"Tidak ada napas …."
Mata Ariella terbelalak. Dia terlihat begitu kebingungan entah harus apa yang dia lakukan. Ini adalah hal baru baginya, hal yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya.
Ariella berdiri agak lama memandangi kakek dan nenek buyutnya dengan tubuh menahan getaran ketakutan yang entah berasal dari mana.
"Kakek … Nenek …," panggil Ariella dengan suara bergetar.
Seolah tidak yakin dengan percobaan pertama, Ariella kembali mendekatkan tangannya ke arah lubang hidung kakeknya.
Tubuh Ariella bergetar takut bercampur kebingungan. Ariella terlihat linglung sesaat.
Saat dalam kebingungan, dia melirik ke arah luar kamar, sisi kanan lantai satu.
Ariella berlari keluar kamar kakek dan nenek buyutnya dengan wajah pucat pasi penuh dengan ketakutan.
Dia berlari sepanjang lantai satu dan berhenti di sebuah pintu kamar dengan miniatur bergambar bola ditempelkan di daun pintu, itu pasti adalah kamar dari seorang anak laki-laki.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Dia mengetuk pintu kamar itu berulang kali, tidak ada jeda dalam ketukan Ariella.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Beberapa pelayan yang sedang bekerja menghentikan aktivitas mereka. Ketukan pintu keras yang dilakukan oleh Ariella menarik perhatian para pekerja di dalam rumah.
Mereka melirik ke arah Ariella, ada yang bertanya-tanya heran di dalam hati, ada apa hingga nona muda mereka mengetuk pintu kamar tuan kecil Nabhan dengan kasar dan keras seperti itu.
Tok tok tok!
Pintu dibuka oleh Naufal.
Waah Naufal kentara sekali terbangun karena kaget dari ketukan pintu kamar yang tiada henti, begitu juga dengan Anas.
Naufal bahkan tak sempat membetulkan penampilannya yang acak-acakan khas bangun tidur. Meskipun begitu matanya tetap melek karena kerasnya ketukan di pintu kamar.
Anas ikut bangun dan turun dari ranjang.
"Adik Aril-" suara Naufal tertahan.
Tangan Ariella terasa dingin dan berkeringat saat menarik Naufal keluar kamar dan berlari membawanya ke dalam kamar yang Naufal ketahui adalah kamar milik Agri dan Lia. Naufal bahkan tak sempat melanjutkan perkataannya karena Ariella lebih dulu menariknya berlari.
"Ada apa?" tanya Naufal saat memasuki kamar.
Ariella mendadak bisu, dia tidak bisa lagi bicara, suaranya seakan tidak ada, dia hanya menunjuk ke arah kakek dan nenek buyutnya.
Naufal menengok ke arah Agri dan Lia, tatapan mata Naufal terlihat serius, detak jantung Naufal berdetak agak kencang. Tiba-tiba dia seperti merasakan sebuah firasat buruk yang datang menghampirinya.
Ariella seperti orang yang tidak lagi bisa berbuat apapun, mata putih dan hitamnya beberapa kali berganti-ganti seakan ada sesuatu yang hendak keluar menunjukan dirinya. Tubuh gadis itu bergetar menahan gejolak perang batin di dalam tubuh.
Dalam perjuangan Ariella melawan dirinya sendiri, Naufal mendekat ke arah Agri dan Lia. Tangannya mendekat ke arah lubang pernapasan Lia, lalu ke arah Agri.
Pemuda ini tidaklah bodoh, dia tahu apa yang harus di periksa.
Telapak tangan Naufal merasakan betapa dinginnya wajah Agri. Tangan Naufal berganti merasakan nadi dari Agri yang sedang memeluk Lia, begitu pula sebaliknya. Wajah Naufal berubah agak pucat, detak jantungnya berdetak kencang, dia tidak menyangka bahwa dia adalah orang pertama yang mengkonfirmasi kematian pasangan tertua Nabhan, pada saat itu kalimat yang diucapkan oleh Naufa bertepatan dengan munculnya tatapan tajam Ariella dan suara teriakan terdengar.
