Bocah kecil itu memiliki luka lebam pada beberapa bagian tubuhnya, ujung bibir dan pelipis mata kanannya terlihat bercak darah yang mulai mengering. Ketika bocah itu membuka mulut, ada dua gigi yang hilang karena akibat pukulan keras dari seseorang. Pada kedua matanya membengkak akibat dari pukulan dan satu jam menangis.
Long Kirin sangat tahu siapa bocah yang terduduk meratapi nasib. Bocah itu adalah dirinya dulu ketika berumur 6 tahun. Awal dimana kesengsaraan menerjang jiwa dan raganya yang sebenarnya belum siap untuk menerima.
Long Kirin kecil terus saja menangis meratapi nasibnya yang memilukan, dia tidak menyangka di minggu pertamanya ia keluar dari rumah akan mendapatkan perlakuan seperti ini. Dia hanya ingin mencari teman bermain, itu saja yang dia inginkan. Sudah lima tahun Long Kirin kecil berada di rumah yang hanya bermain dengan satu kucing dan boneka jerami buatan ayahnya.
Awalnya sang Ibu dan Ayahnya melarang Long Kirin kecil keluar rumah, karena mereka mengetahui bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa anak mereka. Namun karena merasa tidak tega melihat Long Kirin kecil terus memohon sambil menangis, akhirnya mereka mengijinkan sampai 20 meter dari rumah. Akan tetapi, anak mereka terlalu larut dalam kebahagiaan saat melihat dari kejauhan ada segerombolan anak-anak seusianya sedang asik bermain bersama. Long Kirin mendekati mereka berharap mendapatkan teman dan nyatanya dia mendapatkan pukulan dari mereka semua.
Long Kirin kecil terus menangis, wajahnya tertunduk dalam kedua dengkul kakinya. Sampai dia tidak menyadari bahwa ada seorang bocah mendekatinya sambil membawa sebuah ranting pohon cukup besar untuk kepalan tangan bocah itu dan tabung bambu yang tidak tahu apa isinya.
Sontak pemuda itu mengetahui niat buruk dari bocah tersebut. Dia mencoba memperingati dirinya sendiri, namun suaranya tidak terdengar oleh Long Kirin kecil.
Long Kirin kecil terkejut ketika merasakan hangat dari atas kepalanya. Perlahan sebuah cairan berwarna kuning kehijauan mengalir dari kepala menuju bibirnya. Long Kirin kecil segera menutup hidungnya karena cairan itu tercium sangat bau.
Rupanya isi dalam tabung bambu itu adalah campuran kotoran hewan dan air kencing dari bocah yang membawa dan lima temannya.
Bocah itu bernama Wong Lee, dialah yang provokator dalam penyerangan terhadap Long Kirin kecil.
Wong Lee tersenyum mengejek kepada Long Kirin kecil, lalu memukuli punggung bocah itu sampai puas.
Long Kirin kecil hanya tertunduk melindungi kepalanya agar tidak terkena pukulan ranting dari Wong Lee.
Pemuda yang melihat dirinya sendiri tersiksa menjadi marah seketika, wajahnya memerah seperti lava dalam gunung berapi. Ia ingin sekali mematahkan tangan dan kaki serta merobek mulut Wong Lee, namun Long Kirin tak mampu untuk maju.
Long Kirin terus berusaha untuk mendekati Wong Lee, namun selalu gagal sampai emosinya meledak-ledak. Ternyata akibat emosinya itu, sebuah aura hitam terlihat muncul dari belakang pundaknya.
Seketika ruangan itu berganti lagi dan menunjukkan masa kelam yang lain. Di sebuah ruangan dimana terlihat Long Kirin kecil dan kedua orang tuanya sedang duduk menunggu seseorang.
Datanglah seorang pria bertubuh tambun masuk dengan mulut berisi paham ayam goreng. Dia adalah Walikota Lembah Hijau, Zhang Lu.
Ternyata maksud kedatangan orang tua Long Kirin adalah untuk mendaftarkan anaknya mengikuti latihan di tempat pelatihan dasar.
Zhang Lu dengan wajah mengejek berkata, "Kalian mau menghina aku apa?"
"Ma-maksudnya apa, Walikota?" tanya Lin Xie, ibu dari Long Kirin.
"Jangan berpura-pura tidak tahu, anak kalian itu keturunan iblis." Zhang Lu menjawab sambil menyemburkan tulang ayam ke samping. "Sudah pergi sana, latih anak kalian sendiri. Percuma dia masuk ke dalam pelatihan, dia hanya akan jadi beban dan memalukan kota Lembah Hijau." Sambung Zhang Lu.
