Si Sombong Alvo

1668 Kata
Yasmin memandangi orang-orang di depannya sebelum masuk ke dalam mobil. "Aku pamit duluan ya." Sepasang mata Yasmin kini tertuju pada Alvo sepenuhnya. "Next time, aku harap kita bisa kumpul bareng-bareng sama yang lain." Alvo mengangguk kecil. "Iya, kamu hati-hati ya, Yas." Yasmin melambaikan tangannya. Perempuan cantik itu juga tersenyum kepada Alfa lalu Kerin yang juga balas tersenyum walaupun agak canggung. Kerin mengamati Yasmin dari atas sampai ke bawah kakinya. Seperti yang didengarnya dari teman-teman Alvo selama ini, nyatanya Yasmin memang kelewat cantik. Selain cantik, perempuan itu juga sangat ramah dan murah senyum. Ini pertama kali mereka bertemu, tetapi Yasmin mengajak Kerin mengobrol tanpa canggung. Pantas saja Kerin kalah. Saingannya Bidadari sih... "Heh," seru Alfa menyenggol lengan Kerin. "Apa?" balas Kerin. Tersisa tiga orang di depan pintu restoran. Kepergian Yasmin menyisakan kecanggungan di antara Alvo dan Kerin. Walaupun Yasmin mengajaknya mengobrol selama makan, Alfa menyahutinya hingga suasana jadi lebih riang daripada sebelumnya. Hanya Kerin dan Alvo yang tidak bertegur sapa. Keduanya saling diam sesekali melirik dingin. "Gue harus pergi kerja, Ke," gumam Alfa melirik arloji di tangan kirinya. "Lo balik sama Alvo aja ya?" Alvo dan Kerin sontak saling menatap. Kerin diam-diam mendelikkan matanya setelah memutar badan memunggungi Alvo. Perempuan itu seakan mengancam Alfa kalau sampai lelaki itu membuatnya dan Alvo harus berada dalam satu mobil. Dasar Alfa, bodoh! Kerin dalam usaha move on. Kenapa lelaki itu malah mendorongnya lebih dekat dengan Alvo?! "Vo, titip masa depan gue ya." Alfa mendorong bahu Kerin sampai dagu perempuan itu menubruk lengan Alvo. Keduanya terkejut. Apa lagi Kerin. Cuma karena tidak sengaja menyenggol lengan Alvo, runtuh pertahanan move on-nya. Alfa, sialan! "Tadi gue yang maksa Kerin makan ke sini," kata Alfa cengengesan. "Tapi gue harus kerja dan waktunya udah mepet. Tolong anterin pulang cewek gue ya, Vo? Mau, dong? Masa, mentang-mentang udah mantan, lo jadi nggak mau temenan sama Kerin, sih?" Cerocosan Alfa memancing darah tinggi Kerin. Sayang sekali di sekitarnya tidak ada benda tumpul yang bisa dupukulkannya ke kepala lelaki itu. Kerin ditarik paksa untuk makan di restoran ini. Tidak membawa dompet, ponsel, apa lagi motor kesayangannya! "Lo tenang aja, Vo. Gue bukan tipe cowok cemburuan, kok!" Alfa menepuk dadanya sambil tertawa. Alvo memilih diam semenjak tadi karena keberadaan Alfa di sini. Kenapa harus pergi makan berdua bersama Kerin? Kenapa juga harus makan di tempatnya yang sama Alvo makan berdua dengan Yasmin? Alfa cengengesan, tidak tahu sopan santun, bahkan lelaki itu sudah mengganggu acara makan siangnya bersama Yasmin tadi! Kerin menemukan lelaki ini di mana, sih? Setidaknya kalau ingin putus dari Alvo, Kerin harus mendapat yang lebih dari dirinya! Tidak seperti Alfa yang selengekan dan sok asyik di depan orang baru! "Nggak usah," sela Kerin. "Gue bisa pulang sendiri. Gue... bisa naik angkutan umum atau taksi." Alfa buru-buru menyela. "Bukannya lo bilang nggak bawa dompet sama hape? Mau bayar pake apaan?" Kerin mengurut belakang lehernya. Setengah mati menahan diri agar tidak menarik bibir Alfa lalu mengikatnya menggunakan karet bumbu! "Lo bareng gue aja," seru Alvo, mengejutkan Kerin. "Nggak usah, Vo, nggak apa-apa." Alvo mengerutkan dahi. "Lo mau jalan kaki dari sini ke kantor lo?" tanyanya, terdengar dingin. Alfa bersorak. Dengan sok akrab lelaki itu merangkul bahu Alvo sesekali menunjuknya. "Ini, nih, cowok gentle! Biar, mantan, kan, Kerin tetap cewek, ya! Lo nggak mau Kerin sampai kenapa-napa, dong?" Alvo menatap Alfa tidak suka. Lelaki itu mendorong tangan Alfa serta melemparkan tatapan tidak bersahabat. Dua tahun