"Ahh, ini semua gara-gara Disa!"
"Benar! Kalau saja kau bisa fokus mungkin saja sekarang kita yang menang!"
Sementara itu, Disa yang menjadi sasaran protes pun hanya mampu tertunduk.
"Semua orang hebat hari ini!" Sebuah suara tiba-tiba saja membuat mereka yang tengah beristirahat di kelas pun menoleh serentak.
"Aku akan mentraktir kalian pizza!" Serunya lagi. Seorang wanita paruh baya yang kedatangannya berhasil membuat seluruh teman satu tim Disa kebingungan. Sedang Disa, gadis itu menatapnya dengan sorotan beribu arti. Ada rasa senang sekaligus tidak percaya melihat wanita itu datang kemari.
"Maaf sebelumnya, tapi... Siapa anda?" Tanya Rita.
Wanita itu membawa kakinya melangkah menghampiri mereka yang masih diselimuti rasa bingung.
"Aku penggemar Disa," ucapnya. "Kalian tidak tahu betapa menyenangkannya menyaksikan pertandingan kalian. Karena kalian telah membuatku senang, maka aku akan mentraktir kalian pizza!" Ujarnya yang langsung disambut riuh teman-teman Disa. Pun wanita itu mengarahkan tatapannya pada Disa yang juga tengah menatap ke arahnya. Keduanya saling melempar senyum yang dilapisi kehangatan.
"Pizza datang!"
Benar saja, tiga kotak pizza berukuran jumbo pun tiba di kelas mereka. Lantas pizza-pizza itu segera diserbu dan ludes seketika. Terlukis jelas pada raut wajahnya kebahagiaan yang tengah merekah dalan jiwa Disa, gadis itu tak henti-hentinya tersenyum pada wanita yang kehadirannya tak pernah Disa duga sebelumnya.
Sementara Rita yang masih penasaran pun masih terus melempar pertanyaannya yang tak kunjung mendapat jawaban.
"Anak-anak! Kebetulan hari ini aku membawa kamera, bagaimana kalau kita berfoto?" Ujar wanita itu, yang seketika membuat teman-teman Disa antusias.
Setelah pizza habis tak bersisa, selama wanita tersebut mengatur kameranya, lantas mereka pun segera mengatur posisi.
"Anak-anak! Ayo! Satu, dua...."
Wanita itu segera berlari menempati posisinya, duduk di sebelah Disa dan memeluk gadis itu dalam hitungannya yang ketiga.
"Tiga!"
Ceklek.
*
Festival sekolah masih berlangsung. Kini giliran Disa yang mentraktir wanita itu di kantin.
"Disa, apa kau sangat menyukai jus mangga?" Tanyanya. Begitu melihat Disa yang baru saja menyeruput jus mangga yang ia pesan beberapa saat lalu.
Disa segera menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, biasa saja. Justru aku lebih menyukai apel." Jawab Disa.
"Apel? Baiklah, kalau begitu lain kali aku akan menyediakan apel yang banyak di rumahku." Kata wanita itu.
Disa terkekeh sesaat setelah mendengarnya.
"Aku punya sesuatu untukmu!" Ujar wanita tersebut yang membuat mata Disa membulat penasaran.
"Apa itu?"
Pun wanita itu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya,
"Tadaa!!!"
"Woah! Lucu sekali! Aku suka!" Seru Disa, ketika ia melihat jepit rambut berwarna merah muda dengan bentuk hati sebagai hiasannya.
"Kau suka? Kalau begit biar aku pasangkan ini di rambutmu."
"Terima kasih banyak! Tapi... Tante, kenapa kau begitu baik padaku?"
Mendengar pertanyaan yang baru saja Disa lempar, wanita itu menyunggingkan senyuman. "Karena aku sudah sangat lama mendambakan hal ini. Aku ingin membuatkan camilan untuk menyemangati anakku belajar, aku ingin pergi berbelanja bersama anak gadisku, aku ingin datang ke sekolah dan mendukung anak gadisku untuk kegiatannya. Tapi, aku hanya bisa melahirkan anak laki-laki, kau tahu sendiri, bukan, bagaimana karakter Aksa?"
Mendengar penuturan itu, Disa hanya mengulas senyuman tipis.
"Ah, benar. Disa, bagaimana kalau lain kali kita harus pergi berbelanja bersama, kau mau?"
"Eung!" Disa mengangguk dengan rasa penuh antusias. Detik berikutnya, wanita itu, wanita yang ternyata adalah ibu Aksa, segera membawa Disa ke dalam dekapannya.
*
"Ah... Badanku sakit semua, sepertinya aku harus menempalkan beberapa koyo pada sepulang nanti." Keluh Disa pada dirinya sendiri.
"Kau belum pulang?"
Sebaris tanya dari sebuah suara yang berhasil membuat Disa terkejut.
"Oh, sejak kapan kau di sini? Aku tidak lihat." Ucap Disa, mengungkap keterkejutannya akan sosok Aksa yang terduduk di halte.
"Kau sangat berusaha keras dalam perlombaan tadi, pasti itu sangat sakit." Ujar Aksa, dengan mata yang terfokus pada ponselnya. Tak hanya itu, lelaki itu juga menyumbat sebelah telinganya dengan earphone.
"Paling tidak yang bisa aku lakukan adalah melakukan yang terbaik," Balas Disa.
"Pasti sangat bagus untukmu, menjadi baik baik dalam segala hal. Kau juga berlari dengan sangat baik tadi." Sambungnya.
"Aku juga bagus dalam bermain basket dan berenang." Sahut Aksa enteng.
"Pamer!" Gerutu Disa.
"Kau sangat berbeda beberapa hari ini. Tapi kenapa kau menyerahkan tongkat itu padaku?" Tanya Aksa tentunya dengan nada yang dingin.
Disa berdecis, "benar! Itu sangat menguntungkan untukmu hingga tim mu bisa memenangkannya." Jawab Disa.
"Kau pasti jadi disalahkan dan sangat menderita, bukan?"
Disa hanya mampu menghela napasnya berat.
"Ah, tapi. Ibumu datang dan memberikan kami pizza, jadi tidak apa-apa." Jawab Disa sambil kembali melukiskan senyum cerianya kala mengingat hal itu.
"Ibuku?" Tanya Aksa sedikit terkejut, sampai lelaki itu mengalihkan fokusnya dari ponsel dan menatap ke arah Disa.
"Orang bilang, penyebab masalah dalam keluarga itu biasanya datang dari ayah atau anak, tapi dalam keluargaku, ibuku lah pengacau tersebut." Tutur Aksa.
"Kenapa? Aku sangat suka ibumu. Sangat suka."
"Kau sangat suka padanya?"
Disa mengangguk riang. "Bahkan hari ini, ibumu tidak hanya membelikan pizza, tapi juga mengambil gambar bersama-sama dengan kami menggunakan kameranya. Aku sangat senang." Jelas Disa.
"Kau benar-benar senang?"
Lagi, Disa mengangguk mengekspresikan kalau dirinya benar-benar senang. Pun Aksa dapat melihat dengan jelas binar mata itu.
"Aku tidak pernah memiliki ibu yang datang ke sekolah seperti itu sebelumnya. Ibuku meninggal saat aku masih kecil,"
Mendengar hal itu, entah kenapa sorot mata Aksa menjadi berubah menatap Disa.
"Tentu ayah dan nenekku datang sebagai gantinya. Tapi, meskipun aku bersyukur atas itu, aku tidak pernah yakin kalau aku benar-benar bahagia. Dan hari ini, aku merasa ibuku benar-benar datang." Jelas Disa.
Aksa bangkit dari duduknya, "kau harus segera pulang," ucapnya. Namun baru beberapa langkah Aksa meninggalkan halte, lelaki itu malah terhenti dan kembali berbalik badan.
"Apa yang kau pakai di rambutmu itu?" Tanya Aksa.
"Ah, ini? Ini jepit rambut yang baru saja ibumu berikan. Bagus, bukan?" Jawab Disa sembari meraba rambutnya, tempat di mana jepit itu bersarang.
Melihat Aksa yang hanya terdiam dengan ekspresi begitu datar. Raut wajah ceria Disa pun seketika sirna. Jepit rambut ini memang tak akan pernah bisa membuat seorang Aksa tertarik.
"Itu, lucu. Jika kau yang memakainya." Ucap Aksa dingin dan segera berlalu melanjutkan langkahnya.
"Cih! Dasar jutek!" Gerutu Disa.
Namun sesaat kemudian, pipi Disa mulai memerah.
"Tapi apa? Apa yang dia katakan barusan?"
Bus yang akan membawa Disa menuju ke rumahnya pun tiba. Terhenti tepat di depan halte, tak buang waktu lagi Disa segera membawa kakinya ke dalam bus. Mengambil posisi duduk di dekat jendela. Dan beberapa detik kemudian ia tersadar akan sesuatu.
Untuk apa Aksa berada di halte? Bukankah lelaki itu hanya perlu berjalan kaki untuk menuju ke rumahnya?