Pengajian empat puluh hari meninggalnya Adwina sudah selesai. Tapi, keluarga yang datang masih bertahan, belum pulang. Mereka mengobrol di ruang tengah. Duduk lesehan di lantai berlapis karpet. Ada yang duduk bersila, ada yang duduk dengan kaki berselonjor, dan punggung bersandar di dinding. Bapak-bapak jadi satu kelompok, begitu pula dengan ibu-ibu. Sedang para anak muda di ruang tamu, asik dengan obrolan mereka sendiri, saling goda, saling canda. Meski berada di tengah keramaian keluarga, hati Ridwan merasakan sepi tiada tara. Saat begini sangat terasa, ada yang kurang di dalam hidupnya. Tak ada lagi sosok yang selalu menjadi fokus tatapannya. Tak ada lagi sosok yang bisa ia goda, lalu melotot kesal ke arahnya. Tanpa sadar, Ridwan yang duduk bersandar dengan kepala menunduk, tersenyu

