Chapter 31

1636 Kata
"Aril!?" Gendhis agak kaget ketika yang mengangkat panggilannya adalah Ariella. Sebab, sudah lama dia tak mendengar suara Ariella. "Didi," panggil Ariella agak takut. "Ari, kamu sekarang di mana?" tanya Gendhis. Gendhis harus bertanya pada Ariella sebab dia tahu jika kepribadian yang mendiami tubuh sahabatnya itu berganti maka sang sahabat tidak akan mengingat kejadian yang dialami oleh kepribadian yang lebih dulu muncul. Ini biasa disebut seperti hilang memori. Ariella menatap ke arah luar kaca mobil, wajahnya terlihat takut, namun dia tak menyadari bahwa ada Naufal yang duduk di sampingnya. "Didi … aku … tidak tau …," jawab Lia kecil takut. Naufal melirik perlahan ke arah Ariella, dia terheran saat melihat bahwa tingkah dari adik sepupunya ini berubah. "Aril, jangan takut, ayo katakan kamu berada di dekat bangunan apa?" tanya Gendhis, dia berusaha untuk menenangkan Ariella, sementara itu dirinya juga agak takut sebab yang dia tahu Lia kecil memilih bepergian sendirian ke Sumba, jika itu Lia kecil maka Gendhis tak perlu khawatir sebab Lia kecil sangat perkasa dan kuat, sementara yang sedang berbicara dengannya melalui telepon ini adalah Ariella, sahabatnya yang pemalu dan penakut. "Ini … sepi," jawab Ariella. "Sepi? maksudmu di situ tidak ada orang?" tanya Gendhis. "Um, tidak ada orang … aku takut …," jawab Ariella. "Katakan lokasi yang spesifik, orang-orang akan segera melacak keberadaan lokasimu melalui hpmu," ujar Gendhis. "Aku … di dalam mobil seseorang," jawab Ariella. "Kamu naik mobil siapa?" tanya Gendhis. "Aku … tidak tahu," jawab Ariella. "Tidak tahu?" Gendhis mengesmbuskan napas susah. "Maksudnya Aril sudah muncul?" suara Bushra terdengar. "Mommy," panggil Ariella, dia terlihat sangat takut dan akan segera menangis. Dia tidak mengenali tempat ini, banyak semak-semak dan pepohonan di sepanjang jalan. "Ariella sayang? kamu di mana, Nak?!" tanya Bushra. "Mommy rindu kamu!" Bushra langsung menangis. "Mommy, Aril takut," cicit Ariella, dia menangis. Bodyguard melirik ke arah kaca depan mobil, dia bingung dengan perubahan gadis yang duduk bersama tuannya. Tadinya gadis itu sangat cuek dan dingin ketika duduk di samping majikannya, sekarang gadis itu bahkan terlihat takut dan lemah, bodyguard bingung. Saat lirikan bodyguard itu saling bertatapan dengan mata Ariella yang melihat ke arah depan, di situlah Ariella menangis ketakutan. "Mommy, Aril takut," cicit Ariella. Bodyguard buru-buru mengalihkan tatapan matanya ke arah jalan raya. Dia merasa agak bersalah karena telah membuat gadis itu menangis, namun dia tidak tahu harus berbuat apa. "Aril sayang, kamu di mana?!" Bushra makin panik setelah mendengar suara tangisan dari anak perempuan yang dirindukan olehnya. Tangan Naufal menyentuh pundak Ariella. "Adik Lia," panggil Naufal. Ariella bahkan hendak meringkuk di bawah kursi saat kaget bahwa ada seorang pria yang menyentuh pundaknya. "Mommy!" teriak Ariella ketakutan. "Aril sayang! Eric! Eric! cepat cari anak kita! Aril menangis! anak kita sudah muncul tapi dia nggak tau dimana dia sekarang!" Bushra hendak menangis. Naufal mendekat ke arah Ariella dan memegang pergelangan tangan Ariella. "Adik Lia, ini Kakak Opal." Ariella mendongak dan menatap mata Naufal. Ketika melihat itu adalah pria yang sudah lama ingin sekali ditemuinya dan pria yang dia kagumi, Ariella sesenggukan. "Kakak Opal, Aril takut …," cicit Ariella. Naufal menarik pelan Ariella duduk di kursi dan memeluk Ariella yang menangis. Sejujurnya dia amat bingung dengan perubahan ini. Namun, dia tidak banyak bertanya, sebab dari tatapan mata yang dipancarkan oleh adik sepupunya, itu terlihat bahwa adik sepupunya benar-benar ketakutan. Sang adik sepupu tampak seperti gadis yang lemah yang butuh perlindungan dari seseorang yang kuat. "Jangan menangis, Kakak Opal ada di sini," bujuk Naufal. Tangan Naufal tanpa sadar mengusap punggung Ariella. Sementara itu Ariella terus menangis sambil memasukan wajahnya ke ceruk leher Naufal. "Kakak Opal … ini di mana?" tanya Ariella. "Kami berada di dalam mobil, sebentar lagi akan ke resort, bukankah kamu akan menghadiri acara resepsi pernikahan Didi?" jawab Naufal. "Didi menikah?" Ariella bingung. Naufal bahkan lebih bingung lagi. Dia berpikir tidak mungkin adik sepupunya itu tidak tahu perihal menikahnya salah satu sepupu mereka–Gendhis. Bukankah dia sempat berbicara dengan adik sepupunya bahwa mereka akan ke acara resepsi pernikahan Ghendis? Sementara itu suara Bushra terdengar. "Itu Opal, ada Opal di dekat Aril! Opal sayang, tolong jaga Aril, Nak! tolong jaga anak Tante! jangan biarkan Aril jauh-jauh dari kamu!" Bushra berusaha untuk memberi pesan lisan pada Naufal. Naufal mengambil alih telepon yang dipegang oleh Ariella, sementara itu tangannya yang lain tetap mengusap punggung Ariella yang berada dalam pelukannya. "Halo, apakah ini Tante Sira?" tanya Naufal. "Iya sayang, ini Tante," jawab Bushra. "Opal, Aril di dekat kamu, kan?" tanya Bushra. Meskipun dia telah mendengar jelas suara Naufal, namun Bushra ingin memastikan sekali lagi bahwa anak perempuan benar-benar berada di tangan Naufal, dengan begitu dia dapat lega sebab Naufal bukanlah orang lain. "Ya, dia sedang menangis," jawab Naufal. "Opal, tolong jaga Aril, bawa dia bersamu ke resortmu yah, Tante tunggu di sini, tolong jangan jauh-jauh dari Aril, tolong!" Bushra memohon pada Naufal melalui telepon. "Baik, Opal nggak jauh-jauh dari Aril," balas Naufal. Bagaimana dia bisa menjauh dari Ariella sementara Ariella saja sedang menangis ketakutan dalam pelukannya. "Baik, Tante percaya kamu, kamu dalam perjalanan ke sini?" tanya Bushra. "Ya, Tante. Kebetulan Opal dan Lia bertemu di bandara," jawab Naufal. "Oh, syukurlah." Bushra menarik napas lega. "Opal, Tante tunggu kalian di sini," ujar Bushra. "Baik," sahut Naufal. Panggilan diakhiri. Naufal melirik ke arah orang yang berada dalam pelukannya. "Adik Lia jangan menangis," bujuk Naufal. Suara balasan dari Ariella terdengar. "Kakak Opal … ini Aril." Wajah Naufal terlihat agak bingung. Namun, dia membangguk saja. "Ya, Aril. Um … jangan menangis, nggak ada yang akan menyakiti kamu di sini, ada Kakak Opal di sini." Setelah mendengar kata-kata mujarab dari mulut Naufal, seketika Ariella patuh, dia tidak lagi menangis. Ariella mengangguk. "Um, Aril tidak menangis lagi, ada Kakak Opal di sini," ujar Ariella pelan. Ariella melepaskan pelukannya, dia terlihat agak malu karena dengan lancang memeluk Naufal tanpa permisi. Ariella menunduk malu. "Kakak Opal … maaf." Naufal menatap wajah Ariella yang menunduk. "Untuk apa?" tanyanya pada Ariella. "Aril … um … peluk Kakak Opal," jawab Ariella. Ariella masih menunduk malu, dia memainkan jari-jari tangannya. Tatapan mata Naufal terlihat intens, entah mengapa dia merasa bahwa sesuatu baru saja berubah, tapi dia tak tahu apa itu. Sepupunya ini terlihat takut dan malu, bahkan terlihat rapuh di matanya. Apalagi ketika Naufal melihat air mata yang turun membasahi pipi Ariella. Ada sesuatu aneh yang dia rasakan, namun dia tak tahu apa itu. "Nggak perlu minta maaf," ujar Naufal. Ariella mengangguk patuh, namun pipinya masih basah karena air mata. Tangan kiri Naufal secara tak sadar terangkat lalu ibu jarinya mengusap pipi kanan Ariella yang basah. Seketika Ariella mendongak dan matanya yang penuh air mata saling bertatapan dengan mata Naufal. Tatapan itu agak lama sekitar sepuluh menit. Naufal membeku sesaat saat menatap mata milik Ariella. Naufal tersadar dari apa yang telah dia lakukan, dia hendak menarik kembali tangannya agar menjauh dari pipi Ariella, namun saat melihat bahwa pipi kiri Ariella masih basah, dia mengurungkan niat dan kembali mengusap pipi kiri Ariella agar jejak air mata yang turun membasahi pipi adik sepupunya itu menghilang. Tatapan rapuh dari Ariella berubah menjadi tatapan penuh takjub pada Naufal. Selain keberanian Naufal telah tertanam dalam ingatannya saat melawan para penjahat tujuh belas tahun yang lalu, sekarang dia benar-benar jatuh hati pada kelembutan Naufal yang memperlakukan dia secara lembut. Blush! Dua pipi Ariella memerah tersipu malu. Dia benar-benar menyukai pemuda di depannya. "Jangan menangis, ada aku di sini," ujar Naufal. Ariella mengangguk. "Um, jangan menangis, ada Kakak Opal di sini." Ariella sangat menyukai mengulangi ucapan yang keluar dari mulut Naufal. Jadilah Ariella tak lagi menangis, dia benar-benar bahagia sekarang. Ariella tersenyum, namun dia malah cepat-cepat menunduk malu karena takut ketahuan Naufal. Naufal tersenyum, lagi-lagi tangannya secara tak sadar mengusap kepala Ariella. Bodyguard yang sedang menyetir, "...." benar-benar bingung dengan situasi ini, dia sama sekali tak mengerti apa yang terjadi. Hal ini cukup rumit dia tidak ingin berpikir lebih mengenai hal ini, bukan hal bijak mencampuri urusan majikan. Hal ini juga berlaku pada Naufal, dia juga tidak mengerti perubahan ini. Namun, dia merasa nyaman-nyaman saja. Kryuuk kruyuk! Bunyi yang berasal dari perut Ariella. "Adik Aril ingin makan sesuatu?" tanya Naufal. Dia mengerti bunyi perut keroncongan itu adalah suara panggilan perut ketika perut lapar. Ariella mengangguk. "Um, aku … lapar," jawab Ariella. "Baiklah, ayo kita makan," ajak Naufal. "Um, makan," sahut Ariella sambil mengangguk. Hati Ariella begitu senang setelah mendengar ajakan makan dari pria yang dikaguminya. "Adik Aril ingin makan apa?" tanya Naufal. Ariella mendongak menatap wajah Naufal. "Aku ingin makan Beef bourguignon dan Croissant," jawab Ariella, aksen bicaranya terdengar original Perancis. Naufal tidak lagi kaget sebab dia sendiri tahu bahwa ayah dari sepupunya ini adalah warga Perancis. "Um … kira-kira berapa lama kita akan sampai ke restoran Perancis?" tanya Naufal pada bodyguard yang sedang menyetir. Bodyguard melirik layar ponsel yang ditempelkan di depan kemudi. Dia melihat jarak tempuh dari tempat mereka sekarang berada ke restoran Perancis terdekat. "Tuan, empat kilometer lagi kami akan sampai ke restoran Perancis terdekat," jawab bodyguard. Naufal mengangguk mengerti, dia menoleh ke arah kiri dan bertanya pada Ariella. "Apakah Adik Aril bisa bertahan hingga empat kilometer perjalanan? itu nggak lama kok, hanya sekitar setengah jam." Ariella mengangguk. "Bisa … dengarkan Kakak Opal, empat kilometer um … hanya tiga puluh menit … itu … tidak lama." Naufal tersenyum. Lagi-lagi telapak tangannya secara tak sadar mengusap kepala Ariella. Selama perjalanan yang ditempuh selama tiga puluh menit, Ariella terus menunduk diam, Naufal sering melirik ke arah samping kiri, entah mengapa dia terus memeriksa apakah adik sepupunya itu nyaman ataukah tidak. Kryuuuk kryuuuuk! Bunyi itu datang lagi dari perut Ariella. Ariella makin menundukan kepalanya, dia merasa agak malu ketika bunyi keroncongan yang berasal dari perutnya terdengar sangat keras di dalam mobil. Naufal melirik jam tangan. "Adik Aril, lima menit lagi kita akan sampai ke restoran Perancis," ujar Naufal. Ariella mengangguk, dia mengulangi ucapan Naufal. "Um … lima menit lagi sampai." Naufal tersenyum, lagi dan lagi tangannya secara tak sadar terulur mengusap kepala Ariella. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN