampai di dekat meja makan itu, pandangan-pandangan tak suka yang diarahkan padanya membuat mood booster itu berubah jadi mood disaster.
“Em ... sepertinya aku bisa sarapan di luar,” ucap Harra setelah menatap dua laki-laki yang menatapnya dengan tak suka.
“Kamu nggak akan kemana-mana sebelum sarapan di sini, Harra.” Suara yang kini amat dikenalnya terdengar dari belakang.