"Begitu lebih baik daripada saya harus berpura-pura mengenal anda," dengus Cella kesal.
"Sebenarnya apa yang diinginkan laki-laki ini," batin Cella.
Saat Cella akan melangkah pergi, Patra kembali menahan tangan Cella. Sekarang lebih lembut tidak seperti tadi. Patra tahu dan sangat mengerti bagaimana mamperlakukan wanita agar tunduk akan perintahnya.
Memang berasal dari keluarga kaya, tampan serta banyak digilai wanita. Namun Patra bukanlah laki-laki yang suka kencan dengan siapapun di luar sana. Di usianya yang terbilang hampir matang, Patra dituntut sang nenek untuk segera menikah. Dia sudah berusaha meyakinkan kedua orangtuanya agar nenek tidak mencampuri urusan hidupnya, tapi sia-sia.
Sudah lama Patra memendam rasa kepada Cella karena dia sering berkunjung ke bar. Laki-laki itu memastikan Cella wanita baik-baik atau w************n seperti yang biasa Patra kenal. Sering menyelidiki kehidupan Cella, tidak hanya sekali dia mengikuti wanita itu pulang.
Hampir tiga tahun usaha Patra untuk meyakinkan hatinya jika Cella wanita baik-baik. Tiga tahun yang lalu dia juga sempat menyelidiki ke sekolah Cella dengan mengaku jika dia kakak sepupunya. Sekolah tentu saja memberika data yang dibutuhkan Patra. Hingga akhirnya malam itu Patra memberanikan diri muncul di hadapan Cella. Itulah alasan yang dimiliki Patra mengapa dia baru berani bertemu langsung dengan Cella. Karena untuk mendapatkan sesuatu yang berharga membutuhkan usaha yang sangat matang agar hasilnya tidak mengecewakan.
"Lepaskan!," tukas Cella serta menarik tangannya, namun tenaga Patra lebih kuat.
"Aku sudah bilang ingin mengenalmu lebih dekat, apa itu boleh?," lirih Patra.
"Aku sudah bilang malam ini aku buru-buru, lagian kamu sendiri yang mengatakan jika lain waktu akan menungguku disini lagi," ucap Cella.
"Baiklah, tapi aku akan mengantarmu pulang," tawar Patra.
"Terima kasih, tapi aku tidak mau merepotkanmu," tolak Cella halus.
Patra melepas tangan Cella, dia memang tidak suka memaksa wanita. Patra tetap mengikuti Cella dari jauh karena tidak ingin hal buruk terjadi pada wanita pujaan hatinya. Melihat Cella membuka ponsel dan seperti menelpon seseorang membuat Patra sedikit kecewa karena merasa dibohongi.
Kembali lagi Patra memutar otak, mungkin Cella melakukan itu agar Patra tidak menerornya. Bisa saja Cella seperti itu justru hanya wanita kegenitan yang akan langsung memberikan nomornya kepada orang tidak dikenal.
Tiba-tiba sebuah mobil berwarna silver menepi lalu membuka kacanya. Cella mengangguk lalu masuk dan duduk di samping pengemudi.
"Mobil itu terlihat mewah, tapi Cella langsung masuk. Aku akan mengikutinya," gumam Patra.
Mobil itu berhenti tepat di depan rumah Cella, lalu pergi setelah Cella turun. Keduanya saling melambaikan tangan dan Patra melihat Cella tersenyum ke arah mobil.
"Tidak! Selama hampir tiga tahun aku mengikutinya dan tidak ada tanda-tanda dia menjadi simpanan hidung belang! Aku harus mengikuti mobil itu! Biarlah malam ini kuhabiskan untuk menyelidiki mobil itu," ucap Patra meyakinkan diri.
Mobil yang tadi mengantar Cella menembus gemerlap malam kota Jakarta dan berhenti di salah satu bar yang cukup ramai. Turun di depan pintu dan meninggalkan mobilnya begitu saja. Kemudian datang seseorang berpenampilan resmi membawa mobik itu.
"Sepertinya membawa ke parkiran, siapa pemilik mobik tadi? Aku bahkan belum melihat wajahnya, tapi menurut posturnya yang tinggi tegap serta kemeja mahal yang dikenakan dia terlihat bukan orang sembarangan," gumam Patra.
Ingin masuk dan menyelidiki siapa laki-laki itu, tapi Patra tidak terbiasa berkeliaran malam tanpa tujuan yang jelas. Dia lebih suka menghabiskan malam dengan membaca biodata Cella. Kebiasaan aneh yang muncul akhir-akhir ini.
Pagi hari seperti biasa Cella bersiap untuk bekerja di restaurant sebagai pelayan. Sedangkan sore hari hingga malam dia akan bekerja sebagai barista di salah satu bar. Kehidupan yang melelahkan dia jalani demi kelangsungan hidup.
Sore hari, pukul 15.00 WIB, Cella bergegas mandi dan mengoleskan pewarna bibir agar terlihat lebih cantik meskipun wanita itu sudah memiliki garis wajah yang cantik alami. Setelah selesai, Cella menuju bar yang siap menanti kedatangannya.
Gemerlap malam yang tidak disukai, tapi terpaksa dia lewati. Cella memiliki harapan jika nanti dia mempunyai uang yang cukup, dia akan membuka usaha sendiri dan menjadi bos. Sekecil apapun pendapatan yang kamu hasilkan, jika kamu pengusaha maka kamulah yang menjadi bos. Namun jika kamu bekerja dengan orang lain, setinggi apapun jabatan yang kamu miliki kamu tetaplah bawahan.
Cita-cita yang sangat mulia untuk Cella dan keluarga kecilnya. Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB, Cella meminta izin untuk pulang karena memang disana hanya bekerja dari jam 16.00 sampai pukul 20.00 selebihnya Cella akan dihitung lembur.
"Mas, aku pulang dulu ya!," pamit Cella kepada Rangga pemilik bar.
Kebetulan Rangga anak dari pemilik restauran tempat Cella bekerja, jadi Rangga sedikit memberi kebebasan untuk Cella. Bekerja hanya sebagai barista part time membuat Cella masih memiliki sedikit waktu untuk menikmati suasana malam kota Jakarta.
"Iya Cella, kamu hati-hati di jalan," ucap Rangga seraya melambaikan tangan.
Patra yang sudah berdiri di samping mobil seperti malam sebelumnya melihat Cella dan Rangga saling melambaikan tangan. Seperti sangat dekat untuk seorang atasan dan bawahan, tapi Patra tidak mempermasalahkan karena dia belum mempunyai hak apapun untuk mengatur Cella.
Seperti biasa Cella keluar bar dengan tersenyum, namun ekor matanya mendapati ada laki-laki yang berdiri di samping mobil seperti tadi malam.
"Dia menepati janjinya untuk menungguku pulang," gumam Cella.
"Hai Cella!," sapa Patra dengan melambaikan tangan.
Meskipun di pinggir jalan banyak kendaraan, Patra yakin jika Cella masih bisa mendengarnya. Pagi pula jarak mereka tidak begitu jauh.
"Eh, hai," sapa Cella ragu.
"Jangan sungkan seperti itu! Sudah kukatakan panggil saja namaku," tukas Patra.
"Baiklah," lirih Cella.
Berjalan mendekat dan berhenti di depan Patra. Cella tersenyum kemudian duduk di kursi taman tak jauh dari mobil Patra. Patra mengikuti dari belakang. Laki-laki yang sangat peka akan sebuah kode tentu saja tidak mau melewatkan kesempatan itu.
"Kenapa duduk di sini?," tanya Patra seraya mengerutkan dahi.
"Lalu mau duduk dimana? Di mobil kamu jelas tidak mungkin, lihat bahkan hanya ada kursi taman ini," jawab Cella dengan menunjuk kursi yang dia pakai.
"Jika wanita lain lebih memilih duduk di mobil, kenapa Cella memilih duduk di taman? Ah menyebalkan jika mengingat wanita-wanita genit yang penuh percaya diri langsung masuk ke mobil tanpa permisi," gumam Patra dalam hati seraya menggelengkan kepala.
"Terima kasih, apa kamu sudah tidak takut kepadaku?," lirih Patra.
"Apa aku terlihat seperti itu?," gumam Cella.