bersama membuat Kerin mengetahui tentang Alvo. Tentang baik dan buruknya, Kerin agak memahaminya. Alvo bukan orang yang mudah didekati. Asal kalian tahu saja, teman-teman Alvo tidak sebanyak dugaan kalian. Mungkin bisa dihitung dengan jari. Selama menjadi tunangan bohong Alvo, teman Alvo yang sering dia temui ya cuma Lando sama Natan. Ada, sih, Elise. Tapi hanya sekali mereka bertemu. Jadi Kerin tidak terlalu akrab. "Gue duluan, ya!" seru Alfa riang. "Vo, jagain baik-baik. Cewek gue kelewat berharga, nih!" Cewek gue. Kerin dibuat kesal bukan main. Alfa menyebutkannya lebih dari dua kali. Entah tujuannya apa. Maksudnya apa mengklaim dirinya sebagai pacar lelaki itu. "Kalau bukan karena lo lepasin, nggak bakal gue bisa dapetin Kerin, Vo," gumam Alfa sebelum pergi meninggalkan keduanya. Sepasang telinga Alvo menangkap kata-kata Alfa barusan. Kenapa dia jadi merasa tersindir? Lalu, tadi apa? Ekspresi Alfa tiba-tiba berubah sendu saat mengatakannya. Sebenarnya, Alfa ini siapa? Benar-benar pacar Kerin atau bukan?  ***  Pernah ada di situasi kayak Kerin gini, nggak? Berduaan di dalam mobil sama mantan tunangan. Eh, nggak, ding. Dia mau ralat. Maksudnya mantan tunangan pura-pura. Cuma dia mengakui bahwa hatinya juga ikut terlibat walaupun hubungannya sebatas pura-pura doang. Dalam hati Kerin nggak berhenti menyumpah-serapahi Alfa. Di sepanjang perjalanan menuju kantor, Kerin menunduk, pura-pura sibuk sendiri padahal di sampingnya, Alvo juga nggak peduli-peduli amat dia mau ngapain. Kerin diam-diam memiringkan kepala melirik Alvo kemudian berdecak. Lihat, baru seminggu mereka udahan, Alvo masih saja cuek. Nggak ada rasa bersalahnya sama sekali. Minimal Alvo minta maaf, kek. Kan, dua tahun ini Alvo mengikat Kerin sebagai tunangan. Kerin nggak bisa jalan sama lelaki lain sembarangan karena bisa ketahuan keluarga besar Alvo. Seperti kata Langen, "Lo orang yang paling dirugikan sama perjanjian kontraknya." Sore itu, sepulang mereka dari kantor, mereka pergi makan di sebuah warung makan penyetan. Mereka ngobrol sambil makan. Mulai dari Langen yang memabahas hubungannya sama Lando sampai pindah ke topik lain. Yaitu, soal Alvo sama Kerin yang nggak ada perkembangannya sama sekali. Langen geregetan setengah mati sama Alvo, sumpah! Nggak ada lelaki yang nggak se-peka Alvo. Okay, mungkin Kerin nggak pernah mengungkapkan perasaannya kepada lelaki itu secara gamblang. Cuma, si Alvo kan punya mata sama hati. Dikit-dikit dia harusnya paham kalau perhatian Kerin bukan semata-mata perhatian ke patner tunangan pura-puranya. Tapi emang karena ada something. Nggak sekali duakali Langen menyindir Alvo sewaktu mereka kumpul bersama. Entah di tempat makan atau lagi diundang sama Tante Sandra, mamanya Langen. Tapi emang dasarnya nggak peka, ya tetap aja percuma. "Lo udah diikat sama dia jadi tunangannya. Pura-pura lagi! Lo dapet benefit apa? Rumah atau apartemen mahal? Nggak ada! Dia balik perhatian ke lo aja nggak!" Kerin selalu diam kalau Langen mulai mengomel. Karena dia tahu Langen mengomelinya karena emang perhatian sebagai teman. Mereka berteman bukan satu atau dua bulan. Sudah bertahun-tahun mereka berteman, tinggal di satu kost sebelum Langen disuruh pulang ke rumah sama mamanya setelah resmi dilamar sama Lando setahun yang lalu. "Gue bilang gini karena gue mau lo buka mata aja. Alvo, dia cuma manfaatin lo doang. Lo jadi cewek jangan lemah-lemah amat lah!" Kerin nggak lemah. Kerin cuma butuh waktu aja untuk melepaskan Alvo. Saat waktunya tiba, mau nggak mau Kerin bakal melepas lelaki itu. Tapi nggak tahu kapan.... "Lo punya kehidupan sendiri. Lo, dan semua perempuan di dunia ini berhak bahagia. Walaupun bukan sama orang yang lo suka." Kerin merenung, pandangan matanya tertuju pada segelas es jeruk peras di depannya. "Gimana bisa gue