Long Yan mengepal tangan sangat kuat, menahan hinaan untuk anak semata wayangnya. Urat-urat kecil menghiasi kening dan kedua tangannya. Ingin sekali dia menghajar Zhang Lu sampai sekarat, namun niatnya dihentikan oleh istrinya. Lin Xie menyadari bahwa Long Yan tidak akan mampu melawan Zhang Lu.
Walikota Lembah Hijau hanya tersenyum mengejek melihat Long Yan yang menahan amarah. "Jangan memancing keributan, nanti kau akan dapat hukuman. Aku Walikota Lembah Hijau bisa membuat kau dan keluargamu menderita dan ingat aku adalah pendekar bintang 4 tahap perak dengan 2 titik." Zhang Lu memajukan tubuhnya dan menatap Long Yan sambil mengunyah potongan ayam goreng.
Dengan hati yang sangat panas, Long Yan mengajak istri dan anaknya pergi dari ruangan busuk itu.
"Ingat! Jaga keturunan iblis itu! Kalau tidak dia akan mati dimakan siluman!" teriak Zhang Lu ketika mereka bertiga telah keluar dari ruangan. Walikota Lembah Hijau itu tertawa dan kembali mengunyah potongan ayam goreng.
Dalam perjalanan pulang, semua penduduk menyoraki Long Kirin kecil.
"Keturunan iblis! Mati saja kau!"
"Tidak pantas kau hidup!"
"Beban keluarga!"
"Ibu dan ayahmu pasti menderita punya anak seperti kamu!"
"Long Yan! Sebaiknya kau lemparkan saja anakmu ke dalam hutan terlarang. Lebih bermanfaat dia jadi santapan siluman dari pada menjadi keluarga kau, Long Yan!"
"Lin Xie, apa yang kau perbuat di kehidupan sebelumnya?! Melahirkan anak keturunan iblis adalah suatu aib bagimu!"
"Pergi saja!"
Mendengar ejekan dan cacian dari para penduduk, Long Yan dan Lin Xie menahan emosinya dari niat membunuh, karena mereka tidak ingin Long Kirin melihat pertumpahan darah di umur segitu. Long Yan segera menggendong anaknya, lalu mempercepat langkah kakinya untuk pulang.
Long Kirin melihat kejadian lampau itu menjadi lebih marah, ia segera mengeluarkan seluruh kemampuannya dan menciptakan bola api sangat besar. Entah mengapa saat itu dia bisa melepaskan kekuatannya kepada mereka yang menghina.
Semua orang terlihat lari tunggang langgang karena ketakutan.
Long Kirin tertawa bahagia, tawanya seperti iblis yang berhasil membunuh manusia.
Long Kirin terus menerus melemparkan bola apinya kepada para penduduk, lalu berlari masuk ke dalam ruangan dimana Zhang Lu berada.
"Mati! Mati! Mati! Mati!" ucap Long Kirin saat memukuli Zhang Lu.
Kedua mata Long Kirin terlihat berwarna merah gelap dengan pupil mata layaknya iblis.
Long Kirin telah dirasuki niat jahat dalam dirinya.
Kai Rong yang sedang duduk di bawah pohon persik menatap tajam ke arah tubuh Long Kirin yang saat ini mengeluarkan aura kegelapan yang sangat pekat.
'Apakah dia akan berhasil?' pikir Kai Rong.
Long Kirin terus menerus memburu siapapun yang pernah menghina dan menyiksanya dahulu. Tidak terkecuali Wong Lee dan rombongannya. Dia mematahkan tangan dan kaki serta merobek bibir mereka. Long Kirin masih belum puas menyiksa Wong Lee, dia memukuli Wong Lee kecil sampai wajah bocah itu tidak terlihat bagus.
Pemuda itu tertawa lantang setelah membunuh semua orang yang menghina dia di Kota Lembah Hijau.
"Aku kuat! Aku hebat! Mati kalian semua!" teriaknya dan kembali tertawa lantang.
"Siapa lagi! Siapa lagi selanjutnya," ucap Long Kirin. Terlihat air liurnya terus menetes dari bibir, seperti seorang yang kelaparan.
"Mengapa kau seperti ini, Kirin," ucap seorang gadis yang mengejutkan Long Kirin.
Long Kirin segera berbalik arah dengan gaya seperti iblis yang siap menerkam.
Terlihat gadis yang bertanya itu terus mengeluarkan air mata. Wajahnya sayu dan pipinya terdapat noda darah.
Long Kirin yang telah tenggelam dalam kegelapan segera melesat menyerang gadis tersebut. Saat sebelum kepalan tinjunya menyentuh kepala gadis tersebut, tubuhnya berhenti dengan mata kanan Long Kirin berlinang air mata.
"Kara, maafkan aku," ucap Long Kirin. Ia terjatuh dengan dengkul kaki menjadi pondasinya. Long Kirin berteriak sejadi-jadinya, merasa menyesal telah melakukan ini semua.