Jenazah Adwina sudah diturunkan ke lantai bawah. Tari, dan Cantika berada di dalam kamar Dara di lantai atas. Untuk menjaga si kembar bersama Zubaidah. Di lantai bawah, di sisi jenazah Adwina. Dara duduk dengan kepala tertunduk. Ia teringat, kalau Nenek Adwina yang sangat ingin ia cepat menikah. Kalau bukan karena keinginan neneknya, mungkin saat ini ia belum merasakan indahnya pernikahan, dan nikmatnya menjadi seorang ibu. Dara memejamkan mata, teringat saat-saat bersama neneknya. Baginya, Adwina adalah wanita terlembut yang pernah ia temui. Tidak pernah marah, tidak pernah juga terlihat kesal. "Sayang," Arka menyentuh bahu Dara. Dara menolehkan kepala. Arka menghapus air mata istrinya. "Anak-anak menangis, mereka sepertinya lapar, bisa kamu susui sebentar," ucap Arka nyaris berbis

