Raka salah. Ia pikir, ia telah memilih istri yang tepat. Sampai Febi melemparkan bom di meja makan, di depan adik-adiknya. Siapa sangka, wanita itu ternyata bermasalah. Segala hal dalam dirinya bermasalah. “Kak Raka ... baik-baik aja?” tanya Dimas hati-hati. Raka berdehem seraya berdiri. “Dia nggak biasanya kayak gini,” jelas Raka. Angga mengangkat alis. “Biasanya? Kalian baru nikah minggu kemarin, Kak.” Anak itu tersenyum geli. “Aku berangkat dulu,” pamit Raka sembari melangkah meninggalkan ruang makan. Ia menghentikan langkah di depan tangga ketika melihat sosok Febi yang sudah siap keluar dan menuruni tangga dengan cepat. “Kamu mau ke mana?” tanya Raka saat Febi melewatinya tanpa menghentikan langkah. “Yang penting aku nanti pulang, kan?” balas Febi sambil lalu. Raka menge

