Bab 2 Get Married?

1665 Kata
Setelah melewati dua malam tanpa tidur, pagi itu Raka tiba di keputusan bulat. Ya, ia akan menikahi putri tunggal Anton. Pertama, wanita itu memenuhi syarat-syarat utama yang dibutuhkan Raka untuk seorang istri. Wanita itu tidak tertarik pada perusahaan, dan sepertinya tak tahu apa pun tentang perusahaan. Yang terpenting, Anton sudah berkata jika Febi akan mendukung Raka. Kedua, selama dua hari terakhir, ia selalu mendapat kiriman foto para wanita yang tak dikenalnya dari Dera. Adiknya itu benar-benar keras kepala. Apa yang ia harapkan? Memangnya hanya dari gambar saja Raka bisa mendapatkan istri? Adiknya itu benar-benar punya banyak cara untuk membuat Raka sakit kepala. Ketiga, tawaran perusahaan Anton tak bisa diabaikannya. Jika putrinya sama sekali tak tertarik dengan perusahaan, itu berarti Raka bisa sepenuhnya mengatur perusahaannya. Ia bisa sepenuhnya mendapat dukungan dari perusahaan itu. Adakah alasan untuk menolak tawaran pernikahan itu? Tidak ada. Raka akhirnya akan menikah. Ia bisa menyelesaikan beberapa masalah sekaligus. Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Raka melirik ponselnya yang berada di samping bantal, berdenting, tanda ada pesan masuk. Raka membuka pesan gambar dari Dera. Seorang wanita dengan sudut mata tajam. Tanpa ragu, Raka membalas Dera dengan pesan, ‘Kakak udah punya calon istri. Segera, kamu bakal ketemu sama kakak iparmu.’ Beberapa detik kemudian, ponselnya berbunyi. Ada telepon masuk dari Dera. Raka menimbang-nimbang selama tiga detik, sebelum akhirnya mengangkat telepon. “Kakak bilang apa? Kakak ipar? Kak Raka serius? Kakak nggak bayar orang buat nikah sama Kakak atau semacamnya, kan?” Tuduhan kejam Dera dibalas Raka dengan, “Nggak. Dalam waktu dekat, Kakak bakal nemuin kamu sama dia. Jadi, berhenti ngirim foto entah siapa pun lagi ke Kakak. Dan tunggu kabar dari Kakak.” “Tunggu, tunggu! Kakak beneran mau nikah? Sama siapa? Gimana bisa?” Kali ini Raka memberi jawaban pendek, “Segera, kamu bakal tahu sendiri.” Raka merasakan beban super berat di dadanya seketika terangkat. Akhirnya, ia bisa terbebas dari teror Dera dan fokus dengan pekerjaannya. Akhirnya, ia mendapatkan ketenangan hidupnya lagi. Menikah memang adalah keputusan yang tepat. Ini adalah keputusan terbaik yang ia ambil seumur hidupnya. *** “Kak Raka kenapa, Ra? Mau nikah? Beneran? Sama siapa?” Berondongan pertanyaan Dhika tak bisa langsung dijawab Dera. Dera menatap suaminya, masih sebingung sebelumnya. Ini terlalu mendadak. Kakaknya tidak memilih sembarang wanita yang lewat di depan rumahnya, kan? Tidak. Raka tidak setak logis itu. Ia selalu punya rencana. Dera tahu itu. Lalu, ini apa? “Kak Raka mau nikah?” Suara itu datang dari Anna yang baru memasuki dapur. “Antri dulu! Anna sama Damar dulu ya, yang udah ngumumin. Nggak boleh nyerobot.” Dera mendengus geli mendengar itu. “Kalau gitu, kamu bilang sendiri ke Kak Raka, ya?” Anna mengerutkan kening tak setuju. “Tapi, Kak Raka nikah sama siapa? Emang punya cewek?” Dera meringis. “Itu juga yang Kak Dera nggak tahu.” “Patut dicurigai.” Anna duduk di sebelah Rendra, mencomot sepotong snack kesukaan Rendra. Seketika, tatapan tajam Rendra tertuju pada Anna. “Sepotong aja, Ren. Jangan pelit.” Dera dan Dhika hanya tersenyum geli setiap kali Anna menggoda Rendra. Bisa dibilang, ini balas dendamnya. Mengingat apa saja yang pernah dilakukan Rendra pada Anna. “Kamu kayak gini makanya Rendra ngusilin kamu terus.” Damar menyambar snack yang nyaris masuk ke mulut Anna dan mengembalikannya ke piring Rendra. Dera bahkan tak tahu kapan anak itu datang. Namun kini, giliran Anna yang menatap Damar tajam. Anna dan Rendra memang mirip dalam banyak hal. “Sarapan yang normal, kayak orang dewasa lainnya,” komentar Damar seraya duduk di depan Anna yang masih menatapnya tajam. “Dan pulang kerja nanti, aku mau ngajak kamu kencan.” Seketika, tatapan Anna berubah. “Serius? Kamu nggak lembur lagi?” Anna melirik Dhika sinis. Pasalnya, Dhika memang banyak mengandalkan Damar di perusahaan game-nya. “Nggak. Jadi, berhenti ngelihatin Kakak kayak gitu,” Dhika menjawab. Anna melengos cuek dan kembali menatap Damar. “Nanti aku yang nentuin filmnya,” katanya. “Daripada kalian nonton nggak jelas, mending kalian fokus nyiapin pernikahan,” cetus Dhika. “Katamu tadi, kamu nggak mau dibalap Kak Raka.” Dhika memanas-manasi Anna. Seketika, Anna menegakkan tubuh. “Benar juga.” Ia menarik napas dalam, lalu berbicara pada Damar, “Sori, kayaknya hari ini kita nggak bisa kencan. Kita harus ngecek undangan. Katanya, contohnya udah jadi.” Damar tersenyum geli. “Padahal pas kita liburan ke luar negeri dulu, kamu sempat ragu sama pernikahan kita.” Anna mendesis kesal. “Jangan dibahas. Waktu itu kan, aku kena semacam wedding syndrome. Gara-gara kamu yang terlalu sempurna sampai bikin aku minder.” Damar tertawa pelan. “Kamu juga sempurna buat aku, Ann. Dalam segala hal,” balasnya. Anna tampak bersemu, tapi ia tetap memasang wajah cool. “Sempurna dalam bikin masalah, maksudnya?” celetuk Dhika. Anna menatap kakaknya kesal. “Kak, Anna pihak yang kalah di sini. Jangan dibikin lebih buruk lagi. Kakak mau kehilangan adik ipar sekeren Damar?” Dhika tersenyum geli. “Emangnya Damar bisa pergi dari kamu?” “Nggak, lah! Anna nggak bakal ngebiarin dia pergi. Enak aja dia pergi bawa hati Anna.” Anna bahkan tak sedikit pun tampak canggung mengatakan itu. Tidak dulu, tidak sekarang, jika sudah menyangkut perasaannya pada Damar, Anna tak pernah kalah. Tak mau kalah. “Aku juga nggak mungkin bisa ninggalin kamu, Ann. Satu-satunya yang megang hatiku cuma kamu,” balas Damar. Sepertinya ia mulai mengimbangi Anna dalam hal ini. Meski kemudian, Anna membalas, “Tapi tetap aja, aku yang lebih banyak cintanya sama kamu. Aku duluan yang suka kamu, aku duluan yang cinta kamu dan aku ...” “Makanya, mana mungkin aku bisa ninggalin kamu, kan?” sela Damar tenang. Jika itu untuk Anna, Damar tak pernah kesulitan untuk mengalah. Tanpa kata, ia menunjukkan betapa dalam perasaannya untuk Anna. Adik ipar Dera itu saja yang kadang tak bisa melihat itu. “Omong-omong tentang Kak Raka, dia emangnya mau nikah, Kak?” Damar bertanya pada Dhika. Dhika mengedik ke arah Dera. “Tanya dia deh, jelasnya gimana.” Dera mendesah pelan. “Aku juga nggak tahu gimana, tapi tadi Kak Raka tiba-tiba ngomong kalau dia udah punya calon istri. Nggak tahu deh, itu nemu di mana.” “Iya, nih. Padahal, berita dekat sama cewek nggak pernah, tapi tahu-tahu mau nikah aja,” timpal Anna. “Itu Kak Raka bayar orang atau gimana, Kak?” “Tadi juga itu yang Kak Dera tanyain ke dia,” balas Dera. Anna menggeleng-gelengkan kepala. “Ck, ck, ck. Kak Raka kayaknya baca novel-novel romantis deh, diam-diam. Gimana bisa dia kepikiran itu?” Damar dan Dhika tersenyum geli mendengar tuduhan Anna. “Tapi, Anna jadi pengen interview Kak Raka, deh. Lumayan, bisa jadi cerita baru.” Anna terdengar begitu mantap. Dera memikirkan kata-kata kakaknya tadi dan menyetujui usul Anna. Raka sudah menyuruh Dera menunggu, jadi Dera akan melakukannya. Namun, tak masalah kan, jika Anna yang datang dan mencari tahu padanya? “Cari info sebanyak mungkin, Ann,” pesan Dera. Anna mengangguk tanpa ragu. “Nggak kebayang betapa pusingnya Kak Raka ngehadapi kalian kalau udah bersekongkol gini,” dengus Dhika geli. “Kurang lebih sama kayak pusingnya Kak Dhika atau Damar, lah,” balas Anna enteng, tak sedikit pun merasa bersalah. Dera tersenyum geli, sementara Damar dan Dhika menggeleng-geleng pelan. Keluarga kecil yang bahagia seperti ini, Dera juga ingin kakaknya merasakannya. Sama seperti dirinya yang hidup bahagia, kakaknya pun harus begitu. Dera akan memastikan itu. *** Canggung. Itulah yang menjadi makan siang Febi. Dengan pria bernama Raka yang juga adalah calon suaminya, duduk di hadapannya. Meski begitu, Raka tak kesulitan menelan makan siangnya. Sementara, Febi yang sedari tadi hanya memainkan makan siangnya, menatap pria itu lekat. Tak ada yang salah dengan pria itu. Ia memiliki garis wajah tegas. Jujur, ia tampan. Dengan alis tebal dan hidung mancungnya. Ia juga kaya. Dan tak pernah ada skandal tentangnya dengan wanita mana pun. Masalahnya, hanya sampai di situ Febi tahu tentang pria itu. Setelah pembicaraan dengan papanya dua hari lalu, tentang tawaran pernikahan dengan Raka, atau lebih tepatnya, titah menikah dengan pria ini, Febi tak berani menanyakan apa pun lagi pada papanya. Bahkan ketika tadi pagi, papanya memberitahu jika Febi akan menikah dengan Raka, segera, Febi tak membantah. Jadi, di sinilah ia sekarang. Makan siang bersama calon suaminya. Tanpa kata menerima pernikahan, atau perjodohan itu. Yang mana pun tak penting. Febi tahu, hidupnya akan berakhir seperti ini. Hanya saja ... “Kamu nggak suka makanannya?” Pertanyaan Raka membuat Febi menarik diri dari pikirannya. “Apa?” Febi balik bertanya sembari memproses pertanyaan Raka, sekaligus memikirkan jawabannya. “Dari tadi kamu nggak makan makananmu. Kalau kamu nggak suka ...” “Kamu beneran mau nikah sama aku?” tembak Febi tanpa tedeng aling-aling. Tatapan Raka yang tadinya tertuju pada piring makan siang Febi, berpindah ke wajah Febi. “Ya.” Tak sedikit pun terdengar keraguan di sana. “Kenapa?” tanya Febi. “Kamu sendiri, kenapa kamu setuju nikah sama aku?” Raka balik bertanya. “Itu ... karena Papa,” jawab Febi jujur. “Aku juga. Seenggaknya, sebagian.” Balasan pria itu membuat Febi mengerutkan kening. “Sebagian lagi?” tanyanya hati-hati. “Aku butuh wanita kayak kamu buat jadi istriku,” ucap pria itu. “Dan kamu nggak perlu khawatir, aku nggak akan ngerampas kebebasanmu meski kita udah nikah nanti. Kamu bisa ngejalanin hidupmu kayak biasa. Kamu bisa shopping, jalan-jalan ke luar negeri, ngelakuin apa pun yang kamu pengen. Kamu toh nggak tertarik sama perusahaan. Sementara, aku butuh perusahaan papamu sama statusmu sebagai istriku.” Febi merekam kalimat pria itu, alasannya menikah dengan Febi. Benar, karena perusahaan. Papa Febi tidak akan menikahkan Febi hanya karena perusahaan, tapi pria ini ... ia pasti menawarkan pada papa Febi, tentang mengurus perusahaan. Mengingat, Febi tak pernah sedikit pun tertarik dengan perusahaan papanya. “Bahkan meski kamu nggak tahu apa pun tentang aku, kamu tetap akan nikah sama aku?” Febi memastikan. Raka mengangguk. “Kamu juga nggak tahu apa pun tentang aku. Lagian, kita berdua sama-sama nggak butuh itu. Kamu, cepat atau lambat, akan butuh suami, meski untuk status sosial. Juga, kamu bakal butuh orang buat nerusin perusahaan papamu. Kebetulan, itu juga yang aku butuhin. Perusahaan, istri yang nggak peduli sama perusahaan, dan itu kamu.” Febi tahu, ia akan terlibat dengan hal semacam ini. Perjodohan. Namun, Febi tak pernah tahu, papanya akan membiarkan Febi menikah dengan pria gila harta, jabatan dan status sosial seperti Raka. Namun, Febi tak bisa membantah. Ia tak ingin membantah dan mengecewakan papanya. Papanya tahu yang terbaik. Meski Raka hanya menginginkan perusahaan dan status pernikahan, tapi seperti yang dikatakan papanya, pria ini akan menjaga Febi. Dulu, Febi pernah jatuh ke tangan yang salah, percaya pada orang yang salah. Setelah itu, papanya menjadi begitu over-protektif padanya, dan Febi tak mau lagi percaya pada hal selain papanya. Jadi, kali ini pun, ia tak punya pilihan lain. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN