22. Adila

1170 Kata

“Kamu sadar apa yang baru saja kamu katakan?” Pertanyaan Diva hanya aku jawab dengan anggukan lemah. Aku seakan belum menyadari apa yang baru saja terjadi. Mataku belum berpindah pada sosok pria tinggi yang berjalan ke arah pintu perpustakaan. Bahkan pandanganku masih belum beralih ketika dia sudah menghilang di balik pintu.  Apa yang aku pikirkan saat mengatakan kalimat tak masuk akal itu pada pria yang bernama Danu, teman Arvino. Bisa-bisanya aku memuji Arvino di depannya. Bagaimana kalau Danu mengatakan pada Arvino dan aku yakin kalau kekhawatiranku akan terjadi. Mau bagaimana lagi. Ucapanku sudah tidak bisa ditarik kembali. Kepalaku berdenyut-denyut. Aku memejamkan mata untuk mengusir pembicaraanku dengan Danu tadi. Tidak ada yang salah selain satu kalimat yang aku lontarkan dengan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN