Di tengah keriuhan acara berbuka puasa di rumah Opa, dua saudara kembar duduk di salah satu sudut meja, asyik berbincang. Larin, seperti biasa, tak bisa diam. Ia sibuk menggoda Lara, yang sejak tadi hanya diam menatap makanan di depannya. "Sumpah, Kak! Dia cuma mau kenalan doang sama lo," ucap Larin penuh semangat, suaranya hampir tenggelam oleh riuhnya percakapan keluarga. Lara menghela napas, menatap saudari kembarnya yang memang terkenal jauh lebih ceria dan ekstrovert darinya. Dari kecil, mereka memang sudah berbeda. Lara lebih pendiam, sementara Larin selalu menjadi pusat perhatian. Meski wajah mereka mirip, kepribadian mereka seperti langit dan bumi. "Dia siapa?" tanya Lara akhirnya, setengah malas. Larin tersenyum penuh kemenangan. "Akhirnya lo nanya juga!" Ia berdecak puas sebe

