Mengalah Terakhir Kali

1220 Kata
Kalau dulu, di mana ada Alvo, di situ pasti ada Kerin. Tapi sekarang sudah beda kondisinya. Sekarang di mana ada Kerin, di situ pasti ada Alfa. Alvo menundukkan kepala lantas mengembuskan napas jengkel. Belum genap tiga puluh menit Alvo menunggu Kerin selesai dandan, tahu-tahu Alfa muncul dengan motor matic di halaman kosan Kerin. Kemunculan Alfa menarik sebelah alis Alvo naik ke atas. Memandangi Alfa tidak suka, ya, mirip-mirip menatap musuh bebuyutannya, gitu. "Eh, ada mantan," sapa Alfa turun dari motornya. Gaya Alfa sangat norak! Sebelah telinga lelaki itu diberi tindik bak anak berandalan. Cocok dengan gaya bicara Alfa yang selengekan, dan nggak berhenti cengengesan! "Mantannya Kerin, maksudnya," tambah Alfa, jelas sekali sedang meledek Alvo. Sebagai lelaki berwibawa dan penuh karisma yang tak tertandingi, apalagi Alfa, yang jelas tidak berada di level yang sama dengannya, Alvo bersikap biasa saja, anggap saja Alfa orang gila yang numpang lewat. Meladeni mahluk seperti Alfa, nggak akan ada habisnya. Semakin diladeni, akan semakin tidak waras. Alvo bisa mendadak kena migrain nanti. "Ngapain lo di sini, Vo?" tanya Alfa, mengambil duduk di samping kursi yang kosong. "Jemput Kerin," jawab Alvo malas-malasan. Alfa menggerakkan kepalanya ke belakang tepat ke pintu kosan Kerin yang terbuka lebar. Beberapa teman kos Kerin wara-wiri. Ada yang baru pulang, ada yang baru keluar sambil ngobrol di telepon, ada juga..., nah, Kerin ternyata yang keluar. Seperti memiliki radar jika Kerin muncul, Alvo beranjak dari kursi. Dia memilih untuk tidak menghiraukan cerocosan Alfa yang sama sekali tidak penting untuk didengar orang waras. "Cakep banget dong pacar gue!" seru Alfa menyebalkan. Alfa sengaja mendorong lengan Alvo sampai lelaki melangkah mundur, membiarkan Alfa menyerobot langkahnya dengan perasaan dongkol luar biasa! Apa yang membuat Kerin sampai memilih Alfa sebagai penggantinya, sih?! Dari rupa, segi penampilan, silakan bandingkan Alvo dan Alfa dari ujung rambut hingga ujung kaki, tentu saja Alvo berada di level yang berbeda. Nggak punya sopan, pula! "Wangi banget, Ke. Bukan mau pergi cari pacar baru, kan?" ejek Alfa, menarik ujung rambut Kerin, kemudian memutar badan perempuan itu jahil. Kerin mengibaskan tangan Alfa. Membulatkan kedua matanya galak. "Pegang-pegang rambut gue habis dari luar, udah cuci tangan lo?!" semprotnya. "Sana, deh! Gue buru-buru. Nggak ada waktu ngeladenin orang nggak waras kayak lo." Kerin tampil cantik dan beda dari biasanya. Jika Kerin biasa menggunakan pakaian longgar dipadupadankan dengan celana jeans, Kerin muncul menggunakan gaun katun berwarna kuning. Bahkan Alvo baru sadar kalau rambut panjang Kerin telah dipotong hingga sebahu. Tadi sewaktu datang kemari, Kerin mengikat rambutnya, terlihat seperti biasa. Namun sekarang rambut hitam legam Kering digerai. Jadi lebih cantik. Dan entah kenapa, di mata Alvo sekarang, Kerin terlihat seperti perempuan cantik yang bersinar. "Heh! Lihatin masa depan gue biasa aja dong! Lo mau bikin gue cemburu?!" tegur Alfa, berkacak pinggang di depan Alvo. Alvo tersadar. Dalam beberapa detik saja berhasil menguasai dirinya lagi. Alvo berdeham, melirik arloji di tangan kirinya lalu bertanya ke Kerin, "Udah, kan? Kita berangkat sekarang! Lo udah bikin gue ngabisin waktu banyak cuma buat nunggu lo dandan!" Alvo berjalan mendahului Kerin dan Alfa. Dua orang di belakang lelaki itu jadi saling berpandangan satu sama lain. Aneh sekali si Alvo. Dia sendiri yang datang menjemput, dia pula yang marah-marah! Menunggu lama apanya, sih?! Kerin hanya membutuhkan waktu empat puluh lima menit sampai selesai berdandan dan berpakaian. Apanya yang lama? Lagi pula nggak ada yang meminta Alvo datang kemari! Ada banyak alasan yang bisa dibuat Alvo. Kalau memang Alvo ogah menjemputnya, ya, kan, bisa keliling saja dulu, lalu kembali ke rumah orang tuanya dan membuat alasan kalau Kerin ternyata sudah berangkat lebih dulu. Jadi nggak sempat ketemu. Selesai, kan? Nggak membutuhkan waktu berjam-jam untuk ngomong, dong? Alfa menahan pergelangan tangan Kerin. Kedua mata kecil Alfa memberi isyarat agar dirinya nggak mengikuti langkah Alvo. Kerin melihat Alvo telah masuk ke dalam mobil. Kerin balas menatap Alfa. Satu tangannya yang bebas siap mukul Alfa menggunakan tasnya yang lumayan berat. "Gue yang anterin ya? Mau ke mana sih?" tanya Alfa masih memegangi tangan Kerin. "Gue diundang makan malam sama mamanya Alvo," jawab Kerin. "Makanya Alvo jemput lo kemari? Baik hati banget dia mau jemput mantan tunangan," sindir Alfa. Kerin juga nggak habis pikir kenapa Alvo mau-mau saja datang kemari. Padahal hubungan pura-pura mereka sudah berakhir. Daripada repot menjemput Kerin, kenapa nggak dia jemput saja mantan sungguhannya yang cantiknya bak bidadari? Menunggu terlalu lama di dalam mobil, Alvo menurunkan kaca mobilnya. Kepala Alvo menyembul keluar, hendak menegur Kerin karena terlalu lama mengobrol bersama Alfa. "Ngobrolnya bisa nanti atau besok aja nggak?" tegur Alvo sinis. "Ke, lo mau bikin waktu gue yang lebih banyak terbuang cuma karena lo doang?" Kata-kata yang keluar dari mulut Alvo memang selalu nyelekit. Membuat sakit di hati. Alfa menyenggol lengan Kerin, menunjuk Alvo di sana dengan ujung dagunya seolah berkata, "Tuh, lihat." Kerin menarik napas panjang dan mengembuskannya. Dia berjalan menghampiri mobil Alvo yang di parkir di halaman kosannya. Sementara Alfa masih berdiri di tempat yang sama sembari mengulum senyum penuh arti—hanya Alfa yang tahu. "Lo duluan aja, deh." Kerin agak menunduk, memberitahu lelaki itu. Alfa bisa mendengar kata-kata Kerin. Sontak saja lelaki itu tertawa senang. Apalagi Alvo sampai keluar mobil hingga Kerin mundur beberapa langkah. "Kalau gue pulang ke rumah tanpa bawa lo, Mama gue bisa curiga!" "Gue bersedia dateng ke rumah lo bukan cuma karena memenuhi undangan Mama lo, kok. Sesuai janji gue ke lo, Vo. Gue mau ngasih tahu Mama lo kalau kita udahan." Kerin menurunkan satu tangannya ke bawah, membiarkan rantai tasnya menggantung di sebelah bahunya. "Tenang aja. Kalau lo kira gue bakal bocorin rahasia kita berdua, nggak akan kok. Itu sama kayak gue bunuh diri. Mama lo terlalu baik untuk dikecewain." Alvo mendengkus. Sebelah tangannya dijejalkan ke dalam saku celana. Menatap Kerin bingung sekaligus sangat kecewa. Dua tahun mereka menjalin kerjasama sebagai pasangan yang bahagia, Kerin tiba-tiba ingin mengakhiri kerjasama yang telah mereka bangun bersama-sama. Membuat orang di sekeliling mereka percaya bahwa mereka pasangan yang sungguhan manis, romantis, penuh kasih sayang hingga menimbulkan iri bagi orang lain. Apa karena Alfa? Alvo memicingkan mata, meluruskan pandangan ke arah Alfa penuh kekesalan. Jika memang alasan Kerin berhenti itu Alfa, berarti Alfa-lah yang membawa pengaruh buruk untuk Kerin! "Lo beneran mau kita berhenti jadi pasangan?" tanya Alvo memastikan. "Berhenti?" Kerin bersedekap lalu tertawa sinis. "Ah, ya. Anggap aja begitu, Vo. Lagi pula mau sampai kapan gue sama lo jadi pasangan pura-pura emang? Nunggu gue jadi perawan tua, terus diolok-olok sama banyak orang?" Alvo terdiam, nggak berniat menjawab. "Kalau nggak ada kejelasan sampai kapan kita pura-pura, ya maaf aja, Vo. Gue nggak bisa. Mana mungkin gue mempertaruhkan masa depan gue buat orang lain? Sedangkan orang lain itu nggak pernah menghargai pengorbanan gue?" sindir Kerin, masih dengan ekspresi santai. Alvo kehabisan kata-kata. Walau Kerin terlihat santai, tetapi Alvo menyadari semua kata-kata Kerin mengandung sindiran untuknya. Kerin mengangkat sebelah tangan dan melihat arloji di tangan kirinya. "Lo atau gue yang jalan duluan ke rumah lo?" tanya Kerin, datar. "Gue bakal dianter sama Alfa. Atau, buat menyelamatkan diri lo dari omelan Mama lo, gue bisa mengalah buat nunggu lo depan pagar supaya bisa masuk barengan. Ya... anggap aja ini terakhir kalinya gue ngalah sama lo." Alfa mengulum senyum, berjalan santai menghampiri Kerin kemudian merangkul bahu perempuan itu. "Jalan aja duluan, Vo. Gue sama Kerin ngikut dari belakang." Kerin menunjuk ke mobil Alvo sembari menaikkan sebelah alisnya. Alvo geram, namun memilih diam dan masuk ke dalam mobilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN