Hari berjalan dan terus berjalan, sebelum Naufal melanjutkan studi ke Cambridge, dia dan Aini mengunjungi Spanyol, di sana Adelio sangat senang menyambut kedatangan dua saudara kandungnya.
"Semua sudut rumah harus bersih! jika tidak bersih, kepala kalian taruhannya!" perintah Adelio dingin. Remaja usia dua belas tahun ini sangat tegas dan tidak memandang bulu dalam menghukum orang.
Para pelayan menggigil ketakutan. Ancaman dari Tuan Ruiz ini benar-benar bukan bualan belaka, namun ini akan menjadi kenyataan jika mereka tidak mematuhi perintah ini.
"Jangan sampai Adikku bersin karena debu di sini," ujar Adelio dingin.
"Baik, Tuan," sahut semua pelayan. Mereka menunduk takut.
(Percakapan antara Adelio dan para pelayan dianggap dalam bahasa Spanyol.)
Adelio melirik ke arah ketua keamanan Ruiz.
"Siapkan mobil dan pengawal ke bandara, aku akan menjemput dua saudaraku!" perintah Adelio.
"Baik, Tuan." Ketua keamanan Ruiz mengangguk patuh. Dia sudah dari dulu diajarkan untuk patuh pada penguasa Ruiz. Yang mengajarinya adalah Silvio, yang adalah ayah kandung dari Ben. Silvio sebelum meninggal satu tahun yang lalu, dia mengajarkan banyak hal pada Adelio, termasuk sifat kejam keluarga Ruiz. Ini dilakukan Silvio agar nanti jika ia telah tiada, sang cucu laki-laki dapat melindungi sendiri dirinya dan mempertahankan posisi penguasa Ruiz.
Wajah Adelio hari ini terlihat tidak terlalu dingin pada orang-orang, sebab dua saudaranya akan datang menemuinya. Sangat jarang mereka dapat bertemu.
*
"Bro!" Aini berlari menghampiri Adelio.
Adelio menggendong adik perempuannya. Adik ini sungguh cantik, juga penyayang.
"Apakah kau lapar?" tanya Adelio penuh perhatian.
Aini mengangguk.
"Apakah ada makanan?" tanya Aini.
"Tentu," jawab Adelio.
Naufal mendekat ke arah dua adiknya.
"Bro, aku tidak terlalu suka makanan di pesawat, aku ingin segera ke rumah dan istirahat," ujar Naufal.
Adelio mengangguk.
Di rumah telah siap makanan untuk Aini dan Naufal, tentu saja Adelio yang memerintahkan para juru masak agar memasak makanan yang seenak mungkin.
Selama beberapa saat perjalanan pulang dari bandara ke rumah Ruiz di Madrid, mereka tiba di rumah utama itu.
Mobil dibuka oleh seorang pengawal laki-laki.
Adelio turun dari mobil sambil menggenggam tangan Aini.
Aini menatap rumah utama Ruiz. Ini adalah rumah milik kakek buyutnya, rumah ini sangat jarang sekali Adelio berada di situ, sebab rumah tua berada di Cordoba dimana di sanalah pusat perkebunan anggur milik keluarga Ruiz berada.
"Selamat datang, Nona, Tuan!" sapa para pelayan.
Aini tersenyum ke arah para pelayan.
"Hola, gracias," balas Aini.
Para pelayan mengangguk. Adik kandung dari tuan mereka bisa mengerti dan berbicara bahasa Spanyol, sungguh luar biasa. Ah, mereka hampir lupa, nona cantik yang sedang menyapa mereka itu adalah berdarah Ruiz.
Adelio berkata pada Aini. "Aini, bukankah kamu lapar?"
Aini mengangguk.
"Ya, aku sangat lapar, Beo." Wajah Aini terlihat memelas sambil mengusap perutnya.
Melihat wajah memelas sang adik perempuan, wajah Adelio berubah iba. Dia membawa sang adik ke ruang makan.
Para pelayan melihat raut wajah Adelio yang terlihat amat sayang pada nona kecil itu, mereka tahu, meskipun tuan mereka sangat kaya, namun agak kesepian di rumah yang besar ini, sebab semua keluarga dari garis keturunan Ruiz di Spanyol telah lenyap hanya menyisakan keluarga Ruiz dari Ben. Namun, Ben terikat perjanjian dan dia tetap menjadi warga negara Indonesia, hanya Adelio lah satu-satu Ruiz yang berwarga negara Spanyol mengikuti jejak sang kakek dari garis keturunan ayahnya. Mau bagaimana lagi, Ruiz krisis garis keturunan, Silvio memohon pada Randra agar memberikan satu anak Ben dan Popy agar menjadi penerusnya, jadi Adelio sekarang besar dalam asuhan Silvio.
Dari belakang Naufal mengikuti. Dia mengangguk pelan sebagai tanda membalas sapaan para pelayan Ruiz.
Para pelayan Ruiz tidak henti-hentinya ingin melihat wajah Naufal lebih lama, sebab meskipun Naufal dan tuan mereka adalah sekandung dan seayah, namun wajah mereka sangat berbeda. Saudara laki-laki dari tuan mereka memiliki ciri wajah oriental Indonesia, yang mana tidak seperti tuan mereka yang memiliki ciri wajah Eropa. Ditambah lagi Naufal telah dewasa membuat gadis-gadis pelayan tersenyum tergila-gila padanya.
Hari demi hari terus berjalan, Adelio mengajak dua saudaranya mengunjungi kebun anggur yang berada di Cordoba. Di Cordoba ada rumah tua Ruiz, rumah ini yang dulu ditinggali oleh Ben dan orangtuanya.
Meskipun belum musim panen anggur, namun Aini tetap bersemangat mengelilingi perkebunan itu. Selain mengunjungi kebun anggur, Adelio mengajak dua saudaranya ke peternakan kuda dan sapi. Tiga saudara memakai topi payung dan sepatu boot. Mereka sangat senang mengambil s**u sapi segar yang diperah langsung di induk sapi.
Hari-hari di Cordoba dihabiskan dengan jalan-jalan dan berwisata. Adelio juga memperkenalkan makanan khas Spanyol, dia membayar mahal chef untuk membuat makanan enak pada dua saudaranya.
Naufal merasa sangat tenang mengunjungi tempat asal usul dari keluarga ayahnya. Meskipun dulu dia pernah ke Madrid karena kakek dan nenek dari pihak ayah meninggal, namun dia tak mempunyai waktu untuk berwisata, saat itu situasi berbeda.
"Bro, restoran ini indah," ujar Aini.
Adelio tersenyum.
"Seringlah main ke sini, Bro Adel akan mengajakmu jalan-jalan," balas Adelio.
"Apakah Kakek Ran mengizinkan?" tanya Aini. "Papa Ben selalu khawatir dan menolak Aini ke sini. Katanya di sini tak aman."
Adelio mengusap sayang rambut adiknya.
"Kakek Ran pasti mengizinkan. Tidak perlu takut, ada Bro Adel di sini yang akan menjagamu," balas Adelio.
Aini mengangguk.
"Ah, apakah di sini ada panti asuhan?" tanyanya penasaran.
Adelio mengangguk.
"Tentu saja ada," jawab Adelio.
"Jika begitu, maukah kau mendengarkan aku ke sana?" tanya Aini.
Adelio dengan senang hati mengangguk setuju.
"Baik. Mari kita ke panti asuhan."
Satu hari jadwal tiga saudara kandung itu adalah mengunjungi panti asuhan.
*
Setelah dua minggu berlibur di Spanyol, Naufal dan Aini kembali ke Jakarta. Namun, dia hanya punya waktu dua hari untuk bersama keluarga sebab dia akan pergi lagi ke Cambridge untuk melanjutkan kuliahnya.
Randra mengusap sayang kepala Naufal.
"Pulanglah jika ada waktu libur, Kakek Ran akan selalu menelepon kamu dan menanyakan kabarmu seminggu sekali," ujar Randra.
Naufal mengangguk.
"Ok, Kek."
Ben menarik koper pakaian sang anak. Untuk terakhir kali ini dia ingin menjadi bapak rumah tangga karena sang anak akan melanjutkan studinya.
"Sayang, jangan makan telat, Mama Poko akan kirim uang makan secara berkala," ujar Popy.
"Ma, rekening Opal udah terlalu banyak duit, mending simpan saja deh buat masa depan," balas Naufal.
Popy terkekeh, dia mencubit gemas pipi Naufal.
"Bro, hati-hati di jalan," ujar Aini.
Naufal berjongkok di depan Aini dan mencubit gemas hidung mancung adiknya.
"Siap, Nona manis," balas Naufal.
"Bro, jangan lupa telepon Aini," ujar Aini, matanya agak memerah saat tahu bahwa sang kakak akan pergi jauh untuk sekolah.
Naufal mengangguk.
"Itu sudah pasti," balas Naufal.
Naufal tak sanggup meninggalkan adik perempuannya, namun apa daya, dia telah memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri.
Naufal mengecup kening sang adik lalu berdiri, kemudian dia mencium punggung tangan Randra. Dia berjalan keluar rumah dan menunggu sang ayah yang sedang memasukan koper ke bagasi mobil.
Popy dan Ben memilih untuk mengantarkan anak mereka ke bandara, sementara itu Aini tetap tinggal di rumah karena selama pulang dari perjalanan jauh dua hari yang lalu kondisi tubuhnya tidak terlalu baik.
"Selalu berhati-hati, jika kamu dalam masalah mendesak, orang-orang Ruiz akan membantu," ujar Ben.
Sang anak sudah memegang kopernya, siap untuk menaiki pesawat. Naufal mencium punggung tangan ayah dan ibunya.
Naufal mengangguk.
"Pa, Ma, Opal pergi, Assalamualaikum."
"Waalaikumusalam," balas Ben dan Popy.
Naufal menarik kopernya dan menjauh dari orangtuanya, Ben dan Popy memandangi anak mereka hingga tubuh anak mereka tidak lagi terlihat.
*
Hari demi hari berjalan.
Setahun setelah Lia kecil masuk akademi militer, Davin berpulang ke pangkuan Ilahi pada usianya yang ke-89 tahun. Keluarga Farikin benar-benar berduka, siapa yang tahu bahwa kedatangan Lia kecil waktu itu adalah terakhir kalinya bagi Davin.
Setiap dua minggu sekali, Lia kecil akan ditelepon oleh keluarganya. Di mana Bushra selalu menanyakan kabar Lia kecil, namun sesungguhnya dia hanya ingin mengetahui kabar Ariella. Betapa tidak beruntungnya Bushra pada satu tahun pertama karena dia gagal berbicara dengan Ariella.
Busran terus memantau cucu perempuannya meskipun mereka terpisah jarak dan kota. Gea meminta bantuan dari keponakannya yang adalah seorang Baqi, keponakannya adalah salah satu petinggi militer angkatan darat. Sesungguhnya, Gea memiliki banyak koneksi yang terhubung ke akademi militer melalui sanak saudara Baqi.
Dalam proses belajar yang dilalui oleh Lia kecil, Ariella pernah bangun, namun dia malah ketakutan dan linglung sebab dia tidak tahu kenapa telah berada di tempat asing. Beberapa kali dia menangis sedih di kamar mandi hingga orang suruhan Baqi menjemputnya ke klinik kesehatan untuk menenangkan Ariella. Dari situlah kerabat Baqi memberi tahu Bushra dan Gea bahwa Ariella telah muncul, dengan begitu mereka dapat lega berbicara dengan Ariella, menenangkan gadis manis itu yang tak tahu apa-apa. Rahasia ini ditutup rapat dari dunia militer, hanya petinggi militer Baqi yang mengetahui ini dan mereka memilih tutup mulut, sebab apa yang terjadi pada Ariella itu tidak dapat diterima di dunia militer, yang mana psikologi terganggu.
Namun, kepribadian Areilla tak bertahan lama, dia kembali dikuasi oleh Lia kecil. Lia kecil mulai mengklaim tubuh Ariella dan menekan kepribadian asli itu. Semakin hari Lia kecil semakin dingin dan galak. Saat latihan fisik, orang-orang akan menatap penuh kagum padanya, dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Namun, jika di malam hari ada kalanya Ariella akan berusaha muncul, dia akan terus menangis sedih.
Sementara itu Naufal dengan santai mengikuti perkuliahannya. Berbeda dengan Lia kecil yang memilih tidak pulang ke rumahnya, Naufal malah pulang ke rumah. Setiap liburan dari berbagai musim di Amerika, dia akan selalu kembali ke Jakarta dan menghabiskan waktu dengan keluarganya.
Tak disangka, waktu dua tahun telah berlalu.
Kini Naufal resmi menambahkan gelar MBA-nya di belakang namanya. Randra, Ben, Popy dan Aini terbang ke Cambridge untuk menghadiri wisuda Naufal.
Setelah beberapa hari di Cambridge, keluarga kecil itu kembali ke Jakarta. Mereka akan mengadakan acara keluarga yaitu berlibur bersama di sebuah resort milik Basri di kepulauan seribu.
Dalam liburan keluarga ini, Adelio juga hadir. Cukup lama dia tak berkumpul bersama keluarga, terakhir dia berkumpul dengan keluarganya yaitu ketika Naufal dan Aini ke Spanyol. Adelio yang adalah satu-satunya pemilik aset Ruiz itu terlalu sibuk mengurus pekerjaan yang dibebankan padanya sehingga dia tak seperti anak remaja yang lainnya. Di saat anak seusia dia menikmati masa remaja yang bebas, Adelio harus menunaikan kewajiban dan tanggung jawabnya.
Wajah Adelio tetap terlihat daftar dan dingin, kecuali jika dia sedang bersama keluarganya.
Foto keluarga diambil dengan penuh senyum hangat.
*