Cella membuka kedua matanya mengamati laki-lakidi hadapannya. Mereka terpisah kasta meski Patra tidak pernah membahasnya. "Honey, i want." "No baby." "Why?." "Karena cinta tidak harus selalu berc*nta. Biarkan kehangatan menjalar di setiap malam, tapi tidak untuk setiap keadaan." Jemari Cella mengusap lembut rambut Patra setelah ibu jarinya lebih dulu menyentuh lembut kedua pipi laki-laki itu. "Aku sudah menjadi milikmu, jadi jangan pernah meminta yang aku sendiri tidak sanggup untuk menolaknya," gumam Cella. Bagai mendapat hoki di siangan hari, Patra segera merangkak naik ke atas tubuh Cella. Membiarkan wanita itu berada di dalam tindihannya. Berat, tapi selalu membuat nikm**. Cella suka semua yang dimiliki Patra termasuk perihal permainan yang tidak pernah membuatnya bosan. "Asta

