PART. 2

1216 Kata
"Namanya..." kakek menggantung ucapannya. "Namanya siapa kek?" "Raka...Raka Ramadhan, usianya baru dua puluh delapan tahun" "Raka Ramadhan" Tari mengeja nama itu perlahan. "Ganteng seperti Papi tidak kek?" "Ganteng, gagah, dan berotot" jawab Kakek sambil terkekeh senang karena Tari mulai tertarik untuk mengetahui tentang Raka. 'Berototnya pasti karena setiap hari mencangkul di sawah, hiiy pasti kulitnya hitam karena setiap hari kena sinar matahari' batin Tari. "Sekolahnya apa kek?" "Dia sarjana pertanian" "Oooh" Tari ber oooh panjang. "Tiga hari lagi kalian menikah, dan langsung resepsi" "Haaah secepat itu!?" Seru Tari terkejut. "Semua surat-surat sudah diurus Papimu, tinggal menunggu tanda tanganmu, acara juga sudah dipersiapkan secara matang" "Sepertinya kakek yakin sekali ya kalau Tari bakal setuju" "Tentu saja kakek yakin, kamu kan sayang sama kakek, jadi pasti kamu meluluskan permohonan kakek" "Tari memang sayang sama kakek" Tari memeluk kakeknya. "Kakek juga sayang sama Tari" kakek balas memeluk Tari. Meskipun Tari tidak tahu apakah keputusannya ini benar atau salah, tapi ia merasa senang bisa melihat sinar kebahagiaan di mata dan pada wajah kakeknya. Seperti apa pria yang dijodohkan dengannya memang membuatnya penasaran. Tapi ia harus menunggu saat akad nikah tiba baru bisa melihat calon suaminya. 'Ya Allah Semoga pria itu benar-benar ganteng, gagah, dan berotot seperti kata kakek, aamiin' doa Tari di dalam hatinya. -- Tari duduk dihadapan Papinya, mereka sudah rapi dengan pakaian untuk acara akad nikah dan resepsi hari ini. Mata Surya tampak berkaca-kaca, begitupun dengan mata Tari juga. "Maafkan Papi, karena membuatmu berada pada posisi ini Tari, harusnya dulu Papi yang menikah dengan Ibunya Raka" "Kalau Papi nikah dengan ibunya Raka, Tari tidak akan ada dong Pi" "Ehmm benar juga, tidak terasa kamu sekarang sudah akan menikah, dan kamu akan jadi milik orang lain, Papi tahu ini sebenarnya sulit bagimu, tapi kamu mau meluluskan permohonan kakekmu, Papi sangat berterimakasih padamu, Papi sangat menyayangimu Tari" Surya memeluk Tari. "Tari juga sayang Papi" Surya melepaskan pelukannya. "Meski kalian menikah tanpa cinta, tapi Tari jangan berkecil hati ya, jalani semuanya dengan sabar dan ikhlas, biar rumah tangga kalian berkah, soal cinta itu pasti nanti akan datang dengan sendirinya, atau mungkin Tari bakal jatuh cinta pada pandang pertama saat melihatnya hari ini, Papi sudah bertemu dan banyak bicara dengan Raka saat kakekmu memberutahukan keinginannya. Buat Papi, Raka itu menantu idaman, ganteng, gagah, sopan, bertanggung jawab, dan yang paling penting soleh, dia akan jadi imam yang baik bagi keluarga kalian" "Tapi dia petani Pi" "Apapun profesi seseorang, kalau dia jujur, ulet, dan mau bekerja keras, pasti akan bisa sukses, asal halal Tari, karena hal yang halal itu yang akan membawa keberkahan" "Terimakasih Pi untuk nasehatnya" "Sudah kewajiban orang tua untuk memberikan pandangan dan arahan pada anak-anaknya Tari, tapi kamu sudah dewasa, sudah tahu apa yang harus kamu lakukan" "Kalau bisa Tari ingin tetap jadi gadis kecil saja Pi" "Kalau kamu tetap jadi bocah kecil, Papi tidak bisa gendong cucu dong, beri Papi Mami cucu yang banyak ya" "Iiih Papi" wajah Tari memerah mendengar permintaan Surya. Pintu kamar diketuk, lalu terbuka setelah Surya mengijinkan orang yang mengetuk untuk masuk, Hafiz dan Hafid muncul di ambang pintu. "Papi di suruh ke depan, acara akan segera dimulai Pi" kata Hafiz. "Iya, Papi keluar dulu ya, nanti Mami yang akan menemanimu, sampai saatnya kamu harus ke luar" "Iya Pi" Surya ke luar, Hafiz dan Hafid duduk di dekat Tari. "Kak Tari cantik banget ya, aku senang Kak Tari cepat nikah" kata Hafiz. "Iya senang, karena tidak ada lagi yang akan menjewer kuping kalian" sahut Tari. "Hahaha...Kak Tari tahu aja ya apa yang kita pikirkan" Hafid tertawa dengan nyaring. Pintu kamar kembali terbuka, Mami mereka muncul di ambang pintu. "Kalian ke luar sana, akad nikah sebentar lagi dimulai, Mami mau bicara empat mata dengan kakak kalian" kata Salsa pada kedua putranya. "Siap Mami, jangan tangis-tangisan ya, nanti luntur loh make up nya" sahut Hafiz. "Iiih kita berdua jagoan ya, nggak akan ada tuh yang namanya tangis-tangisan" jawab Tari. Hafiz dan Hafid ingin bicara lagi, tapi pelototan mata Salsa membuatnya mengurungkan niatnya. Akhirnya mereka berdua ke luar dari kamar tanpa bicara lagi. Salsa meraih jemari Tari, ditepuknya lembut punggung tangan Tari. Begitu banyak yang ingin ia katakan, tapi terasa sangat sulit untuk ia ungkapkan. Salsa menundukan kepalanya dalam. Air mata Salsa jatuh menetes ke punggung tangan Tari. "Mami" suara Tari bergetar memanggil Salsa. Salsa menyusut air matanya, lalu mengangkat kepalanya. "Mami jangan menangis" Tari menghapus air mata yang kembali jatuh di atas pipi Salsa. Salsa memeluk Tari dengan erat. "Mami sayang Tari, Mami cinta Tari, jujur Mami sebenarnya belum siap untuk berpisah dari Tari" "Tari juga sayang Mami, Tari juga cinta Mami" sahut Tari yang berusaha menahan air matanya. Salsa melepaskan pelukannya, dihapus air mata yang membasahi pipinya. "Harusnya Mami bisa ikhlas, hhhh...Mami ingin kamu bahagia Tari, Mami dan Papi sudah bertemu dengan Raka, dia memang sangat jauh berbeda dengan Papimu, orangnya tidak banyak bicara, ia hanya bicara seperlunya, mungkin kamu akan merasa kesepian nanti, karena kamu terbiasa dengan suasana rumah kita yang isinya orang bawel semua, tapi Mami punya keyakinan kalau Raka akan bisa membuatmu bahagia" "Aamiin" Suara pembawa acara terdengar mengatakan kalau akad nikah akan segera dilakukan. Salsa dan Tari menegakan tubuh mereka, ada ketegangan pada raut wajah mereka berdua saat terdengar suara seorang pria yang mengucapkan ijab kabul dengan menyebut nama Tari. Mata Salsa dan Tari terpejam, keduanya menarik napas lega saat ijab kabul diucapkan dengan lancar dan dinyatakan sah. "Siap untuk melihat pria yang sudah sah jadi suamimu Tari?" Tanya Salsa lembut. "Ya Mami" Tari menganggukan kepalanya. Salsa membimbing lengan Tari untuk ke luar dari kamar. Mereka menuju ruang tamu rumah kakeknya yang dijadikan tempat berlangsungnya akad nikah. Semua mata menatap kagum kepada ibu dan anak itu. Sang ibu dengan wajah bule yang dilengkapi dengan mata birunya, dan sang anak dengan wajah timur tengah dengan mata lebar dan hidung mancungnya. Perlahan Tari nengangkat kepalanya, dilayangkan pabdangan pada pria yang sudah sah nenjadi suaminya. Tari baru bisa melihat punggungnya. 'Punggung yang kokoh, pasti nyaman untuk tempat bersandar' batin Tari. Suara hatinya membuat wajah Tari jadi memerah. Perlahan tapi pasti Tari mendekati suaminya. Saat ia sudah berdiri di sisi kursi yang di duduki Raka. Mata Tari memgerjap tidak percaya, meski wajah Raka baru terlihat bagian sampingnya saja, tapi justru hal itulah yang membuatnya mengenali Raka sebagai pria berwajah flat yang merupakan pria yang duduk di sebelahnya dalam penerbangannya menuju ke rumah kakeknya. ***BERSAMBUNG***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN