"Patra, biarkan aku mandi," lirih Cella.
"Em, baiklah karena sepertinya kamu masih bau kambing," ejek Patra seraya menjauhkan badannya.
Cella merengut lalu berdiri, tapi Patra menariknya membuat Cella sedikit membungkuk.
"Cup," Patra mengecup bibir Cella sekilas lalu mengambil teh untuk diminum.
"Sana mandi!," usir Patra.
"Sial! Tuhan, apa salahku hingga dipertemukan laki-laki tampan dan menggoda seperti ini," batin Cella.
Cella pergi meninggalkan Patra di ruang tamu. Kembali wanita itu merasakan wajahnya panas. Pagi hari kedapatan tamu tidak diundang dan kejutan tak terbayang. Sungguh pagi yang indah untuk Cella.
Di luar sana wanita selalu menggoda Patra, tapi dia tidak pernah menganggap wanita-wanita itu ada. Namun kini Patra justru menggoda Cella. Laki-laki yang kaya justru memilih wanita sederhana. Sementara wanita kaya justru selalu memilih laki-laki kaya. Begitulah kehidupan yang Cella tahu semenjak dia bekerja di bar.
"Apa nantinya kehidupanku akan sama dengan mereka? Laki-laki tampan mengejar cinta wanita kalangan bawah? Kalau iya sih juga nggak papa selagi Patra beneran tulus sayang lahir batin," gumam Cella tanpa sadar dia tertawa membayangkan bagaimana hidupnya nanti jika memang berakhir seperti itu.
Segera mengambil handuk dan mandi. Lalu masuk kamar bermaksud mengganti pakaiannya. Dia lupa tidak membawa baju ganti ke kamar mandi. Ya, mungkin karena hati dan jiwanya sedang sedikit terguncang.
Membuka lemari dan memilih kaos berwarna abu-abu dengan logo Starbuc* dan gambar wanita, dipadukan dengan celana pendek sepaha dengan motif army. Cella tidak terbiasa memakai celana panjang dirumah. Lagi pula saat ini masih pagi jadi biarkan angin pagi menerpa sedikit kulitnya.
Wanita itu mondar-mandir di kamar. Dia bingung dengan apa yang akan dilakukan. Ini yang pertama Cella kedatangan tamu laki-laki. Sementara sekarang mereka hanya berdua.
"Apa nanti yang dilakukan Patra sama kayak di film? Tiba-tiba dia masuk ke kamar lalu melakukan hal semaunya, atau dia akan menarikku ke pangkuannya dan memelukku erat! Ah entahlah, semoga saja tidak terjadi apa-apa," gumam Cella.
Setelah menarik nafas berkali-kali, akhirnya Cella memberanikan diri keluar. Dia lupa jika masih mengenakan handuk di kepala karena tadi keramas. Keluar dengan sedikit air dari rambut yang menetes ke leher membuat Patra menelan ludahnya.
"Apa Cella sengaja menggodaku? Kurasa tidak, tapi kenapa dia memakai celana pendek? Apa tidak tahu jika aku ini laki-laki normal yang bisa memangsanya kapan saja," batin Patra.
Melihat Patra menatap wajahnya membuat Cella menundukkan kepala. Wanita itu tidak sanggup membalas tatapan Patra. Dia takut jika itu merupakan isyarat keinginan Patra.
"Cella, duduk disini ya!," ucap Patra seraya menepuk sofa di sampingnya.
Tentu saja Cella menuruti ucapan Patra. Mana mungkin wanita itu mampu menolak pakaian Patra. Keduanya membicarakan buah yang ada di depannya. Tanpa Cella sadari, ternyata Patra sudah menyiapkan gombalan untuk Cella.
"Cell, kamu tahu kedondong?," tanya Patra.
"Iya, luarnya bagus dalemnya jelek kan?," jawab Cella.
"Heeh," ucap Patra.
"Ha? Bahasa apa itu? Aku baru mendengarnya," ucap Cella.
"Hahaha," Patra hanya tertawa.
Sementara Cella mengerutkan kening. Tidak mengerti maksud Patra menanyakan itu. Jika dia memang ingin menggombal kenapa terdengar garing. Cella melirik Patra, sontak saja laki-laki itu menghentikan tawanya.
"Kenapa?," ucap Patra.
"Kamu yang kenapa, tanya kedondong terus ketawa! Apa ada yang lucu?," dengus Cella kesal.
Patra tidak menjawab ocehan Cella. Laki-laki itu lalu mengambil pisau dan mengupas pear yang tadi di bawanya. Cella semakin mengerutkan dahi. Tadi Patra menanyakan kedondong dan sekarang mengupas pear.
"Aak," ucap Patra seraya menyodorkan potongan pear yang sudah di kupas ke hadapan Cella.
"Em," Cella melahap dengan kesal.
"Yang kamu katakan memang benar, tapi maksudku bukan itu! Kamu seperti kedondong yang terlihat mulus tapi sulit ku dapatkan, karena hatimu seperti biji kedondong yang tidak semua orang bisa menjamahnya," ujar Patra yang sedang menatap Cella.
"Aish, rayuan macam apa ini," gerutu Cella dalam hati.
"Garing ah nggak lucu tau, kamu tahu kenapa aku tidak pernah berkedip ketika menatapmu?," tanya Cella.
"Karena kamu menyukaiku," jawab Patra penuh percaya diri.
"Salah, karena aku tidak pernah sedikitpun ingin berpaling darimu Patra! Eh," ucap Cella keceplosan refleks dia membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.
Tentu saja Patra tertawa, mana mungkin Cella bisa keceplosan seperti itu. Sebenarnya memang itu harapan Patra, tapi laki-laki itu belum berani mengungkapkan perasaannya karena takut Cella akan menolak karena status sosial Patra.
"Ih Patra, kenapa tertawa? Apa aku lucu?," ucap Cella kesal karena melihat Patra tertawa.
"Ternyata wanita polos kayak kamu bisa juga ngungkapin perasaan, ya meskipun tidak romantis seperti wanita kebanyakan," ucap Patra jujur.
"Patraaa, kenapa kamu jadi nyebelin gini sih? Terus maksudnya kamu nyamain aku sama wanita diluar sana hah? Dasar laki-laki sok kecakepan," gerutu Cella kesal.
"Aku tidak mengatakan seperti itu," ucap Patra santai.
Masih dengan mengupas buah dan menyuapi Cella hingga wanita itu merasa perutnya penuh. Pening di kepalanya sudah sedikit reda, tapi kini perutnya mendadak mual seperti ingin mengeluarkan semua yang telah dimakan Cella.
Mengerjakan mata sekali lagi dan memastikan jika kepalanya sudah sembuh. Cella lalu memegang perutnya dan terasa mual kembali.
"Patra, aku ke belakang sebentar," pamit Cella seraya berlari menuju kamar mandi.
"Apa dia hamil? Tidak! Itu tidak mungkin, bahkan aku mengikutinya selama tiga tahun tidak ada tanda-tanda dia wanita nakal! Tapi, jika aku melewatkan sesuatu bisa jadi dia hamil! No! Itu tetap tidak mungkin!," ucap Patra.
Laki-laki itu segera mencari keberadaan Cella. Patra menuju kamar mandi dan mendapati Cella di sana. Wanita itu mengeluarkan semua isi perutnya. Melihat Cella kehabisan tenaga, Patra tidak tinggal diam. Tanpa merasa jijik, laki-laki itu segera menghampiri Cella dan membantunya.
Patra membasuh wajah Cella dan membersihkan sesuatu yang masih menempel di bibirnya. Juga memegangi rambut Cella yang mengganggu di wajah wanita itu. Sungguh ketulusan Patra yang dapat dilihat Cella.
Wanita itu memang punya teman laki-laki banyak, tapi tidak ada yang seperti Patra. Cella merasa diperlakukan berbeda oleh Patra. Namun dia segera menepis rasa itu jauh-jauh. Cella tidak mau berharap terlalu banyak karena sadar diri akan siapa sosok yang bersamanya saat ini. Setelah merasa Cella bersih, Patra menggendong Cella menuju kamarnya.
"Dimana kamar kamu?," tanya Patra.
"Di sana," jawab Cella seraya menunjuk ruangan di sebelah dapur.
Tiba di kamar, Patra segera menurunkan Cella. Laki-laki itu bermaksud menyelimuti Cella, namun Cella menolak dengan dalih dia tidak perlu selimut.