09. Pusat Perhatian
Adam tampak menggeleng pelan sambil mengingat kembali obrolan singkatnya bersama Viona saat ia sudah kembali ke dalam kamar resort-nya.
Sekitar dua minggu yang lalu, ibunya Laura itu sempat berkunjung ke cafe miliknya, dan kebetulan sekali saat itu ia memang sedang berada di sana.
Lalu, secara tak sengaja, Viona ternyata mendengar obrolannya bersama salah satu pegawai cafe-nya.
Dari sanalah, Viona jadi mengetahui rencananya yang ingin pergi liburan dalam waktu dekat. Bahkan wanita paruh baya itu juga sempat bertanya ia akan pergi liburan ke mana, dan akan pergi dengan siapa. Sehingga ia pun mengatakan yang sesungguhnya, bahwa ia akan pergi berlibur bersama kedua saudara sepupu wanitanya, serta dua orang sahabat prianya. Walaupun pada kenyataannya salah satu dari sahabatnya itu malah membatalkan janji untuk ikut liburan bersama.
Namun, malam ini ia malah mengetahui sebuah fakta, kalau Laura menginap di resort ini atas rekomendasi dari ibunya. Padahal, salah satu cabang Daraja Resort milik adik iparnya Viona juga terletak di kota ini. Lantas, kenapa Laura malah dianjurkan untuk menginap di resort milik orang asing ini?
Jadi, Adam mulai menarik sebuah kesimpulan, bahwa Viona sepertinya sengaja melakukan ini semua. Karena hal itu terasa cukup nyata bagi dirinya.
Dan sesungguhnya Adam juga mengetahui kalau Viona sudah memberinya lampu hijau untuk mendekati Laura sejak jauh-jauh hari.
Namun, semenjak Laura membatalkan janji makan siang mereka tempo hari, Adam juga sebenarnya bisa merasakan kalau Laura mulai menjaga jarak sekaligus perlahan-lahan menarik diri dari kedekatan mereka yang baru akan terjalin.
Lalu malam ini, Adam merasa kalau Laura sudah kembali membuka diri. Karena hal itu terlihat sangat kentara sekali.
“Ck, wanita memang sulit untuk dimengerti.” Adam mulai terkekeh sendiri, dan segera bergegas untuk mengistirahatkan diri.
Sementara di kamar lain, Laura malah sibuk berpikir. Kali ini ia ingin benar-benar memantapkan hati, agar bisa segera melupakan Marvin. Karena bagaimanapun, pria itu adalah sepupunya sendiri.
Laura lantas membuka kembali kamera miliknya, dan melihat kembali hasil jepretan dari salah satu pegawai resort yang tadi sempat dimintai bantuan supaya bisa membidikkan kamera itu ke arah dirinya dan Adam yang sedang duduk berdampingan. Karena pria itu tadi sempat meminjam kameranya, lalu memfoto beberapa pemandangan di sekitar mereka, serta memfoto dirinya yang sedang menghabiskan menu makan malam secara diam-diam. Hingga secara tiba-tiba, Adam pun meminta tolong kepada salah satu pegawai resort yang kebetulan sedang lewat agar bisa memotret foto mereka berdua. Bahkan pria itu juga langsung berpindah posisi dengan sigap, dan duduk tepat di sampingnya.
Mereka berdua hanya berfoto dengan pose yang terlihat biasa-biasa saja. Bahkan saat petugas resort menyuruh mereka untuk duduk lebih dekat, Adam mengatakan kalau hal itu tidak perlu dilakukan.
Namun, entah mengapa, berfoto sekaligus duduk bersebelahan di samping Adam malah membuat dirinya jadi gugup seketika. Padahal, pria itu sama sekali tidak melakukan apa-apa.
Laura merasa ... mungkin inilah saat yang tepat untuk mulai membuka hatinya kepada seorang pria, dan tiba-tiba saja ia kembali mengingat ucapannya Syakira. Karena ucapan wanita itu memang benar, saat ini usianya sudah dua puluh delapan tahun, dan sudah waktunya untuk ia benar-benar serius mencari pasangan hidup.
***
Saat ini Laura sedang duduk sendirian tak jauh dari bibir pantai sambil menikmati kelapa muda, dan sesekali memotret suasana pantai yang menyejukkan mata. Sementara orang-orang di sekelilingnya tampak sibuk berenang, berjemur, ataupun saling bercengkerama.
Meskipun ini sudah kesekian kalinya Laura pergi liburan ke suatu tempat tanpa ditemani oleh siapa-siapa, tapi ia merasa ... kalau di liburannya kali ini seperti ada sesuatu yang kurang.
Namun, ia tidak tahu apa yang ‘kurang’ itu.
Kalau saja Syakira belum menikah, pasti saat ini Laura sudah mengajak sahabatnya itu untuk ikut cuti sekaligus berlibur bersamanya. Karena mereka berdua cukup sering pergi liburan berdua.
Beberapa saat kemudian, Laura sudah dikejutkan oleh kedatangan Adam yang tiba-tiba saja langsung duduk di sampingnya. Lalu menyapanya dengan senyum ramah, yang membuatnya jadi ikut tersenyum juga.
“Kau tidak ingin ikut berenang?” tanya Adam kemudian sambil mengernyit ke arah orang-orang yang sibuk b berenang di tengah pantai.
Laura tampak menggelengkan kepalanya. “Tidak.”
“Kenapa?” Adam kembali bertanya sambil menoleh sekilas ke arah Laura yang sedang duduk di sampingnya.
“Entahlah,” gumam Laura sembari mengangkat bahunya. “Aku tidak tertarik untuk berenang sendirian di tempat yang ramai.”
Adam langsung terkekeh pelan. “Oh, jadi saat ini kau sedang butuh seorang teman?” tanyanya dengan nada menggoda.
“Tidak juga.“ Laura tampak tertawa kecil ke arah Adam. “Tapi aku memang jarang berenang di pantai.”
“Kenapa?”
Laura lantas meringis pelan. “Tempatnya terlalu ramai. Well, itu membuatku sedikit tidak nyaman.”
Adam hanya mengangguk mengerti di tempatnya. “Oh ya, nanti sore kau ada agenda apa? Kalau kau mau, kau bisa bergabung dengan rombonganku untuk ikut ke air terjun.”
“Memangnya tidak apa-apa kalau aku ikut bergabung? Bagaimana dengan sepupu dan sahabatmu?” tanya Laura sedikit ragu.
“Tidak apa-apa, bahkan Tiana sendiri lah yang berinisiatif untuk menyuruhku agar turut mengundangmu.”
Tiana adalah salah satu sepupunya Adam yang waktu itu sempat berkenalan dengan Laura.
“Itu pun kalau kau memang mau,” tambah Adam setelah itu.
Laura sempat terdiam beberapa saat, sampai akhirnya ia pun mulai menyetujui ajakan dari Adam barusan. Lagi pula, tidak ada salahnya kalau ia ikut bergabung bersama rombongannya Adam. Karena mereka semua bersikap ramah terhadap dirinya. Padahal, mereka semua baru saling mengenal.
***
“Apa kau sudah pernah ke sini sebelumnya?” tanya Laura saat Adam mengulurkan tangan untuk membantunya menuruni sebuah bebatuan yang cukup besar. Sedangkan Andreas sudah lebih dulu terjun ke bawah bersama tunangannya, Erlita. Lalu disusul dengan Tiana yang baru saja selesai membuka bajunya, hingga memperlihatkan baju renang berwarna hitam yang sengaja digunakannya di balik pakaian.
“Ya, beberapa kali, tapi aku tidak pernah bosan untuk datang ke sini lagi. Terlebih kali ini aku tidak datang sendiri.” Adam menatap Laura dengan tatapan penuh arti, tapi Laura tidak menyadarinya sama sekali. Karena pandangannya sudah sibuk menyapu ke sana dan ke mari, ke arah pemandangan indah yang sedang tersuguh di sekelilingnya saat ini.
Tak lama setelah itu, keduanya pun ikut menyusul yang lain. Mereka berenang di air yang terus mengalir. Bahkan ada beberapa turis asing yang juga turut hadir.
Laura benar-benar menikmati air segar yang tengah mengelilinginya saat ini. Ia berenang bersama Tiana. Tetapi, akhirnya Erlita ikut bergabung bersama mereka berdua.
Kemudian, Adam berhenti berenang, dan mulai menyandarkan tubuhnya di dekat bebatuan sambil mengamati Laura yang terlihat sangat lepas berada di antara kedua sepupu wanitanya.
“Wow.”
Adam langsung menolehkan kepalanya ke arah Andreas yang datang menghampirinya.
“Mereka cepat akrab ya,” ucap Andreas yang sedang menampilkan raut wajah jenaka sembari menatap ke arah tiga orang wanita yang tengah menyembulkan kepala mereka di dekat air terjun sana.
Adam hanya bergumam sekilas, dan kembali sibuk mengamati sosok Laura dari tempatnya bersandar sekarang.
Namun, di dua menit berikutnya, Adam langsung melebarkan kedua pupil matanya begitu melihat Laura yang mulai menolehkan wajah, lalu melempar senyum tipis ke arahnya sebelum kembali memusatkan perhatian ke arah Erlita yang sedang berbicara. Entah apa yang sedang Erlita bicarakan, tapi menurut Adam hal itu tidak perlu diperhatikan. Karena pusat perhatiannya saat ini hanyalah Laura seorang.
*****
Gimana? Apa pendapat kalian tentang Adam?
BTW, jangan lupa masukkan cerita ini ke dalam daftar pustaka kalian. Terus follow juga akun @ruangbicara
Terima kasih sebelumnya :)