Chapter Six - Heart Broken Necklace ✓

1211 Kata
Suasana meja makan keluarga Ranjaya sangat ramai. Siapa lagi kalau bukan karena celotehan Lio dengan Ella. Mereka nampak bercerita ria sesekali tertawa, tak lupa Oma Risma juga ikut menimpali candaan mereka. Sarapan kali ini terasa lebih mahal dari biasanya. Rumah itu terasa lebih hangat, karena menghadiri Ella di rumah Lio, sang pemilik harus pergi ke kantor cabang saat weekend. Ada masalah dalam pengembangan proyek bisnis di sana. Pagi ini hari minggu, sungguh menyenangkan bagi Ella karena sopir keluarga Ranjaya sudah berdiri di depan apartemennya. Sopir berusia paruh baya itu mengatakan bahwa ia mendapat perintah dari Oma Risma untuk menjemput Ella di apartemennya. Karena permintaan Lio yang ingin menghabiskan hari minggunya bersama Ella. Dan Ella juga tidak memiliki jadwal, maka Ella menyetujuinya. "Kak Ella, ayo temani Lio bermain lego di kamar!" ucap Lio seraya menarik tangan Ella untuk berdiri. "Sebentar Lio, pelan-pelan jalannya," ucap Ella lembut dan menggenggam tangan Lio yang menarik ke kamar anak itu. "Lio jangan tarik tangan Kak Ella seperti itu!" teriak Oma Risma yang melihat cucunya tak sabaran. "Siap Oma ku sayang!" teriak Lio pada Oma Risma. Oma Risma hanya tersenyum menggelengkan maklum mendengarnya. 'Seandainya kau masih hidup Sofia. Kau pasti senang melihat anakmu sangat cerewet dan suka menang sendiri itu' Tersisa Oma Risma yang membantu bibi merapikan meja makan. Setelah ini, Oma Risma akan mengunjungi rumah saudaranya. Ia lega telah menitipkan Lio pada Ella. Menurutnya Ella cocok menjadi Mama untuk Lio. Tak ada yang salahnya Oma Risma menjodohkan putranya, Saka dengan Ella? Lagi pula, Lio, sangat menyukai Ella. *** Pertama kali memasuki kamar Lio membuat Ella berdecak kagum. Kamarnya sangat bersih dan mainannya tertata dengan rapi. Dindingnya di kartun kartun Thomas and Friends dan warna biru laut yang menyejukkan mata. Banyak stikers berbentuk kereta Thomas dengan warna jaman sekarang. "Kamar Lio sangat bersih dan nyaman. Kak Ella jadi suka," ucap Ella yang sesekali mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar Lio. "Kalo Kak Ella suka. Kak Ella boleh kok bobo di sini sama Lio." "Lio pengen kalo malem dibacain dongeng, di usapin punggungnya sampek Lio tidur." "Tapi itu nggak mungkin, karena Lio cuma punya Papa," ujar Lio dengan mata berkaca pada Ella. Ella yang mendengarkan hanya diam dan mengulas senyum. "Sini, Kakak peluk!" Ella merentangkan persetujuan pada Lio. Lio pun merangsek masuk ke pelukan Ella. Ella memeluk dengan penuh, seakan tak mau pergi Ella pergi. Membiarkan tangisnya pecah dalam dekapan Ella. Cukup lama buat tangis bocah manis itu berhenti. "Hei, Kak Ella di sini. Lio mau berbagi cerita?" ucap Ella yang masih mengusap punggung kecil Lio. "Lio rindu Mama, Lio rindu... Hikss, Lio ingin ketemu Mama hikss... Hikss." ucap Lio dengan menangis. "Lio sayang. Lio nggak boleh sedih nanti Mama Lio juga ikut sedih loh," ucap Ella dengan menyeka air mata Lio. "Kalo Lio kangen Mama Lio, Lio harusnya doain Mama biar Mama dijagain sama Tuhan, minta Tuhan buat sampein rindunya Lio ke Mama... Sekarang kita sama-sama doain Mama Lio ya, bilang ke Tuhan kalo Lio rinduuuu sekali sama Mama, Lio mau?" Lio hanya memandangi mata Ella dan menganggukkan dikeluarkan, di bimbing Ella Lio menangkupkan kedua tangannya dan mulai berdoa. Tanpa menghiraukan mata elang yang menatap di balik pintu, tanpa suara ia menutup pintu dengan pelan. Membiarkan gadis yang tidak ia ketahui itu bermain bersama putranya. Di dalam kamar Ella berniat untuk mengajak Lio bermain. "Sekarang perasaan Lio pasti sudah tenang kan? Kita main lego yuk?!" ajak Ella dengan senyum. "Hm!" angguk Lio dengan semangat. "Mana contoh biar legonya, Kak Ella bantu buat. Lio mau buat apa? Pesawat? Robot? Atau gedung yang tinggi?" ucap Ella dengan penuh semangat. "Lio mau pesawattt!" teriaknya memenuhi penjuru kamar. Suasana dikamar Lio siang ini diwarnai gelak tawa lepas dari candaan Ella. Bermain sepuasnya hingga selesai dan tertidur di karpet dengan mainan yang berserakan di sekitar mereka. *** Lampu dari luar jendela bersinar, membuat Lio yang tadinya tertidur mengucek matanya silau. Lio membuka pintu kamarnya, sebelum keluar ia melihat gadis dewasa yang tertidur di karpet di kelilingi mainan lego miliknya yang tercecer. Seketika Lio mengingat siang tadi, ia dan Kak Ella bermain sampai selesai. Manik hitamnya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 18.05. Tanpa membangunkan seseorang yang masih terlelap nyaman itu, Lio berjalan membuka pintu mencari Papanya. Karena kemarin Papanya pamit untuk pergi ke kantor cabang dan menunggu kembali hari ini. Di ruang keluarga ia menemukan Papanya sedang menonton tv dan sambil memegang gadget ditangannya. "Papaaa!" Lio teriak sambil berlari menubruk Papanya. "Hai, jagoan Papa. Sudah puas bermainnya?" tanya Saka pada putranya. "Sudah. Padahal Kak Ella juga tertidur di kamar Lio, saking asyiknya bermain." cerita Lio pada Papanya. "Kak Ella?" tanya Saka bingung. "Kakaknya Lio!" jawab tegas Lio. "Baiklah, terserah Lio saja. Sekarang Lio lapar? Papa akan panggilkan bibi untuk membuatkan Lio makanan ya?" tanya Saka pada putranya. "Ayam goreng saus teriyaki!" perintah Lio. "Laksanakan tuan, pelayan mu ini siap melaksanakan perintah!" jawab Saka dengan menggendong putranya. "Papaaa jangan tinggi-tinggi nanti Lio jatuh!" teriaknya sambil tertawa kencang. Saka tak menghiraukan teriakan menggema putranya. Ia masih mengangkat putranya tinggi-tinggi hingga menyebabkan Lio terus berontak histeris. Sampai di dapur Saka mendudukkan Lio di kursi meja makan, "Lio lelah tertawa karena Papa!" katanya dengan napas memburu. Saka hanya tersenyum dibuatnya. "Papa, Kak Ella juga belum makan sama seperti Lio. Boleh Papa panggilkan panggil Kak Ella kesini?" "Iya, Papa akan memanggil Kak Ella-mu untuk makan malam bersama kita disini. Jika masakan bibi sudah matang Lio boleh makan duluan. Nanti Papa menyusul. Oke!" "Okeee Pa!" seru Lio Saka Berjalan menuju kamar putranya. Di buka pintu jati berwarna biru laut itu dengan pelan. Matanya langsung menuju gadis yang tertidur di atas karpet dengan mainan berserakan di mana-mana. Dengan langkah perlahan Saka mendekati gadis yang tidur membelakangi dirinya. Bersimpuh dan berusaha membangunkan dengan pelan, takut gadis itu terkejut. Belum sampai Saka membangunkan gadis itu Saka melihat kalung di leher gadis itu. Kalung berbentuk patahan hati berwarna perak dengan huruf A yang terbelah di tengah patahan kalung. Pelan-pelan Saka menyibakkan sebagian besar rambut yang mengenai wajah gadis yang tertidur untuk memastikan apa yang ia duga benar. Saka mematung ditempatnya melihat wajah gadis yang tertidur itu. Seketika mengingat bahwa gadis ini adalah gadis ceroboh saat meeting di kantor kemarin. Perlahan pandangan Saka melihat kalung tersebut dengan perasaan berkecamuk, memegang kalung dengan tangan gemetar. Ia sangat mengenal kalung itu dengan pasti. Bahkan Saka memiliki sebagian patahan bandul kalung itu. Apakah gadis dihadapannya adalah dia? Tak lama saat Saka memegang kalung tersebut Ella mengerjabkan karena terusik sesuatu. Alangkah terkejutnya Ella saat melihat wajah pria yang begitu dekat dengan kemenangan. "Akkhhh!" Ella mendorong pria itu karena terkejut. Namun naasnya, pria ini jatuh di atasnya karena jahitan kancing kemeja pria ini tersangkut rantai kalung miliknya. Ella bisa merasakan nafas pria ini. Tubuhnya kaku tidak bisa digerakkan. Matanya menatap mata setajam elang yang menghipnotisnya. Membawa dirinya untuk terus menatap dan menyelami mata itu. "Papaaa! Kok lama banget! Lio udah laper!" "LIO SUSUL KE ATAS YA!" seru Lio dengan kesal. Mendengar teriakan Lio membuat mereka tersadar dan langsung memisahkan diri. Namun sialnya, mereka menghindari fakta kalau jahitan baju Saka masih tersangkut rantai kalung Ella. Yang ada malah kening Saka menghantam kening Ella dengan keras sampai tubuh Ella berdebum dengan lantai. "Awhhh! Sakit!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN