Duapuluhsembilan: Biner

1128 Kata
Rio meratapi kepergian Disa. Dengan hati yang berbunga gadis itu melangkah riang keluar kedai meninggalkan Rio yang justru meringis kesakitan dalam batinnya. Rio, yang masih tetap setia dengan cintanya meskipun ia tahu, jawaban Disa akan selalu tidak. Namun sampai detik ini Rio memilih untuk terus berjuang. Bagi Rio, kendati lelah dan bagaimana hasilnya itu urusan belakangan, yang terpenting berusaha saja dulu. Setidaknya kau pernah mencoba, setidaknya kau pernah berjuang mati-matian meski pada akhirnya perjuanganmu justru membuatmu mati betulan. Semenjak kepergian wanita terkasih dan terpenting dalam hidupnya. Rio memilih untuk menempuh jalan yang memaksanya untuk tetap kuat. Rio berusaha keras untuk menyelesaikan pendidikannya. Rio, terus berjuang demi cita dan cintanya. * Ding Dong Gadis itu baru saja menekan bel, "Kak Disa!" Seru Arkan dari dalam rumah yang baru saja melihat kedatangan Disa dari kamera pintu. Pun tak lama kemudian, pintu terbuka. Bocah itu berlari menuju ke arah Disa yang masih menunggu di luar pagar. "Ayo, silakan masuk!" Sambut Arkan dengan penuh antusias. "Terima kasih, anak pintar!" Disa membawa kakinya melangkah menyusuri beranda rumah Aksa, bersamaan dengan Arkan, adik Aksa yang terlihat begitu senang akan kehadiran Disa. "Mama! Ada Kak Disa!" Seru Arkan, ketika anak itu membukakan pintu rumahnya. "Bukankah ini baru jam setengah empat?" Aksa langsung melempar Disa dengan pertanyaan dinginnya. Sambil duduk bersilang kaki, Aksa menutup buku tebalnya yang semula tengah dibacanya dan menatap Disa dengan tajam. "Bukankah datang awal lebih baik daripada terlambat?" Balas Disa. Aksa berdecis. "Tapi tiga tahun bersekolah kau tak bosan-bosannya datang terlambat." Ejeknya. "Disaaa! Kau sudah datang rupanya!" Sambut mama Aksa. "Selamat sore, Tante!" Sapa Disa. "Apa kau sudah makan?" Disa mengangguk, "sudah." "Kau mau minum apa? Atau mau kubuatkan apa?" Tanya mama Aksa. "Tidak perlu repot-repot, Tente. Kebetulan tadi sebelum kemari saya sudah makan banyak camilan, karena memang sudah ada janji bertemu teman di kedai kopi." "Hmmm, kencan?" Ledek mama Aksa dengan raut yang sedikit menyelidik. "Ehey! Tidak, ia hanya kakak kelasku dulu. Hanya sudah lama tidak bertemu." "Rio?" Entah apa yang membuatnya tertarik, tiba-tiba saja Aksa menyambarnya dengan pertanyaan. "Eung!" Disa mengangguk lugu. Brak. Aksa meletakkan bukunya di atas meja dengan cukup keras. "Ikuti aku, kita belajar!" Perintahnya dengan ketus. Pun Disa mengekor di belakangnya, mengikuti langkah Aksa yang kini menapaki anak tangga satu persatu. Keduanya terhenti di depan sebuah ruangan berpintu putih. Dan, di sini lah mereka sekarang. Di kamar Aksa, duduk berhadapan dengan meja lipat yang membatasi antara keduanya. "Coba kau kerjakan dulu semua soal itu, setelahnya biar ku periksa. Agar aku bisa tahu, bagian mana yang masih belum kau kuasai." Jelas Aksa. Sementara Disa, gadis itu hanya cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang sebetulnya tak terasa gatal. Disa meletakkan fokusnya pada barisan soal dalam buku di depannya. Baru saja ia membaca soal nomor pertama, kepalanya sudah terasa canat-cenut. Jangankan untuk menyelesaikan dan menemukan jawaban, maksud inti dari soal tersebut saja Disa tidak tahu. Oke, mungkin yang nomor dua, dirinya bisa paham. Maka bergeserlah ia ke nomor berikutnya. Dan lagi. Disa masih tidak bisa memahaminya. Bergeser ke nomor berikutnya. Dan lagi. Bergeser lagi. Begitu terus siklusnya. Sampai ia tiba di nomor terakhir. "Apa tidak ada yang kau pahami satu pun?" Tanya Aksa ketus. Disa menggeleng sambil cengengesan. Aksa menghela napas, "kenapa kau tidak berhenti sekolah saja?" Sinisnya. Mendengar hal itu, Disa hanya mampu mendengus sebal. "Aku akan menjelaskan dari hal dasar, jadi kau harus dengarkan baik-baik!" Perintah Aksa, yang pula disambut anggukan antusias oleh Disa. Aksa mengambil alih pena dan buku dari depan Disa. "Pertama, gunakan X sebagai bilangan yang ingin ditentukan," pun ia menjeda kalimatnya, menatap wajah Disa yang lugu. "Apa itu X di sini?" "Hah?" Raut Disa nampak begitu kebingungan. "Apa itu X di sini?" Aksa menekan pertanyaannya. Sementara Disa nampak berpikir keras selama beberapa detik, hingga pada akhirnya, "Aku tahu!" Seru Disa, Aksa tersenyum tipis mendengarnya, setidaknya ada juga yang gadis ini ketahui. "Alphabet!" Namun senyum Aksa nampaknya tak bisa bertahan lama. Begitu mendengar kelanjutan kalimat Disa, Aksa malah kembali dibuat kesal, ya tidak salah, sih, X memang lah alphabet. Tapi, yang dimaksud dari pertanyaan Aksa bukan itu. Begitu juga dengan Disa yang mimik wajahnya kembali berubah menampilkan ke-frustasi-an. "Aku tidah tahu! Memangnya apa itu?" Tanya Disa. "X adalah bilangan yang tidak diketahui. Disebut apa kasus yang tak terpecahkan?" "X-file!" Jawab Disa penuh semangat, karena memang kali ini ia tahu jawabannya. "Seperti itulah konsep huruf X pada soal ini." Jelas Aksa, Disa mengangguk-angguk sembari ber-oh ria. Nampaknya gadis itu sudah mulai sedikit paham. "Tapi, kenapa mesti X? Bukankah ada T, M, dan huruf-huruf lainnya?" Aksa menghela napas panjang, memijat sendiri keningnya yang terasa sedikit berdenyut kala mendapati pertanyaan super yang benar-benar super dari Disa. "Apa gunanya membahas itu? Itu sudah diputuskan sejak dulu. Sekarang, lihat…" Aksa membawa Disa untuk menaruh lagi fokusnya pada buku. "x sama dengan 2 pangkat 30 dikali 10 pangkat minus 7," "Logx = 30log2 - 7log 10 Logx= 30* 0.3-7 logx= log (2^30 * 10^-7 logx=2 Jadi, x=100," Bukan Disa namanya kalau tak berulah. Alih-alih fokus memerhatikan penjelasan Aksa, gadis itu malah fokus pada wajah lelaki di hadapannya itu, lelaki yang bagi Disa tingkat ketampanannya bertambah ketika sedang menjelaskan begini. "Tapi karena kita harus menulis ini sebagai bilangan biner. Jadi berapa itu?" Tanya Aksa, sembari mengalihkan fokusnya yang semula tertanam pada buku dan soal, kini bersarang pada kedua mata Disa. Sedang Disa, bak terciduk berbuat salah gadis itu langsung gelagapan, "hah?" "Berapa 100 jika dijadikan bilangan biner? Hitung itu!" Disa mengernyit, tak paham akan perintah Aksa. Bilangan biner? Sepertinya ia belum pernah mendengarnya. "Maksudnya?" Tanya gadis itu bingung. Aksa menghela napasnya berat, entah untuk yang keberapa kali. "Sepertinya aku mau meledak," Keluhnya. "Apa kau tahu sistem desimal?" Tanya Aksa. "Eung!" Disa mengangguk yakin. "Lalu bagaimana dengan sistem bilangan biner?" Kali ini Disa hanya mampu tertunduk, sebab memang dirinya benar-benar tidak tahu apa itu bilangan biner. Disa takut Aksa betul-betul meledak, jadilah gadis itu tak berani sedikit pun menatap lelaki di hadapannya itu. "Ini adalah cara mengekspresikan sebuah angka hanya dengan 0 dan 1." Mendengar penjelasan Aksa, lantas muncul lah sebaris tanya di kepala Disa. "Tapi kenapa? Apa gunanya itu?". "Komputer." Aksa menjawabnya singkat. "Komputer?" Sedang Disa masih diselimuti ketidakpahaman. "Pada tahun 1974, dari Observatorium Arecibo dikirim pesan ke luar angkasa. Jika ada alien di luar sana, untuk memberi pesan atau tanggapan, dengan bahasa apa pesan bisa dikirim? Bahasa inggris? Indonesia? Kau tidak tau Bagaimana tingkat kecerdasan alien, bukan? Jadi, agar mereka bisa menginterpretasikan pesan maka digunakanlah angka 0 dan 1, pesan dikirim dalam kode biner." Prok Prok Prok Prok! Begitu Aksa selesai menjelaskannya Disa malah memberikan tepuk tangan yang meriah, entah sebetulnya ia menangkap atau tidak, paham atau tidak, yang jelas hanya secercah kekaguman yang terpancar dalam kedua maniknya. "Bagaimana bisa kau tahu begitu banyak hal?" Ujar Disa. Aksa mengehela napasnya, 'lagi'. "Bagaimana bisa begitu banyak hal yang kau tidak tahu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN