"Aku hanya berpura-pura menerimanya, karena kupikir kau akan malu jika ku tolak di depan banyak orang,"
"Jawabanku adalah, selalu tidak."
Kalimat itu terus memutar di kepala Rio. Kalimat yang baru saja ia terima dari sang pujaan hatinya yang sebelumnya telah membuat Rio terbang setinggi-tingginya, senang dibuatnya sebab pengakuan cintanya baru saja disambut. Namun, kenyataan pahit harus Rio telan paksa. Gadis itu hanya menerimanya dengan alasan takut mempermalukan Rio di depan banyak orang.
Rio tertawa miris.
Rasanya tak ada penolakan yang lebih menyakitkan dari ini. Lebih baik ditolak mentah-mentah dari pada harus dibuat begini. Ini terasa betul-betul dipermainkan.
"Argh!" Rio memukul meja belajarnya. Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi hari esok. Bagaimana kalau seluruh murid pada akhirnya tahu kalau ternyata cinta Rio ditolak.
*
Dengan hati yang sedikit was-was, Rio memaksakan dirinya untuk datang ke sekolah. Sepintas semua terlihat baik-baik saja. Baiklah kalau begitu artinya Rio juga mesti berusaha untuk tetap baik-baik saja.
"Ey Rio! Selamat, ya! Akhirnya kau sudah melepaskan status jomlo-mu itu!" Celetuk seseorang yang berpapasan dengannya di koridor. Rio hanya memberinya lemparan senyum tanpa sepatah kata.
Melepas status jomlo, matamu! Aku ini ditolak! D i t o l a k!
"Pasangan baru kenapa tidak datang bersama-sama? Lain kali kau jemput Disa!" Celetuk orang lain lagi.
Huhh. Rio hanya mampu menghela napasnya.
Adapun ketika baru saja Rio menginjakkan kaki si kelasnya. Seluruh penghuni kelas juga malah ikut-ikutan meledek Rio.
"Jadi bagaimana? Kencan pertamamu rencananya akan mengajak Disa kemana?"
Dan, lagi. Sepanjang hari ini, Rio hanya lebih banyak diam, lelaki itu hanya mampu melempar senyumannya tiap kali ada yang bertanya atau sekadar meledeknya.
*
Bel pulang berbunyi dengan nyaring, Rio mengucap syukur dalam hatinya. Akhirnya, hari berat ini berakhir juga. Cepat-cept ia merapikan alat tulisnya ke dalam tas, agar lebih cepat juga ia bisa meninggalkan tempat ini.
"Sabar, Rio. Bel baru saja berbunyi, mungkin saja Disa juga belum keluar!" Ledek salah seorang teman Rio, entah untuk yang keberapa kali. Seperti biasa, Rio hanya melempar senyum sebagai tanggapan.
Rio pun memacu langkahnya dengan begitu cepat menuju halaman parkir, setelah merogoh saku celana tempat dimana kunci motornya tersimpan, Rio lantas segera menunggangi kuda besinya itu. Tak lupa ia mengenakan helm untuk melindungi kepalanya, barulah Rio menyalakan deru mesin dan membawanya berlari meninggalkan sekolah, membelah jalanan inti kota, beradu cepat dengan kendaraan-kendaraan lain yang berlalu lalang.
Dan, di sinilah ia sekarang. Di tempat pulang ter-nyaman-nya. Di pangkuan sang ibunda, sambil menggenggam erat kedua tanggannya.
"Bu… Maafkan Rio, Rio tidak bisa membawa gadis itu kemari…" Lirih Rio.
"Jadi begini, ya, Bu, rasanya cinta tak bersambut." Tambahnya.
Rio menenggelamkan kepalanya dalam pangkuan sang ibu, membawa diri jatuh lebih dalam lagi menuju dekapan ibunya.
Pun Rio merasakan tangan sang ibu yang perlahan mengusap puncak kepalanya dengan begitu lembut dan penuh cinta. Rio merasakan kehangatan menelusup keseluruh rongga dadanya. Nyaman, dan tenang. Selalu begitu.
*
Belum berakhir sampai di sini. Rio masih menjalani hari yang berat di hari berikutnya. Lelaki itu masih harus membiasakan diri akan kenyataan kalau Disa menolak cintanya, tapi seluruh siswa di sekolah justru menyangka kalau mereka adalah sepasang kekasih sekarang. Dan jujur, itu sangat membuat Rio semakin sesak dan tak tahu harus berbuat apa.
"Terima kasih!" Ucap Rio pada ibu kantin yang baru saja memberikan segelas es jeruk yang dipilihnya untuk menjadi teman bergalau ria pada siang hari ini. Namun, ketika baru saja ia berbalik untuk mencari sudut ternyaman di kantin, ponsel dalam sakunya lebih dulu berdering. Sontak Rio segera meraihnya. Ditatapnya layar ponsel, ternyata panggilan dari salah satu pelayang di rumah tempat ibu Rio berada.
"Ya, ada apa?" Jawab Rio.
Beberapa detik berikutnya…
Pranggg!
Gelas kaca berisi es jeruk yang bahkan sama sekali belum ia cicipi mendarat bebas di atas lantai. Berarakan. Pecahannya berhamburan kemana-mana.
Mata Rio membulat, jantungnya mencelos kala mendengar apa yang disampaikan oleh sang pelayan dari seberang sana. Pun segera ia berlari meninggalkan kantin secepat mungkin, tak lagi memedulikan seluruh pasang mata yang tertuju padanya akibat gelas yang tak sengaja lolos dalam genggamannya itu. Mereka melempar tatap penuh tanda tanya pada sikap Rio.
Setelah meminta izin pulang dan menjelaskan alasannya, lelaki itu langsung melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Menyalip sana sini, tak memedulikan apapun lagi.
*
Ban motornya berdecit, berhenti tiba-tiba pada halaman parkir sebuah rumah sakit. Setelahnya Rio kembali berlari, menerobos ke dalam rumah sakit dan segera mencari kamar yang sebelumnya sudah diberitahu oleh pelayannya melalui panggilan telepon.
"Di mana Ibu??" Sergah Rio, pada beberapa pelayannya yang sudah berada di sana lebih dulu.
"Aden tenangkan diri dulu…."
"Mana Ibu?!!" Rio segera menepis tangan salah seorang pelayannya yang hendak menenangkannya.
Pun pada akhirnya, Rio diantar untuk masuk ke salah satu kamar rumah sakit. Dan di sanalah, sang ibu terbaring lemah tak berdaya, di atas ranjang rumah sakit dengan wajah yang begitu pucat. Namun masih sadarkan diri.
"Bu..." Lirih Rio, sembari menggenggam erat tangan sang ibu, tangisnya betul-betul tak tertahankan.
"Ibu pasti sembuh 'kan? Ibu pasti akan kembali lagi 'kan? Rio tahu Ibu kuat..." Ucapnya diiringi isak yang begitu sendu.
Sang ibu berusaha melukis senyuman di wajahnya, menarik dua garis ujung bibirnya getir.
"C-cinta itu... Tak selamanya h-harus memiliki... K-kau a-akan bahagia, jika m-melihat wanita yang k-kau c-cintai bahagia, j-jika kau memak-sakan agar b-bisa bersama, i-itu b-bukan cinta, Rio..." Ujar sang ibu susah payah.
Mata Rio seketika terbelalak. Bukan atas kalimat petuah yang baru saja diucapkan sang ibu, melainkan atas sebuah kata di penghujung kalimatnya barusan.
Rio.
Ya, benar. Ibunya kembali menyebut namanya setelah bertahun lamanya. Ini merupakan sebuah kebahagiaan tak tertandingi bagi Rio. Sang ibu kembali mengingatnya.
"A-apa barusan Ibu menyebut namaku? Coba katakan sekali lagi, Bu, coba katakan..." Lirihnya.
Sang ibu tersenyum dalam sesaknya. Napasnya sudah semakin tersenggal.
"R-Rio..." Ucapnya.
"R-Rio...."
Tiiiiiiittttt
Grafik hijau pada monitor di sebelah ranjang ibu Rio membentuk garis lurus, bunyi nyaring pun terdengar memekakkan telinga, beradu dengan teriakan histeris Rio yang pecah.
"IBU!!!!!!"
Dan mulai detik ini.
Runtuhlah sudah dunia Rio. Tak ada lagi tempat pulang ternyaman baginya. Tak ada lagi tangan yang selalu menghangatkan. Tak ada lagi tatapan yang selalu meneduhkan. Tak ada lagi dekap yang selalu dijadikannya sandaran. Tak ada lagi, harapan dalam hidupnya.
Satu-satunya harapan terbesar Rio hanyalah kesembuhan ibunya, dan kelak suatu saat nanti ibunya bisa kembali memanggil namanya, 'Rio'.
Lengkap sudah rasa sakit yang menderanya. Rio benar-benar hancur.