bahagia kalau bukan sama orang yang gue suka?" tanyanya, mengalihkan pandangannya pada Langen. Langen nggak mau kalah. Perempuan berambut panjang tersebut mendorong gelasnya ke tengah-tengah lalu mencondongkan badannya hingga mepet ke pinggiran meja. "Kebahagiaan dateng bukan dari pasangan, Ke. Bahagia lo bisa aja dari hal lain yang belum pernah lo duga-duga." "Misalnya?" tanya Kerin lesu. "Dari teman, keluarga, atau orang-orang yang baru lo kenal." Langen menjawab dengan percaya diri. Kerin menegakkan badan hingga kepalanya terangkat ke atas. Tanpa sadar dia sedang diperhatikan Alvo sejak tadi. Bagaimana nggak diperhatikan, sih? Kalau sedari tadi perempuan itu menghela napas panjang seolah sedang frustrasi. Alvo heran aja. Padahal mereka hubungan pura-pura mereka sudah berakhir. Tapi kenapa Kerin seperti sedang memikul beban berat? Harusnya, Kerin lebih bahagia, kan? Alvo tidak tahu saja. Jika bahagia Kerin ada bersama dirinya... "Duduk berdua sama gue bisa nambah beban hidup lo, ya?" Kerin berjingkat kaget. Alvo tiba-tiba bersuara di saat isi kepalanya dipenuhi oleh lelaki itu. Sontak saja dia menoleh ke samping dan menatap Alvo dengan sepasang matanya yang besar. "Lo ngomong sama gue?" Kerin bergumam sembari menunjuk dirinya. Alvo menengok ke belakang sambil menunjuk. "Lo lihat ada orang selain kita, nggak?" Kerin menggeleng mirip orang bodoh. Alvo tiba-tiba mendengus. "Bodoh." Kerin bisa mendengar Alvo mengoloknya bodoh barusan. Pendengarannya masih sangat bagus. Belum pernah terganggu apa lagi sampai dibawa ke dokter THT. Tapi walaupun begitu Kerin nggak bisa berkutik. Karena nyatanya emang bodoh. Bukti kebodohan pertama Kerin; mencintai lelaki tidak peka seperti Alvo. Kedua; memendam perasaan lebih dari dua tahun. Dan yang terakhir, mau bertahan sampai dia nyaris gila. Bodoh, kan? Nggak salah kalau Langen sering menghujatnya. Kerin membuat pandangannya ke kaca mobil. Jalanan sedang padat, ditambah lagi lampu lalu-lintas masih betah berada di warna merah. Kayaknya perjalanan dari restoran ke kantornya nggak sejauh itu, deh. Kenapa nggak nyampek-nyampek dari tadi, ya? "Dia beneran pacar lo?" Kerin menunduk sampai keningnya menyentuh kaca mobil Alvo. Kerin memutuskan nggak menengok ke samping. Karena dipastikan dia bakal kelihatan bodoh lagi. "Dia siapa?" gumam Kerin. Suaranya sama sekali nggak semangat. "Alfa," jawab Alvo. Mendengar nama Alfa disebut, otomatis Kerin menengok. Seketika Alvo berubah gugup seolah lelaki itu ketahuan melakukan sebuah kesalahan. Kerin mengamati Alvo selama lima detik kemudian menjawab, "Emang kenapa?" tanya Kerin. "Cuma nanya," gumam Alvo memalingkan wajahnya. "Cuma nanya atau lo kepo?" balas Kerin, Alvo mendadak diam. Lampu lalu-lintas berubah hijau. Mobil Alvo dan mobil lainnya melaju bergantian melanjutkan perjalanan. Kerin nggak habis pikir sama Alvo kenapa kayaknya penasaran banget sama Alfa. Padahal jelas banget Alfa cuma bercanda. Ngomongnya aja selengekan. "Gue kira lo bakal dapet pengganti yang lebih dari gue," decak Alvo. Dahi Kerin mengernyit. "Gimana?" Ekspresi wajah Alvo kembali ke semula. Dingin, ditambah mulutnya yang suka berbicara nyelekit. "Kenapa harus Alfa? Lo nggak bisa cari yang di atas gue emang?" Kerin agaknya tersinggung. Kesannya tuh kayak gini, "Lo nggak laku kalau bukan gue yang ngajak lo tunangan walaupun cuma pura-pura." Eh, maaf-maaf aja nih ya. Kerin akui Alfa emang gayanya selengekan. Tapi mata Kerin nggak buta. Alfa cakep, kok. Mana tampilannya keren, nggak kaku macam Alvo. Kok, kesannya Alvo merendahkan dia sama Alfa banget? "Stop," ujar Alvo mengulurkan kelima jarinya di depan wajah Kerin. "Gue nggak mau denger lo belain Alfa. Karena faktanya Alfa bukan apa-apa kalau dibandingkan sama gue."   To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN