Masa orientasi sebentar lagi berakhir. Besok, adalah hari terakhir bagi para murid baru menggunakan seragam putih-biru mereka. Hari ini, Disa berhasil tiba di sekolah tepat waktu. Dengan atribut yang masih sama seperti kemarin, Disa membawa langkahnya memasuki ruang kelas yang sudah ia tempati sejak kemarin juga. Namun, tepat ketika ia menginjakkan kaki di ambang pintu, matanya terpaku pada satu objek yang ada di sudut sana. Ya, seorang lelaki yang menempati kursi pojok paling depan. Seorang lelaki yang memilih memalingkan pandangannya ke luar jendela daripada bercengkrama dengan teman di sebelahnya.
"Aduh!" Ringis Disa, ketika kakinya berhasil mencium meja kayu.
Saking tak bisa pandangannya berpaling, Disa sampai nyaris saja terjatuh karena tersandung meja.
"Hey! Sejak kapan lelaki itu berada di kelas kita?" Tanya Disa sambil meletakkan ranselnya di atas meja, kepada seorang gadis yang sudah menempati kursi yang berada tepat di sebelah kursi Disa.
Pun gadis itu menoleh, mengikuti kemana mata Disa memandang.
"Ah, Aksa?"
Mendengar nama itu lantas Disa langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias.
"Kau tidak tahu? Sejak kemarin juga dia sudah ada di sini, Disa!"
"Benarkah?"
Gadis di sebelahnya itu pun mengangguk. Sementara Disa sendiri, pandangannya masih belum juga enggan berpaling. Seketika kejadian kemarin kembali terulang dalam ingatannya. Saat Aksa dengan gagahnya membawa melangkah maju kala Disa harus dihukum sendirian. Bagi Disa, itu benar-benar luar biasa dan tak terlupakan.
Sedetik kemudian, Disa membelalakan mata saat di sudut sana Aksa beranjak dari duduknya, pun dengan secepat kilat Disa juga langsung bangkit dan membawa langkahnya sampai berada tepat di hadapan lelaki itu, di ambang pintu untuk menghalau langkah Aksa. Dengan wajah datar serta tangan yang di sembunyikan di balik saku celana, Aksa menatap lurus ke arah Disa yang justru tersenyum malu-malu di depannya. Gadis itu pipinya merona, memerah seperti buah apel segar yang siap disantap.
"Hai, namamu Aksa, bukan?"
Aksa tak memberi jawaban, ia masih terus menatap datar gadis di hadapannya dengan tinggi tubuh yang lebih rendah darinya.
"Eum, terima kasih sudah menemaniku dihukum kemarin. Aku belum memperkenalkan diri, namaku Disa! Aku tidak menyangka kalau akhirnya kita berada di kelas yang sama, itu artinya… kita akan satu kelas selama tiga tahu ke depan!" Kata Disa dengan sangat antusias seraya mengulurkan tangannya.
Sedang Aksa masih tetap geming, keningnya sedikit mengernyit.
"Cih! Perkenalan yang konyol!" Decisnya dalam hati.
Alih-alih menyambut uluran tangan itu, Aksa malah memicingkan matanya sedetik sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkah, meninggalkan Disa yang membeku dengan uluran tangannya yang tak bersambut itu. Tatapan mata Aksa yang tajam dan dingin barusan, berhasil membuat rasa yang tak kasat itu menghujam jantung Disa lebih dalam lagi.
"Disa, kau tidak apa-apa? Aish! Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu kepada seorang gadis?!" Gerutu teman sebangku Disa yang langsung menghampiri. Memang sejak tadi ia memerhatikan Disa yang dengan nekatnya mencegat langkah Aksa, ia memang sudah menduganya kalau akan berakhir begini, pun ia juga merasa ada aura yang berbeda pada lelaki itu, seperti ada tembok pembatas antara dirinya dengan sekitar.
"Tidak apa-apa, Nana," jawab Disa sambil menarik perlahan tangannya yang masih terulur. "Memangnya dia bersikap seperti apa? Bagiku itu wajar, mungkin dia seperti itu karena kita belum saling mengenal."
"T-tapi…."
"Sssttt!" Dengan sigap Disa membekap mulut teman sebangkunya yang bernama Nana itu dengan kedua telapak tangannya.
"Jangan banyak kata 'tapi', Nana. Aku akan mencoba mengajaknya berkenalan lagi lain kali!" Ujar Disa, pun dalam hitungan detik ia kembali menarik telapak tangannya itu dan berlalu begitu saja menuju tempat duduk meninggalkan Nana yang masih berdiri di dekat pintu.
"Aish aku baru mengenalnya kurang dari dua hari tapi dia sudah membuatku gila!" Kesal Nana sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai sebelum akhirnya menyusul Disa yang sudah lebih dulu duduk manis di kursi.
***
"Hey, kudengar sebentar lagi akan ada demo ekstrakulikuler, kau akan mengambil ekstrakulikuler apa nanti?"
"Entahlah, tapi kupikir, bukankah ekstrakulikuler itu justru malah buang-buang waktu? Lebih baik ku pergunakan waktuku untuk beristirahat."
"Ey tidak bisa begitu. Semua murid baru diwajibkan untuk setidaknya mengikuti satu ekstrakulikuler."
"Benarkah? Bagaimana ini? Masalahnya, tak ada satu pun yang aku minati."
"Tim basket dimana-mana selalu menjadi idola dan pusat perhatian. Di sekolah ini juga tim basket sudah banyak mencetak prestasi, bagaimana kalau kita ikut itu saja?"
"Basket? Ah boleh juga."
Seorang lelaki baru saja muncul dari dalam bilik toilet, bersamaan dengan dua orang lelaki lainnya lagi yang justru melangkah keluar meninggalkan area toilet. Itu Aksa, pun ia berjalan menuju ke arah westafel untuk mencuci tangannya, yang mana terdapat cermin lebar di depannya membuat siapa pun bisa dengan puas memandangi pantulan diri di cermin itu, kalau pada toilet wanita biasanya cermin besar itu kerap dipergunakan untuk berfoto ria. Tentu saja tidak berlaku bagi Aksa, lelaki itu hanya mempergunakan cermin sebagai mana mestinya, untuk memandangi wajah.
Helaan napas pun terdengar. Terbesit pembicaraan yang bukan dengan sengaja didengarnya barusan. Pembicaraan mengenai ekstrakulikuler, kurang lebih Aksa seperti salah satu dari lelaki yang membicarakan hal tersebut barusan, yaitu sama sekali tak ada yang ia minati karena memang ia juga tak berniat untuk mengikuti hal-hal semacam itu tadinya.
Kalau memang harus memilih, apa basket adalah pilihan yang tepat?
Aksa kembali membawa langkahnya menuju kelas. Saat tiba di ambang pintu, ia melihat sudah ada empat orang mengenakan seragam putih abu yang berdiri di depan kelas, itu pasti seniornya yang siap memperlonco junior-juniornya lagi. Lantas sebelum Aksa kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk, lelaki itu terlebih dahulu mengetuk pintu, sampai seluruh pasang mata yang ada di sana menatap ke arahnya.
"Dari mana?" Tanya salah satu dari empat orang yang berdiri di depan itu.
"Maaf Kak, saya dari toilet." Jawab Aksa.
"Yasudah, kembali ke tempat dudukmu!"
Pun Aksa segera menuju ke kursi pojok paling depan, tempat duduknya yang sudah ia tempati sejak kemarin. Sebenarnya Aksa juga kurang suka menempati posisi paling depan begitu, tapi karena kemarin ia terlambat masuk ke kelas sebab mesti dihukum terlebih dahulu, jadilah hanya tempat itu yang tersisa, dan mau tidak mau Aksa harus duduk di situ.
"Kalian semua berdiri! Kalau masih ada yang atributnya belum lengkap, maju ke depan!"
Pun seisi kelas langsung bangkit dari duduknya, sebagian merasa resah dan ribut memeriksa kelengkapan atributnya masing-masing tak terkecuali Disa dan teman sebangkunya, Nana.
"Topi, sabuk, papan nama… apa lagi? Ini sudah lengkap 'kan, Nana?"
Belum kering bibir Disa yang baru saja melempar tanya pada teman sebangkunya, tiba-tiba saja salah seorang senior yang bertugas memeriksa atribut mereka satu persatu, sudah berdiri tepat di sebelah Disa.
"Hey, kau! Lihat sepatumu!"
Pun akhirnya Disa menunduk, membawa pandangannya melihat ke arah sepatu yang dikenakannya.
Mati. Disa merutuki dirinya sendiri.
"Kalian semua sudah baca tertib belum??" Tanya senior itu pada seisi kelas dengan sedikit berteriak agar suaranya terdengar jelas.
"Sudah, Kak!" Jawab mereka serentak.
"Peraturannya sepatu itu harus berwarna apa??"
"Hitam, Kak!" Jawab mereka lagi.
"Kau dengar itu 'kan? Sekarang lihat tali sepatumu warnanya apa?" Tanya senior itu pada Disa, sementara gadis itu sudah gemetar. Ah, ini sih alamat kena hukuman lagi.
"P-putih, Kak." Jawab Disa.
"Cepat maju!"
Disa membawa langkahnya untuk maju ke depan kelas dengan kepala yang tertunduk, bergabung dengan beberapa teman sekelasnya yang bernasib sama. Ada yang lupa pakai sabuk, lupa bawa topi, lupa papan nama, dan sejeninsnya.
Saat berdiri di depan kelas, Disa sempat melirik ke arah Aksa di tempat lelaki itu berada, kali ini Aksa bebas dari hukuman. Pun lirikan mata Disa itu nyatanya menangkap mata Aksa yang juga tengah melirik ke arahnya. Keduanya bertemu tatap sepersekian detik sebelum akhirnya Aksa membuang pandangannya ke luar jendela.
Tok tok
Saat senior lainnya masih sibuk memeriksa atribut, tiba-tiba saja seorang lelaki dengan seragam putih-abu juga datang dan berdiri di ambang pintu. Disa tak tertarik untuk menolehkan pandangannya. Ah, paling juga senior lainnya yang ingin ikut-ikutan mengerjai anak baru.
"Perhatiannya sebentar!" Kata salah seorang senior membuat seisi kelas hening seketika.
"Aku akan memperkenalkan seseorang pada kalian. Ini Rio, Ketua OSIS kita."
Rio?
Mendengar nama itu, lantas Disa seketika mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk. Ah, benar. Itu Rio si ketua OSIS yang membantunya kemarin.
"Sebagian dari kalian sudah ada yang mengenalku atau sudah bertemu sebelumnya mungkin. Kalian bisa memanggilku Rio. Kalau ada yang ingin ditanyakan seputar kegiatan sekolah atau apapun, bisa langsung tanya saja padaku, ya! Aku pasti menjawabnya, tidak mungkin tidak ku jawab." Kata Rio.
Selama Rio berbicara di depan kelas. Disa terus memerhatikan lelaki itu, bagi Disa, Rio benar-benar memancarkan aura kepemimpinan meski Disa hanya memperhatikannya dari belakang.
"Wah… pasti dia digilai banyak wanita…" gumam Disa, entah gadis itu sadar atau tidak melontarkan kalimat barusan.
"Dan Kak Rio ini masih jomblo! Siapa tahu salah satu dari kalian ada yabg berminat." Celetukan salah seorang senior lainnya berhasil membuat seisi kelas riuh seketika. Sedang Rio, lelaki itu tersenyum malu-malu sebab rekan sejawatnya itu seolah mempromosikan dirinya yang memang sudah lama menjomblo.
"Jomblo? Masa iya sih?" Gumam Disa pada dirinya sendiri, yang tentu juga hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
"Ah, iya. Ini… kenapa mereka berdiri di sini?" Tanya Rio.
Tepat ketika Rio membalikkan badannya untuk menatap jajaran siswa yang kena hukuman, refleks Disa langsung menundukkan kepalanya. Entah kenapa, mungkin gadis itu merasa malu karena tiap kali bertemu Rio, ia pasti sedang dihukum.
"Mereka tidak memakai atribut dengan lengkap. Kira-kira harus diapakan?" Kata salah seorang senior kepada Rio.
"Tidak pakai atribut, ya? Hmm..." Pun Rio nampak berpikir sejenak, sembari menatap satu persatu siswa yang ada di depan kelas. Sampai matanya tertuju pada seorang gadis yang tengah menunduk, tatapannya berlabuh di sana.
"Tidak perlu dihukum."
Sontak apa yang diucapkan Rio itu membuat beberapa pasang mata menatap ke arahnya. Tak terkecuali Disa, tepat ketika Disa mendongakkan wajah dan menatap ke arah Rio, tatapan mereka bertemu. Rio menyimpulkan seulas senyuman yang sukses berhasil membuat Disa sedikit salah tingkah.
"Kalian bisa kembali ke tempat duduk masing-masing. Lain kali, tolong taati peraturan dan kenakan atribut dengan lengkap."
"Iya, Kak!" Sahut mereka serentak.
Rio berbicara untuk semuanya, namun tatapannya terpaku pada Disa. Pun Disa dapat merasakan kalau lelaki itu seolah sedang berbicara padanya.
Detik itu juga, mereka yang semula harus berdiri di depan kelas pun membubarkan diri, menuju tempat duduk masing-masing. Dan ketika Disa harus melintas di sebelah Rio untuk menuju tempat duduknya, waktu seolah berjalan melambat, sapuan angin yang entah datangnya dari mana menerbangkan helaian rambut Disa hingga wajah gadis itu dapat terlihat jelas oleh Rio.
"Lain kali, jangan sampai dihukum lagi, ya." Bisik Rio, tepat di sebelah telinga Disa.
Dheg.
Sial, kenapa Disa jadi kikuk begini?