“Buunn..” panggil Rendi dengan suara lembut. “Kenapa Yah?” aku pun menjawabnya tak kalah lembut. “Sini ayah suapin.. buka mulutnya aaa…” disodorkan sendok berisi nasi kepadaku dengan mulutnya yang ikut terbuka. “Apa sih kamu, malu tuh diliatin sama anak bujang” aku menolak suapan yang Rendi berikan. Aku mengambil sendiri nasi yang berada di piringku dan menyuapnya dengan anggun. “Enggap apa-apa bun, ayah juga mau romantis kayak masa muda dulu” Uwais malah memberikan senyum usilnya padaku. Alisnya naik turun diarahkan pada Rendi, ayahnya. Beginilah keseharian kami saat di meja makan. Ayah dan anak yang sama-sama senang mengusiliku. Aku sendiri sebagai satu-satunya wanita tercantik yang berada di istana kecil ini. terkadang aku mengundang Kimmi untuk menemaniku disini saat kedua lelakik
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


