Sekilas Update!Dispass mengunggah gambar Sato Ren, manajer tenar dari band Black Death yang baru saja keluar dari apartemen mahal Rose Gold Tower. Apartemen sama yang dimiliki Magna Latisha!
Suara Zakato Oda tertelan rasa terkejutnya sendiri. Saat dia melirik Abe Zaka yang membenarkan letak senar gitar dan pada Rain yang memainkan stik drum sahabatnya. Juga pada Hiroito Jerome yang acuh, memilih untuk menyelipkan sebatang rokok di sudut bibirnya.
"Ini serius?"
"Apa?"
"Ren dan Latisha?"
"Hah?" Rain yang terkejut segera meraih ponsel sahabatnya. Mengangkat alis saat Zaka ikut mengintip dan ekspresinya berubah masam. "Latisha dan Ren? Rasanya mustahil. Impossible," ucapnya dramatis.
Oda mengembuskan napas panjang. Kembali merebut ponselnya dari genggaman Ikeda Rain dan memutar mata. "Pantas saja dia sulit dihubungi. Kemana saja dia?"
"Kapan kejadiannya?"
"Kemarin siang."
Alis Jerome bertaut. "Kemarin? Tidak sekarang?"
"Ini jam empat sore, Jerome. Kejadiannya kemarin," kata Oda masam. Menatap ponselnya dan merebut bungkus rokok mahal dari meja. "Sialan. Selera Ren boleh juga."
"Aku pikir dia tertarik pada Hara?" Suara Zaka berubah dingin. "Oh, entahlah. Dia pria tidak tertebak. Terkadang aneh."
"Belasan tahun mengenalnya, kita masih asing dengan sosok Sato Ren."
Jerome mengambil gitar dari pelukan Abe Zaka. Meluruskan kakinya saat kepalanya yang pening berputar seperti kaset rusak. Ibunya yang heboh menghubunginya tepat setelah acara bubar dan selesai. Memintanya untuk datang dan makan malam di salah satu restauran atau mengancam akan mencoret namanya dari Kartu Keluarga. Ancaman yang sempat membuat Ian kecil, si pencuri mangga tetangga menangis histeris.
"Bagaimana menurutmu, Jerome?"
"Apa?"
"Latisha dan Ren?"
Jerome menghela napas. "Apa yang ingin kau dengar?"
Oda menatapnya tajam, lalu menggeleng. Mereka benar-benar berpikir Jerome punya disfungsi seksual yang parah. Sampai-sampai gadis secantik itu tidak menarik di matanya.
"Kalau pun benar Latisha hamil, apa itu anak Ren?"
Rain kembali suara. Menahan petikan jemari Jerome pada senar gitar dan mendesah berat. Memikirkan masalahnya sendiri sudah pusing, ditambah masalah orang lain.
"Urus saja urusan kalian sendiri," sungut Jerome sebal. "Kalian bisa menilainya sendiri kalau Latisha benar hamil. Lihat nanti bentukannya seperti apa."
"Oke, Jerome benar." Zaka menarik napas. "Kalau anak itu berbentuk seperti Ren yang tanpa alis, itu berarti resmi anaknya."
Rain menganggap ini serius. Jadi dia berpikir keras. "Bagaimana jika anak itu lahir dan yang terlihat di kamera rambutnya berwarna hitam?"
"Jutaan orang sadar kalau di Jepang tidak hanya satu dengan manusia berambut hitam."
Bola mata itu berputar bosan. "Tapi kau pikir sendiri. Mana mungkin sekelas Latisha tidur dengan pria sembarangan? Yang tidak jelas asal-usulnya?"
Jerome menaikkan satu alisnya tak percaya. "Bukankah itu semua hanya berita bohong? Dispass menarik beritanya karena tidak ada bukti kuat, kan?"
Zaka menipiskan bibir. Dia lebih banyak diam saat membicarakan Magna Latisha sejak tadi. "Kalau tidak salah, agensinya juga memberi pernyataan kuat tentang dugaan konyol itu. Latisha tidak hamil dan dia masih beraktivitas seperti biasa."
"Dia benar."
"Lana adalah gadis paling aneh," gumam Oda. "Semua pemberitaan buruk pasti berasal dari dia. Mulut bocor gadis itu tidak bisa ditoleransi."
Kali ini ketiganya mengiyakan.
"Aku tidak bisa membayangkan rasanya jadi Jerome. Yang sempat bertahun-tahun menjadi kekasihnya."
Jerome menarik napas, membuang mukanya sebelum melempar kepalanya dan memejamkan mata. Memainkan gitar dengan Oda yang kembali bernyanyi, masuk dalam nada secara reflek.
***
Alis Latisha terpaut tajam saat melihat Hiroito Tamara duduk di seberang sang ibu. Dengan senyum cerah, secerah matahari di pagi hari. Wanita penuh anggun itu bangun, mengulurkan tangan untuk menyapa Latisha ramah.
"Hiroito Tamara."
"Latisha,"
"Magna Latisha," ralat Tasha dengan senyum manis. Meminta Latisha untuk duduk karena restauran berbintang Michelin ini ternyata disewa Hiroito Tamara untuk makan malam mereka.
"Ada apa?"
Latisha bertanya serius. Memandang sekitarnya yang sepi saat tatapan kagum tidak pernah lepas dari Tamara untuknya. "Kau benar-benar cantik. Lebih dari foto. Aku sudah lama tidak melihatmu karena kau sangat sibuk. Dan sekarang benar-benar melihat seperti boneka hidup duduk di depanku. Aku senang sekali dan tidak bisa berhenti tersenyum. Bagaimana ini?"
Latisha bukannya tidak tahu siapa Hiroito Tamara dalam kehidupan sang ayah dulu. Pernah menjadi mantan kekasih dan pernah menyimpan kenangan bersama di lantai karaoke kerap kali membuat darah ibunya mendidih sampai panas. Magna Tasha jarang cemburu, tapi kalau wanita itu sekelas Hiroito Tamara, dia pantas.
"Terima kasih," balas Latisha sekenanya. Mendapat perlakuan khusus saat pelayan pria berdasi menuangkan air putih ke gelas kaca. Membiarkan kursi di depannya kosong dan Latisha mengangkat alis. "Siapa yang kita tunggu?"
Senyum Tamara masih tersungging manis. Dan Latisha melemparkan tatapan bertanya pada sang ibu yang balas tersenyum kecut. Seakan menerima makan malam ini adalah kesalahan besar.
"Itu dia!"
Pekikan Tamara berhasil merebut atensi Latisha. Dia mengangkat alis, menemukan Hiroito Jerome membeku setelah matanya bertemu tatap, tidak menyangka bertemu penyanyi populer duduk di meja yang sama dengannya.
"Ya Tuhan. Tolong abaikan penampilan urakan anakku. Dia terlihat seperti gembel elite sekarang," ketus Tamara masam dan Tasha malah tersenyum manis. Aneh.
Latisha masih mematung. Menatap Jerome dengan sekali tarikan napas. Lalu memicing tajam. "Kau di sini karena suatu keharusan?"
Nada suara Latisha yang sinis berhasil membuat senyum Tamara pudar. Dari berseri-seri mendadak menjadi cemas bukan main.
"Kalau kau punya masalah, kau seharusnya bicara." Jerome membalas sarkas. Dan membuat Latisha mencelos tak percaya. Sejak kapan dia punya masalah dengan anggota Black Death?
Magna Tasha berdeham. Terlebih saat makan malam tersaji apik di atas meja mereka. Jerome belum pernah melepas pandangan dinginnya dari gadis yang ternyata menyimpan sejuta rahasia dibalik wajah dinginnya. Menipu publik dengan permainan dramanya. Dan pada lagu-lagu yang menjurus tentang betapa brengseknya semua pria di dunia ini.
"Jerome, kenapa kau malah—,"
"Dilihat dari segi mana pun, Lana lebih baik darimu. Setidaknya dia tidak pura-pura terhadap apa pun. Tidak sepertimu?"
Latisha menautkan alisnya. Memegang pisau dan garpu selagi dia memilah-milah mana makanan yang bisa dia makan malam ini. Menahan perasaan ingin merobek mulut itu terlampau besar, dia hanya bisa menahan diri demi nama baik dirinya sendiri serta sang ibu yang pergi bersama. Kedongkolan memenuhi dirinya dan dia tidak benar-benar bisa menahan diri. Tetapi Latisha perlu memasang raut sinis sekarang, untuk menutupi rasa kesal dirinya.
"Lana?"
"Sulana," ujarnya menahan dehaman. "Sulana Gusi yang mereka bicarakan."
Latisha hanya diam, memainkan makan malamnya dengan wajah ketus tak tertahankan.