Zica

1072 Kata
“Jangan teralihkan dengan penampilan, kata manis, perhatian, pujian atau semua hal yang disukai jiwa manusia. Lihatlah dengan mata hati karena mata hati bisa menembus semua kepalsuan yang diutarakan watak manusia. Perhatikan dengan baik sesuatu yang mungkin manusia itu lupakan, karena sesuatu yang palsu biasa tak akan bertahan lama. Kadang mereka tak menyadarinya, bahwa ketika mereka berusaha menutupi, sejatinya mereka sedang mengungkapkan apa yang sedang mereka tutupi itu.” Harra mengetukkan kepala bagian belakang berulang-ulang ke sandaran kursi yang empuk. “Apa artinya aku harus tetap mencurigai artis cantik itu?” lanjut Harra dalam benak. “Ahhh ... Senior, beneran aku butuh another insight untuk menganalisa kebuntuan ini,” batin Harra terus bergejolak. Masih dengan memejamkan mata dan terus mengetukkan bagian belakang kepala ke sandaran kursi yang empuk, Harra menjulurkan kaki, berusaha meredakan ketegangan. Masalah korporasi hitam belum dapat titik terang, ditambah serangkaian serangan mendadak. Dan yang paling memilukan, Senior sebagai teman bicaranya, mendadak melarang bertemu karena khawatir terjadi hal-hal yang telah diprediksi. Sepertinya ini terasa begitu berat bagi Harra yang seolah dibiarkan berjalan sendiri. “Agh!” seru Harra terkejut ketika bagian kepalanya membentur sebuah telapak tangan. Seketika matanya terbuka. “Berapa lama biasanya Kamu membenturkan kepala seperti ini?” ucap Assad seraya menatap Harra dengan lembut. Gadis itu menatap laki-laki itu dengan tatapan kosong, sementara dalam pikirannya terbersit satu pernyataan, “ Kenapa harus mengatakan sebuah kalimat panjang yang susah dilaksanakan sih, Senior ....”. Satu telapak tangan Assad yang lain membuat gerakan ke kanan dan ke kiri tepat beberapa centimeter di depan mata Harra. “Hihh!” seru Harra seraya bergeser dari tempat semula. “Apa proses berpikir seorang detektif muda perempuan seperti itu? Itu terlihat mengkhawatirkan. Em ... lebih mirip orang yang sedang frustasi daripada orang yang sedang berpikir,” komentar Assad sambil menurunkan kedua tangannya. “Khawatir? Kurasa itu bukan kata yang tepat. Kenapa harus khawatir? Nggak masuk akal,” sanggah Harra dengan wajah datar. Assad terkekeh, lalu kembali duduk ke posisi semula sambil sesekali menoleh untuk memperhatikan Harra. Beberapa saat kemudian Zica datang. Artis cantik itu sudah berganti baju, tapi tetap terlihat luar biasa penampilannya. “Nggak lama ‘kan? Terima kasih sudah menunggu,” ucap Zica membuka percakapan. Gadis cantik itu duduk di dekat Assad dengan anggun. Celah antara dua kursi itu cukup membuat Zica leluasa memandang Assad. “Nggak nyangka bisa ketemu dengan detektif muda yang sedang dibicarakan seluruh negri. Di tempatku sendiri lagi,” ujar Zica ketika pandangan matanya beralih ke arah Harra. Harra tersenyum mendengar itu. “Berarti kita merasakan hal yang sama, tak menyangka bisa bertemu dan melihat langsung kediaman artis top papan atas di negri ini,” balas Harra jujur. “Jangan menyanjungku setinggi itu, aku tak beda dengan artis-artis lain kok,” sahut Zica merendah. Assad mengembuskan napas penuh kelegaan mendengar percakapan antara dua gadis yang berada di kanan kirinya itu. Suasana seperti ketika Harra dan Melanie dalam satu tempat tak terjadi. Justru pertemuan ini digagas untuk menghindarkan hal-hal seperti itu. Assad terlihat duduk dengan santai, punggungnya bersandar dengan nyaman, kaki panjangnya bersilang, tangannya bersedekap sambil mendengarkan percakapan dua gadis itu. Zica menatap Harra dengan sorot mata tertarik yang tak disembunyikan. “Belakangan ini, berita di negara ini memuat semua kejadian yang Harra alami. Berita-berita itu menutup berita hiburan dari artis-artis sepertiku,” lanjut Zica sambil terus memperhatikan Harra. “Ah ... ya, dan itu membuat sebagian orang menjuluki aku sebagai si gadis bencana,” jawab Harra dengan tenang. “Oh ... jadi benar, karena itu dia membawamu ke rumahnya di pinggir danau itu? Apa benar begitu?” sambung Zica sambil sekilas melirik ke arah Assad. Sejenak Harra tertegun. “Ahh ... ternyata ini maksud dari pertemuan ini, ini seperti kejadian dengan gadis yang bernama Melanie itu, hanya saja beda versi. Klarifikasi ini bukan seperti p*********n ketika itu,” batin Harra sambil tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Zica. Harra beringsut sedikit memiringkan posisi duduk. “Sesungguhnya laki-laki di sebelahmu mengajukan syarat tambahan mendadak bagi tim penyidik yang kuikuti. Em ... tapi jika dia mengatakan itu karena alasan keamanan mungkin masuk akal juga, karena semalam ketika tidur di rumahnya di pinggir danau itu, serangan itu berhenti. Aku menduga pertimbangan lain menarikku ke kediamannya, karena menghindarkan korporasinya dari dituduh sebagai pelaku dibalik serangan beruntun itu,” papar Harra dengan gamblang. Penjelasan Harra terlihat memihak Assad, tapi sebenarnya gadis itu sedang menghindarkan hal negatif yang mungkin muncul dari artis ternama itu. Siapa tahu dibalik kelembutannya bisa jadi ada karakter yang tak jauh beda dengan Melanie. Assad berdehem pelan. “Tuh, dah dengar sendiri ‘kan alasannya kenapa? Jadi, jangan dengerin rumor yang beredar ...,” ucap Assad dengan tenang. Suara dering handphone menyela ucapan laki-laki itu. Kemudian dengan tenang ia mengangkat telepon sebagai isyarat untuk izin meninggalkan kedua gadis itu. Laki-laki itu menjauh dari tempat duduk itu dan mencari spot yang agak jauh. Zica mengikuti gerakan Assad dengan pandangan mata. Pandangan mata gadis itu berhenti ketika menyaksikan sosok Assad yang berdiri di dekat sebuah tiang dengan pahatan cantik berupa patung anak kecil yang memiliki sayap. Gadis itu kemudian menatap Harra sejenak, beranjak dan duduk di dekat detektif muda itu. Zica menatap Harra dengan pandangan penuh selidik. Setiap gurat wajah Harra yang cantik tak luput dari sapuan matanya. Artis cantik itu tersenyum lembut. “Apa benar Kamu sebelum ini nggak kenal dengan Assad?” tanya Zica lembut. Harra langsung menganggukkan kepala dan benaknya sibuk menerka apa maksud pertanyaan itu. “Oh ya?” seru Zica dengan nada tak percaya. Artis cantik dengan rambut panjang sepinggang yang terlihat hitam dan lembut berkilau itu memandang Harra dengan menyipitkan kedua matanya. “Kurasa nggak ada gunanya aku bohong di sini,” sahut Harra yang membaca raut wajah Zica. Artis dengan mata indah itu mengganti ekspresi wajahnya dengan senyum manis. Senyum Zica makin lebar melihat Harra yang berusaha meyakinkan jawabannya. “Aku nggak bermaksud menuduhmu bohong, Harra, maaf. Hanya saja ... aku merasa ... em ...,” ucap Zica tak terselesaikan. Gadis itu seolah kesulitan menemukan diksi untuk menggambarkan apa yang ada dalam pikirannya. Harra menatap mata cantik Zica dengan berusaha menebak apa yang ada dalam pikiran pemilik wajah cantik itu. Harra mengetuk-ngetukkan jari-jari di pahanya sendiri, berusaha menahan selapis kesabaran yang hendak pergi. Detik-detik merangkak pelan, walaupun menit belum berganti, tapi itu cukup membuat kesabaran Harra berontak. “Ya?” celetuk Harra menegaskan ketidaksabaran. “Aku merasa kalian berdua terlihat ... dekat,” lanjut Zica pada akhirnya. Harra terhenyak. “De-kat?” seru Harra sambil menunjuk dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN