Di dalam sebuah ruangan, terdapat puluhan anak yang sedang mendengarkan pelajaran dari seorang wanita dewasa. Diantaranya ada enam murid dari keturunan bangsawan. Perbedaan status sangat jelas terlihat, karena pakaian murid bangsawan sangatlah elegan, sedangkan yang lainnya hanya memakai baju biasa.
Wanita dewasa itu bernama Lu Mei, seorang pendekar bintang tingkat tiga tahap perak dengan lima titik. Postur tubuhnya sangat ideal, kulit berwarna kuning langsat, mempunyai lesung pipi serta rambutnya panjang sebahu berwarna hitam. Dia diberikan tugas oleh Walikota Lembah Hijau untuk mengajarkan bagaimana caranya mengendalikan elemen secara efisien kepada pendekar pemula untuk masuk ke tingkat bintang satu tahap emas, karena kemampuannya menjelaskan Lu Mei sangat baik serta wajahnya yang cantik membuat para murid menjadi betah.
Semua anak-anak sangat antusias mempelajari setiap arahan serta tips dari Lu Mei, karena mereka ingin berkembang untuk menjadi pendekar bintang.
"Sebagai seorang pendekar, kalian harus bisa mengendalikan elemen yang kalian miliki. Contohnya seperti ini." Lu Mei membuat gerakan kecil dengan tangan kanannya, lalu timbul gumpalan air dalam skala kecil.
Lu Mei memainkan gumpalan itu dengan sangat santai, melemparkan ke sisi kanan dan kiri pada tangannya. Lalu Lu Mei mendorong gumpalan air tersebut ke arah anak-anak dan mengelilingi mereka. Air itu juga membentuk sebuah tangan untuk mencuil anak perempuan dari keluarga pendekar bintang empat tahap emas, hingga membuatnya tertawa geli dan pipinya menjadi sejuk akibat kekuatan Lu Mei.
Setelah membuat anak-anak menjadi gembira, ia menarik kembali gumpalan itu, lalu memasuki ke dalam telapak tangan kanannya.
"Seperti itu contohnya. Sekarang pejamkan mata kalian, lalu bayangkan elemen yang sudah tercetak di lengan kanan kalian sejak lahir itu keluar dari tangan kalian." Setelah berkata Pandangan Lu Mei ke arah luar jendela ruangan.
'Dia selalu gigih untuk belajar,' gumam Lu Mei saat melihat ke arah luar jendela.
Semua anak-anak mulai memejamkan mata, mereka membayangkan elemen dalam tubuh dan mencoba mengeluarkannya. Lalu beberapa saat kemudian, seorang anak perempuan yang sebelumnya merasakan sensasi kekuatan Lu Mei berhasil mengeluarkan elemennya dengan sempurna. Dia terlihat kegirangan karena berhasil melakukannya.
Gadis kecil itu bernama Yin Kara, cucu dari pendekar terkuat di kota Lembah Hijau bernama Jiang Yu. Lu Mei memuji atas bakat anak dari orang terkuat di Kota Lembah Hijau.
Beberapa menit kemudian, seorang anak lelaki dari keluarga bangsawan berhasil mengeluarkan elemennya. Sebuah kobaran api kecil melayang pada telapak tangan kanannya. Dia mulai memainkan api tersebut dengan ekspresi sombong. Anak itu bernama Wong Lee, dari keluarga bangsawan Wong yang menduduki kekuasaan tertinggi di Kota Lembah Hijau.
Wong Lee yang merasakan bahwa dirinya mampu untuk mengendalikan kekuatan tersebut. Ia mencoba melakukan gerakan yang dilakukan oleh Lu Mei sebelumnya, namun sebelum api itu bergerak menjauh, tiba-tiba kekuatan tersebut meledak di depan wajah Wong Lee.
Semua murid tertawa melihat wajah Wong Lee yang kini menjadi hitam dengan rambut keriting akibat perbuatannya sendiri.
Berbeda dengan Lu Mei, ia merasa bahwa ini akan membuat dirinya mendapatkan masalah jika tidak segera bertindak. Wanita dewasa itu memutuskan untuk menyembuhkan serta membersihkan wajah Wong Lee dengan tenaga dalamnya. Dia memberikan saran kepada Wong Lee untuk tidak mengulangi perbuatannya, karena kemampuan Wong Lee belum kuat untuk mengendalikan kekuatan tersebut dalam waktu lama.
Beberapa waktu kemudian, semua murid telah berhasil mengeluarkan elemennya serta mengendalikan dalam waktu yang cukup lama. Lu Mei sangat kagum akan bakat Yin Kara dan Wong Lee, karena mereka sudah mulai bisa menggerakkan elemen seperti yang ia lakukan sebelumnya. Apalagi Lu Mei merasakan bahwa Yin Kara memiliki tenaga dalam sangat besar dari anak seumurannya.
Saat dalam penjelasan akhir, tiba-tiba dari luar ruangan terdengar suara gaduh seperti benda jatuh. Semua murid serentak keluar ruangan.
"Kenapa sapu itu bisa jatuh?" tanya salah satu murid.
"Hmm, sepertinya ada orang tadi di sini." Wong Lee mengelus pelan dagunya.
"Biar aku lihat," ucap Kara.
Gadis itu melangkah ke depan, melirik ke kiri dan ke kanan. Setelah beberapa menit akhirnya ia berhasil menemukan pelakunya.
'Kirin?' gumamnya.
"Kara! Kau melihat apa?! teriak Wong Lee dari kejauhan.
"Tidak ada apa-apa disini, hanya seekor kucing. Dan dia sudah berlari jauh," balas Kara berbohong.
"Ya udah ayo kita bersiap-siap untuk pulang," ajak Lu Mei.
Semua anak-anak segera merapikan barang bawaan dan berjalan pulang.
Lu Mei mendekati Kara yang saat itu sedang membersihkan ruangan. "Kenapa kamu berbohong, Kara'er?"
"Maksudnya, Guru?"
"Aku tahu kau melihat Kirin di sana."
Kara tertunduk malu karena kebohongannya diketahui oleh Lu Mei.
"Maaf, Guru. Aku tidak ingin Wong Lee dan teman-temannya kembali menyiksa Kirin," jawab Kara dengan suara pelan. Wajahnya menunjukkan rasa bersalah, dimana dia berbohong kepada Lu Mei.
Lu Mei tersenyum lembut kepada Kara, ia mengelus kepala gadis tersebut. "Kau anak yang baik, Kara'er. Aku sebagai gurumu sangat bangga mempunyai murid baik hati."
"Guru tidak marah?"
Lu Mei menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan marah kepadamu. Biarkan saja dia mengikuti pelajaran ini secara diam-diam. Supaya dia paham caranya, walaupun kenyataannya dia terlahir tanpa elemen."
"Ayo kita pulang, Kara'er. Aku tidak ingin mendapatkan masalah dari kakekmu."
"Baik, Guru."
Setelah Lu Mei dan Yin Kara meninggalkan ruangan, Kirin mulai keluar dari per-sembunyiannya. Dia merasa berterimakasih kepada Kara, karena telah menolongnya.
Dengan sebuah tongkat bambu, dia mulai berjalan dengan perlahan. Membenturkan bambunya ke sisi depan, untuk merasakan bahwa jalan itu aman dan benar.
Long Kirin adalah anak satu-satunya yang terlahir tanpa kekuatan dari salah satu lima elemen dasar, ia juga terlahir cacat, dimana Kirin mengalami kebutaan sejak lahir.
Seluruh orang di Kota Lembah Hijau memberikan julukan kepada dia sebagai keturunan iblis, karena tidak memiliki elemen, padahal setiap manusia terlahir dengan satu elemen dari lima elemen dasar.
Ketika seorang anak terlahir di dunia ini, bagian lengan tangannya akan muncul sebuah pola elemen. Elemen besi akan membentuk tanda bulat berwarna abu-abu dengan pola yang rumit. Elemen kayu membentuk sebuah ranting dahan dengan beberapa helai daun berwarna hijau. Elemen air memberikan pola berbentuk lima tetesan air bewarna biru. Elemen api membentuk pola dua kobaran api dan yang terakhir elemen tanah membentuk kotak dengan pola seperti dua gunung di dalamnya.
Dibalik sebuah kekurangan pasti ada kelebihan, itulah yang didapatkan oleh Kirin. Sebagai ganti dari indera penglihatannya yang tidak bekerja, Kirin memiliki indera pendengaran lebih tajam dari manusia lainnya tanpa harus menggunakan tenaga dalam seperti para pendekar bintang tingkat tiga ke atas.
Kirin berjalan menuju ke tempat paling dia sukai, yaitu Bukit Ketentraman. Sebuah bukit yang indah dengan ditumbuhi beberapa pohon persik. Setiap merasakan kegundahan dalam jiwa, ia selalu mendatangi tempat itu untuk bermeditasi beberapa saat dengan menghirup dan merasakan udara segar dari pohon persik.
Kirin duduk di bawah pohon persik kesukaannya yang telah ia tandai dengan sebuah lubang kecil dari tongkatnya, lalu berkonsentrasi untuk melakukan cara yang ia dengar sebelumnya dari Lu MeiMei. Merasakan aliran elemen dalam tubuh. Namun sampai satu jam lamanya, ia tidak bisa merasakan aliran elemen tersebut.
'Kenapa aku terlahir seperti ini. Apa salah aku di kehidupan sebelumnya.'
Kirin menghirup udara segar untuk menenangkan dirinya dari takdir yang membuat ia menderita. Setelah merasa tenang, Kirin mengambil tongkat bambunya untuk berjalan pulang.
Dalam perjalanan pulang, dia tidak sengaja bertemu dengan Wong Lee beserta teman-temannya.
"Hei lihat! Ada keturunan iblis!" Tunjuk salah satu teman Wong Lee.
"Boneka latihan kita datang disaat yang tepat. Ayo kita uji kekuatan elemen kita!" Wong Lee mengajak mereka mendekati Kirin.
Saat mengetahui dirinya dalam bahaya, Kirin memutuskan untuk berbalik mencari arah lain. Namun semuanya terlambat ketika Wong Lee dan yang lainnya sudah mengelilingi Kirin.
"Ayolah, Kirin. Jangan lari, kami sedang ingin berlatih denganmu. Mau kan kau menjadi boneka latihan tahap elemen?" tanya Wong Lee dengan ekspresi sombong.
"Aku hanya ingin pulang, Lee. Tolong jangan ganggu aku."
"Dasar gak tahu diri! Kamu itu keturunan iblis. Harusnya tunduk dengan kami yang keturunan malaikat. Iblis itu akan disiksa malaikat, jadi kamu keturunan iblis harus menerima disiksa keturunan malaikat. Ya kan, teman-teman!" ucap Wong Lee sambil tertawa.
"Aku mohon, Lee. Jangan sakiti aku lagi.
Wong Lee dan teman-temannya tidak menjawab, melainkan melesat maju untuk memukuli dia sampai puas yang membuat Kirin sampai terduduk.
Mereka semua tertawa lantang melihat Kirin menahan sakit dengan kedua mata menangis.
"Jangan menyerah dong, latihan elemennya belum ni!" Wong Lee mulai membuat kuda-kuda yang diikuti teman-temannya untuk mengeluarkan kekuatan elemen.
Masing-masing dari mereka mengeluarkan elemen dengan ukuran kecil, terkecuali milik Wong Lee yang lebih besar dari lainnya.
Kirin berjongkok dan melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Wajahnya terlihat ketakutan karena sebentar lagi tubuhnya akan merasakan kekuatan elemen dari mereka berlima.
Sebelum kekuatan elemen itu menyentuh Kirin, sebuah gumpalan air langsung melindungi tubuhnya dan membuat serangan mereka berlima tidak berhasil melukai Kirin.
"Hentikan perbuatan kalian!" teriak seorang gadis.
"Kara?" ucap Wong Lee.
Semua mata tertuju kepada Kara. Mereka heran mengapa gadis itu melindungi Kirin. Padahal Kirin adalah keturunan iblis.
"Mengapa kalian melakukan itu?! Dia bisa terluka akibat kekuatan elemen kalian!" bentak Kara.
"Cih! Mengapa dari dulu kau melindungi dia sih?!"
"Karena dia temanku!" Kara berkonsentrasi kembali menciptakan elemen airnya untuk bersiap-siap menghajar mereka jika lanjut ingin melukai Kirin.
"Dia itu keturunan iblis, Kara. Tidak pantas mendapatkan perlindungan. Pantasnya disiksa. Iya kan teman-teman?" tanya Wong Lee kepada temannya. Semuanya mengangguk dengan wajah mengejek.
"Jika kalian masih ingin menganggunya, aku pastikan kalian akan menyesal!" Kara langsung merubah bentuk elemen airnya menjadi sebuah pecutan.
"Cih! Jika bukan karena kau cucu dari patriark Jiang Yu, sudah aku pastikan kau akan menyesal karena sudah ikut campur. Kita pergi aja teman-temannya."
Kara mengambil tongkat bambu Kirin dan membantunya untuk berdiri setelah rombongan Wong Lee telah pergi jauh.
"Terimakasih, Kara," ucap Kirin.
"Ayo kita pulang, aku temanimu sampai ke rumah."