"Innalillahi wainnailaihi roji'un."
"Kakek Agri! Nenek Lia!"
Naufal terperangah, dia kaget atas jeritan keras Ariella.
Pada saat Naufal berbalik, dia melihat tatapan yang begitu dingin. Naufal merasa dia mengenali tatapan dingin ini tapi ini terlalu cepat. Tatapan mata itu sama sekali tidak bersahabat dengan siapapun pada saat ini.
Ariella menarik kasar Naufal mundur hingga pemuda itu hampir terjungkal ke belakang.
"Tidak! tidak! tidak mungkiiiiiiin!" jeritan keras ini membuat para pelayan dengan cepat berlari memasuki pintu kamar Tuan Besar Nabhan yang telah terbuka sebelumnya.
"Aaaaaa! aaaaa! aaaaa!" Ariella menjambak kasar rambutnya, dia menjerit-jerit tak karuan di depan tubuh kakek dan nenek buyutnya yang telah kaku.
Ya, kaku.
Kakek dan nenek buyutnya telah pergi untuk selamanya.
Para pelayan gemetar saat mendekat.
Bahkan kaki kepala pelayan lembut bagaikan jeli hinggi terduduk di lantai.
"Tuan Besar …," ucap kepala pelayan.
"Aaa! aaa! aaa! tidak! tidak!"
"Kakek Agri! Nenek Lia! tidak!"
Ariella menangis histeris.
Naufal berkata dengan nada lantang.
"Panggilan semua orang!"
Para pelayan yang mengintip di depan pintu kamar mengangguk. Mereka berlomba berlari memberi tahu semua anggota keluarga, ada yang tak mampu berlari karena terlalu syok dan terpukul, bahkan ada yang sudah menangis takut dan gemetar. Namun, mereka harus segera memberikan tahukan kabar ini pada semua anggota keluarga di rumah itu.
Di dalam kamar Farel.
Farel buru-buru turun dari ranjang, sementara itu Jihan Kamala keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat penuh dengan air, dia sedang membasuh wajahnya.
Pada saat Farel berusaha berjalan cepat menuju ke pusat tangisan dan jeritan keras, sang adik yang bernama Busran berlari kuat ke arah yang sama.
Saat itu seorang pelayan perempuan dengan tangisan gemetar berkata, "Tuan … Tuan Besar! Nyonya Besar di sana-"
Farel berusaha berlari, tidak dia pikirkan lagi kaki tuanya yang telah berusia 83 tahun itu. Tujuannya hanya satu, yaitu mencapai kamar orang tuanya.
Sesampainya di dalam kamar, Farel berusaha berlari cepat mendekat ke arah ranjang.
"Aaaa! aaa! aaa!" Ariella menangis keras.
Naufal berusaha menjauhkan Ariella dari tubuh kakek dan nenek buyutnya, namun perlawanan Ariella semakin kencang. Tujuan Naufal agak menjauhkan Ariella dari Agri dan Lia adalah untuk memberi ruang pada Busran dan yang lainnya.
Busran menangis saat merasakan wajah dingin sang ibu dengan telapak tangannya.
"Ibuuuuuuuu!" teriak Busran syok.
Busran terpukul.
Bruk!
Farel terjatuh saat berusaha mendekat ke arah ayahnya, Gaishan berlari kencang dan membantu sang paman berdiri lalu mendekatkan Farel ke arah kakeknya.
Tangan Farel gemetar saat merasakan wajah dingin sang ayah.
Pada saat itu, Rafi berlari masuk ke kamar, diikuti oleh istrinya.
Busran manahan tangis sambil memeluk dan cium wajah sang ibu.
Lutut Gea terasa lembut seperti jeli, dia tak mampu berdiri, dia bersandar di dinding kamar mertuanya.
Fathiyah membantu sang mertua agar tak jatuh terduduk di lantai.
Rafi mencium kaki ibunya sambil mengucapkan, "Innalillahi wainnailaihi roji'un … Ibu … Ayah …."
Seketika tangisan pecah di kamar itu.
Aqlam datang bersamaan dengan menggendong Anas, istrinya mengikuti dari belakang.
*
Kediaman Basri.
"Jadi Aini dan Opal tidur di rumah Nabhan?" tanya Randra.
Popy mengangguk.
"Iya, Ayah. Opal menelpon pada jam sepuluh malam, dia mengatakan Aini ingin tidur bersama Aril," jawab Popy.
Randra mengangguk mengerti.
"Biarkan. Ada Chana dan Aqlam di sana, Ayah tidak akan khawatir."
Popy mengangguk setuju, namun lain hal dengan Ben.
"Dari dulu, anak bungsuku selalu dibawa tidur di luar, aku merasa seperti tidak punya anak bungsu saja," keluh Ben.
Randra melirik ke arah menantunya.
"Kalau begitu kamu setuju Aini masuk kertu keluarga Alan."
"Tidak!" Ben langsung menolak mentah-mentah.
"Itu tidak mungkin! Aini benihku, dia adalah usaha terbaikku!" ujar Ben.
Popy terkekeh, begitu juga dengan Randra. Ya, tak dapat dipungkiri bahwa Aini adalah benih dari Ben. Usaha terakhir Ben memberikan adik pada anak-anaknya yang lain. Semua itu karena tuntutan Naufal.
"Ayah, aku tidak mau Alan mengambil Aini, bukankah Ayah juga setuju kan denganku?" tanya Ben.
Rambut Randra yang setengahnya telah memutih itu melirik lagi ke arah menantunya.
"Ayah tidak keberatan jika Aini nyaman dengan siapapun yang ingin dia tinggal dengan mereka."
Wajah Ben terlihat datar dan menelan ludah bak pil pahit.
"Hahahaha!" Popy tertawa.
Randra terkekeh setelah melihat perubahan wajah sang menantu.
"Ayah tidak ingin memaksa Aini, tidak baik kita memaksakan kehendak pada anak, Ayah tidak ingin kisah Bunda Momok terulang," ujar Randra.
Ben mengangguk pasrah.
Apa yang dikatakan oleh ayah mertuanya itu adalah benar. Tidak baik memaksakan kehendak orang tua pada anak mereka.
Bi Rima berjalan cepat mendekati ruang makan.
"Permisi, Tuan Randra, ada telepon dari Tuan Opal," ujar Bi Rima sambil memberikan telepon rumah ke arah Randra.
Randra meletakan sendok di sisi pinggir piring makan. Dia menerima telepon itu.
"Opal, ada sesuatu?" tanya Randra.
"Kakek Ran, Kakek Agri dan Nenek Lia baru saja meninggal dunia pada pagi ini," jawab Naufal dari seberang.
Randra diam selama beberapa detik.
Terdengar suara tangisan di seberang telepon, lalu suara cucu yang paling kecil terdengar.
"Bro, gendong! hu hu hu hu! Anas menangis, Kakak Chana juga menangis, Aini juga menangis!"
"Innalilahi wainnailaihi roji'un," ujar Randra.
Wajah Popy dan Ben terlihat serius, mereka memandang ke arah Randra.
"Kakek Ran, Papa dan Mama kamu akan ke sana, buat Aini nyaman, jangan sampai dia terus menangis," ujar Randra.
"Baik, Kek," sahut Naufal.
"Kakek Ran tutup teleponnya," ujar Randra.
"Ya," balas Naufal.
Panggilan ditutup oleh Randra.
Randra melihat ke arah Popy dan Ben.
"Tuan dan Nyonya Besar Nabhan baru saja meninggal dunia."
"Innalilahi wainnailaihi rojiun," ucap Ben dan Popy bersamaan.
*
Satu jam kemudian keluarga Randra tiba di rumah duka.
Aini berlari kencang membuka lebar tangannya ke arah sang ayah.
"Papa! Papa! Kakek Besar Anas meninggal, Nenek Besar Anas juga meninggal!" lapor Aini. Mata anak itu memerah, dia ingin agar segera di gendongan sang ayah.
Ben memeluk sayang anak bungsunya.
"Aini yang baik yah, jangan menangis."
Aini mengangguk sambil memeluk sang ayah. "Aini baik, Ayah. Tidak lagi menangis, Bro Opal bilang anak pintar tidak boleh menangis," balas Aini.
"Anak Papa Ben pintar," ujar Ben memuji Aini, dia mengusap sayang kepala sang anak yang berada di gendongannya.
Popy berjalan cepat ke arah dalam rumah.
Di dalam rumah, sudah dibuka ambal bulu agar keluarga yang datang melayat duduk di situ.
Bendera putih diikat di tiang pagar, kini tetangga telah diberi kabar mengenai meninggalnya pasangan tertua Nabhan.
Gaishan hampir berteriak kesal di depan ponselnya.
"Langsung terbang ke Semarang, kau tidak akan bisa bertemu jenazah Kakek dan Nenek besarmu jika kamu ke sini, langsung ke Semarang!"
"Tapi aku tidak tau rumah tua di sana, Pa," balas sang anak dari seberang.
"Makanya! kalau Papa suruh pergi menjenguk rumah di sana, kamu pergi! sudah begini baru kamu mau pergi!" Gaishan naik darah.
Telepon diambil oleh Fathiyah. Fathiyah melihat jika suaminya bertelepon dengan anaknya, bisa-bisa suaminya akan naik darah.
"Fatah, dengerin Mama. Pokoknya kamu pergi saja langsung ke rumah Tua Nabhan di Semarang. Nggak usah banyak tanya, tunggu Papa dan yang lainnya ke sana, Kakek dan Nenek besar kamu akan dimakamkan di sana, kami akan ke sana satu jam lagi setelah persiapan telah siap, nanti Mama kirimkan alamat rumah Tua di sana."
"Baik, Ma," sahut Fatah.
Dia dan ayahnya tidak pernah membantah ucapan sang ibu.
"Um, Mama tutup teleponnya, sibuk di sini. Assalamualaikum," tutup Fathiyah.
"Waalaikumusalam, Ma," balas Fatah.
Panggilan diakhiri.
Fathiyah mengembalikan ponsel ke tangan suaminya lalu berkata, "Masuk ke dalam, kamu dibutuhkan, Bang. Sebagai cucu laki-laki, kamu harus memindahkan jenazah Kakek nanti."
Gaishan mengangguk.
*
Davin jatuh di lantai saat melihat wajah tua yang telah memucat dari sang Bibi.
"Bibi Lia!" panggil Davin dengan suara tua bergetar.
Davin berusaha untuk meraih kembali tongkatnya agar bisa berdiri. Seorang pemuda tampan membantu Davin berdiri, dia adalah cucu laki-laki dari Davin.
"Ojan, ke sana! ke Bibiku!" perintah Davin.
Ojan yang dipanggil oleh Davin itu menuruti sang kakek.
Saat sampai di dalam kamar, para cucu lelaki dari Agri siap memindahkan jenazah dari kamar ke arah luar kamar agar orang yang datang melayat melihat jenazah dengan leluasa.
"Bibi Lia …," ucap Davin sambil menangis.
Dipandanginya wajah pucat sang bibi.
Davin menangis sambil memeluk bibinya.
"Bibiku Lia … Bibiku Lia …," ucap Davin.
"Aku besar di pangkuanmu … kenapa kau pergi duluan?" Davin menangis.
Farel menahan tangis, dia ingat bahwa sang ayah memberinya mereka pesan, jangan menangis bila mereka telah tiada.
"Bibiku Lia … mari kita pergi melihat tempat sampah baru di rumah Davin … ada tempat sampah bagus di sana …," ujar Davin.
Mendengar kata tempat sampah, Farel dan dua adiknya tak mampu menahan tangis.
Busran memeluk tempat sampah yang mana terukir namanya, dia yang memberikan tempat sampah itu pada ulang tahun keseratus dari sang ibu.
*