Keajaiban Dan Takdir

1409 Kata
Malam yang hening sebelumnya, terasa amat mengganggu untuk saat ini bagi Long Kirin. Bagaimana tidak, suara itu terus terdengar di dalam kedua indra pendengarnya. Seperti benda yang terus berputar dengan kecepatan tinggi. Ini sangatlah membingungkan bagi pemuda itu. Apalagi gadis yang telah memberikan pangkuannya kepada Long Kirin tidak mendengar apapun selain hewan malam dan deru angin. Hingga pada akhirnya, kebingungan itu bertambah lagi ketika Long Kirin melihat sebuah cahaya yang bentuknya seperti pijaran api berwarna biru di depan pandangannya. Tunggu? Bagaimana dia bisa melihat cahaya itu? Padahal dia sudah buta sejak lahir, mengapa bisa melihat cahaya itu? Kebingungan itu membuat Long Kirin memijat keningnya yang sedikit terasa sakit. Belum berakhir kebingungannya, sekarang cahaya api itu bergerak naik turun dan melompat ke bawah. Tidak sampai di situ, cahaya tersebut membela diri dengan sangat cepat dan membentuk sebuah petunjuk ke arah dalam hutan. Merasa penasaran akan hal itu, Long Kirin segera mengambil tongkat bambunya. "Kamu mau kemana, Kirin?" tanya Yin Kara yang merasa kebingungan. "Ada sesuatu yang ingin aku pastikan. Kau sebaiknya di sini saja. Ingat! Di sini!" "Tapi ini sudah larut malam, kemungkinan banyak siluman yang berkeliaran saat ini." Menurut larangan yang ada dalam kitab aturan seluruh benua, ketika malam telah tiba, para siluman akan keluar dari dalam sarangnya. Mencari apapun yang mereka inginkan. "Aku tidak percaya itu. Sudah lah, kau diam di sini." Long Kirin langsung melompat saat berada di pijakan tangga ke tiga dengan posisi berlutut layaknya pendekar. Sangat jelas sekali Long Kirin melihat cahaya api yang berbaris sangat rapi, yang secara bergantian naik turun seperti sebuah tangga nada. Dengan rasa penasaran, Long Kirin berjalan mengikuti petunjuk itu. Cahaya api yang telah ia lewati langsung lenyap dan seperti terserap ke dalam tubuh Long Kirin. Benar saja, setiap Long Kirin melewati satu demi satu cahaya api tersebut, tubuhnya merasakan sensasi kehangatan dan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan. Hingga pada akhirnya dia telah berada di sebuah kuil yang seluruh bangunannya memancarkan cahaya. Bangunan yang sangat asing bagi siapapun yang melihatnya. Baru kali ini Long Kirin melihat sebuah cahaya sebesar itu, selain matahari dari cerita yang ia dengar di rumah. Saat langkahnya terhenti karena cahaya api itu telah berhenti di titik akhir. Sebuah getaran dirasakan oleh Long Kirin. Pintu yang terukir indah, dimana masing-masing sisi ada dua pedang berwarna putih menjadi hiasan utamanya. Perlahan suara yang telah ia dengar sebelumnya sedikit melambat dan saat ini menimbulkan dengungan. Dengungan seperti layaknya medan listrik yang sedang saling terhubung. Dengan rasa penasaran dan yakin bahwa ini akan memberikan dampak baik padanya, Long Kirin melangkahkan kakinya menuju ke dalam tempat itu. Sejuk serta damai, itulah yang saat ini ia rasakan ketika telah berada di dalam Kuil Cahaya. Sebuah cahaya bening berwarna biru langit seukuran roda kereta kuda berada tepat di tengah ruangan, dimana ada sebuah cincin di tengahnya dan sebuah pedang putih yang tertancap di bawah cahaya itu. Akhirnya diketahui dari mana sumber suara yang mengganggu dia dalam lautan mimpi. Cincin itu lah penyebabnya yang dari tadi terus berputar dan menciptakan suara. Saat ini pandangan Long Kirin mengarah ke benda bulat itu. Hingga sebuah suara mengejutkan dirinya. "Ambillah," ucap seseorang yang entah dimana keberadaannya, hanya saja suara itu terdengar sangat berwibawa dan berkharisma. Tanpa bertanya lagi, Long Kirin segera mengarahkan jemari tangannya untuk menggapai cincin itu. Layaknya sebuah medan magnet, cincin tersebut terangkat dari posisi rebahnya dan masuk ke dalam jari manis Long Kirin. Nyaman, hangat, damai, dan sejuk, itulah yang ia rasakan ketika cincin tersebut telah berada di jari manisnya. Namun rasa itu hanya sebentar saja, karena cahaya bening yang melindungi benda bulat tersebut membesar dan sedikit menimbulkan gelombang kejut. Setelahnya lonjakan energi pada cahaya itu segera masuk terserap ke dalam tubuh sang pemuda buta. Seluruh tubuh Long Kirin bergetar hebat saat cahaya itu secara perlahan masuk ke dalam dan berkumpul di tengah dadanya. Butuh waktu satu jam lamanya semua energi terserap dalam tubuh Kirin. Gelombang kejut dengan tekanan sangat kecil kembali terlihat ketika semuanya telah selesai. Dinding dalam ruangan itu segera bersinar terang dengan cahaya biru langit. Long Kirin berdiri tegap dengan tangan kanan berada di dadanya. "Akhirnya yang diramalkan telah tiba. Bukalah matamu wahai anak manusia yang terpilih." Suara yang sebelumnya menyarankan Long Kirin untuk mengambil cincin itu kembali terdengar. Atas kehendak para Dewa, kelopak mata Long Kirin yang selama ini tertutup secara perlahan terbuka. Terlihat sebuah mata indah berwarna biru muda. Pemuda itu sesekali mengedipkan manik matanya untuk menstabilkan cahaya yang ia terima. Ketika semuanya telah terasa sangat jelas dan nyaman, Long Kirin tersentak kaget karena menyadari bahwa saat ini ia telah bisa melihat. "Ibu! Ayah! Kara! Aku bisa melihat! Aku bisa melihat!" teriak Long Kirin. Wajahnya terlihat sangat bahagia mendapatkan karunia ini. Seseorang yang berada di depannya hanya tersenyum melihat ekspresi Long Kirin. "Apakah kau bahagia?" tanya sosok itu yang membuat Long Kirin berhenti dari kegirangannya. "Sangat! Sangat bahagia!" jawabnya. Sosok itu kembali tersenyum ramah kepada Long Kirin. "Inilah takdirmu." 'Takdir?' tanya Long Kirin dalam benaknya. "Apa yang Paman maksud?" tanya Long Kirin. "Kau akan tahu dengan sendirinya." Sosok tersebut kembali tersenyum. Terlihat Long Kirin berpikir keras dengan apa yang diucapkan oleh sosok itu. "Tunggu.Siapa sebenarnya Paman ini?" Sosok tersebut kembali tersenyum. "Aku adalah Kai Rong, roh yang bersemayam dalam pedang dan cincin yang telah kau pakai." Sosok itu bernama Kai Rong, postur tubuhnya tegap berisi. Ia memakai baju berwarna putih dengan motif naga mengelilinginya. Janggut dan rambutnya berwarna hitam dimana terlihat ada sebuah sanggul rambut tertata rapi. Wajahnya terlihat seperti lelaki yang berumur 30 tahun. Long Kirin segera berlutut di depan Kai Rong. "Terima kasih, Paman! Terima kasih telah memberikan aku penglihatan!" ucapnya yang sesekali terdengar isak tangis. Kai Rong kembali tersenyum. "Wahai anak manusia, berdirilah." Pemuda itu segera berdiri dengan air mata yang membasahi pipinya. "Kau telah ditakdirkan oleh Dewa untuk sebuah misi besar." "Misi? Misi apa itu, Paman?" "Menyelamatkan semesta manusia dari kehancuran," jawab Kai Rong. "Seratus persen, tidak, seribu persen aku akan menerima takdir ini bila bersangkutan dengan keselamatan seluruh umat manusia. Ibu, Ayah dan Kara, mereka adalah penyemangat hidupku! Aku akan ...." Seketika pemuda itu berhenti bicara ketika mengingat bahwa ia tidak memiliki kekuatan. Kai Rong kembali tersenyum. "Mengapa kau berhenti bicara?" "A-aku, a-aku tidak memiliki kekuatan," jawab Long Kirin, wajahnya tertunduk malu. "Kau sudah memilikinya, Kirin'er." Kai Rong menjentikkan jari tangan kanannya. Seketika sebuah keajaiban terjadi, dimana secara perlahan muncul kelima elemen dasar yaitu, air, api, tanah, besi dan kayu dan mengelilingi tubuh Long Kirin. Setelah beberapa menit, elemen itu secepat kilat masuk ke dalam tubuh Long Kirin dan membentuk lima bintang berwarna seperti berlian yang di tengahnya terlihat kosong tepat di tengah dadanya. Lalu muncul pola kelima elemen mempercantik keindahan. Ini sangatlah berbeda dengan apa yang dimiliki manusia pada umumnya, dimana pola elemen muncul di lengan tangan bukan di tengah d**a. "Duduklah, Kirin'er," ucap Kai Rong. 'Duduk? Duduk dimana?' Tunggu? Dari mana Paman ini mengetahui namaku?" pikir Long Kirin. Di dalam pertanyaannya, sebuah keajaiban kembali terjadi. Perlahan tapi pasti, sebuah cairan dari elemen besi berwarna emas muncul dari bawah kaki Long Kirin dan membuatnya terduduk. Tidak sampai disitu, dari belakang kursi itu muncul sebuah pohon yang terus membesar yang dimana pohon itu meneduhkan Long Kirin. Nampaknya keajaiban ingin terus menerus muncul di hadapan Long Kirin. Sekarang tepatnya di tengah-tengah mereka berdua muncul air lalu membeku membentuk sebuah meja dengan ukiran naga pada setiap sisi samping. Setelahnya muncul pilar-pilar dari elemen tanah, dimana bagian atasnya muncul elemen api yang ikut menerangi tempat itu. "Sekarang kau telah mendapatkan kekuatan, namun saat ini belum cukup untuk menyelamatkan semesta manusia," ucap Kai Rong membuka obrolan. "Bukannya ini sudah bisa dikatakan aku pendekar bintang 5, Paman?" Long Kirin menunjukkan simbol bintang di dadanya. "Apalah arti sebuah kekuatan besar bila wadahnya sangatlah lemah. Kekuatan itu akan terus meningkat dengan seiring waktu, dimana latihan dan pertempuran yang menjadi acuannya." Memang benar saat ini bintang yang ada di d**a Long Kirin berjumlah lima, namun bila diukur kekuatannya hanya setara pendekar bintang 3 tahap emas dengan 7 titik. Namun apalah artinya jika ia berhadapan langsung dengan Jia Ye. Lonjakan kekuatan Long Kirin amat lah sangat pesat, bila ini diketahui orang lain, patutlah mereka menjuluki pemuda itu sebagai pendekar jenius. Akan tetapi akan ada beberapa manusia menaruh curiga terhadapnya, karena sebelumnya Long Kirin terlahir tanpa elemen. "Kau harus berlatih sangat keras dimulai pada hari ini, karena waktumu hanya tinggal beberapa tahun lagi. Musuh yang akan kau hadapi saat ini, sedang mempersiapkan dirinya." "Baik, Paman. Tapi, dengan siapa aku harus berlatih?" Kai Rong kembali tersenyum. "Ikuti aku," ucapnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN