“Jadi, apa yang ingin kamu pelajari terlebih dahulu?” “Sebenarnya aku sendiri tidak tahu harus mulai dari mana. Menurutmu, aku harus belajar apa dulu?” “Bagaimana kalau kita mulai dari rukun Islam? Kamu sudah tahu apa saja, kan?” “Iya. Aku sudah tahu. Syahadat, salat, puasa, zakat, naik haji. Iya, kan? Aku sudah ngerjain semuanya, kecuali yang terakhir. Ya ... walaupun salatnya kadang suka telat atau bolong.” Aku tertawa di ujung kalimatku. “Benarkah? Jadi, apa rencanamu untuk memperbaiki itu?” Seperti anak kecil yang tengah kecewa, aku malah mengerucutkan bibir. Tapi, begitu menyadari sikap kekanakan yang entah mengapa bisa muncul itu, aku tersenyum canggung. Lalu, aku menggaruk tengkuk. Aku melirik Hafiz yang tertegun. Apa dia sempat melihat ekspresiku yang memalukan tadi. Aku meng

