[ Hamifh ]
Dua kali.
Itu kalau ingatan gue nggak salah.
Pertama di kantor Lenan sekarang di kantor gue sendiri. Raline berdiri dengan ekspresi yang sama seperti dulu dia melihat gue nempel di tembok.
It's been so long since I have seen Raline.
Gue kaget.
Gue nggak berekspektasi bisa ketemu dia lagi, emang nggak nyari juga sih.
Ya kan some people aren't mean to be our lives forever, some are just passing through to teach us a lesson. And Raline teach me a lesson.
Kalimat Raline waktu itu, kalau gue nggak salah inget. "Gue jadi istri sahnya aja ogah. Listen to me, apa menariknya laki-laki yang cuma bisa ngandelin harta buyut mereka? Cuma bisa buang-buang uang, loncat dari club sana sini, main perempuan. Emang hidup sebercanda itu?? Muak kali lah gue sama orang kaya gitu."
Well, iya gue ngandelin duit buyut gue, buang-buang uang? Nggak lah, gue nggak pernah buang duit ke bak sampah. Clubbing?
Masih sesekali, buat hiburan.
Main perempuan? Itu dulu. Sekarang gue mulai menata hidup gue.
Berkat omongan pedas wanita di depan gue saat ini. Tiba-tiba gue bayangin rasanya bibir Raline, apa sepedas perkataannya?
"Games nya lagi seru ya Pak?" suaranya pelan, tapi bergema di telinga.
Gue nggak mau kehilangan wibawa di hadapan anak buah gue.
I mean, Calon anak buah.
"Lumayan. Manusia butuh hiburan, kan?" Raline menarik kursi dan duduk di depan gue.
"Betul Pak."
Honestly, gue belum pernah interview siapapun. Hari ini adalah hari ke empat belas gue duduk di kursi direksi, sebelumnya gue nggak pernah mau ambil pusing dengan urusan office matters or, whatever it is.
Satu-satunya pertanyaan yang ingin gue tanyakan saat ini adalah apakah dia masing single? Which is, nggak mungkin gue lontarkan.
"I wouldn't ask you for introducing yourself, because I already know you. We both know each other before. Mungkin kalau Lenan akan bertanya hal-hal yang lebih professional. Actually, I am not Lenan. I have my own way to treat my people. Saya sering bekerja out of schedule, jadi saya juga tidak akan menyuruhmu menyusun jadwal." gue berhenti sebentar, mengatur nafas. "My question is would you mind to work with me more than 12 hours a day?"
Wajah Raline memucat, gue mencoba membaca apa yang ada di pikirannya.
Sebenarnya, gue yakin 100% dia nggak akan melanjutkan proses recruitment ini setelah tahu gue yang akan jadi bos nya.
"I take it ." katanya. Tanpa sadar alisku terangkat, jawaban yang cukup mengejutkan. Now she looks like a hopeless human on earth.
"Asal benefit saya sesuai dan bisa untuk bayar biaya rumah sakit, I will take it." lanjutnya lagi. Beberapa detik gue terperangah,
this woman is really something. Sifat frontalnya belum berubah.
Gue mengangguk seangkuh mungkin.
"Well, saya kira cukup. Departemen Human Resources akan menghubungi kamu lagi untuk informasi apakah kamu diterima atau tidak."
"I look forward to seeing you again." kalimat Raline terdengar tulus.
Sekali lagi, gue nggak percaya.
Setelah mengatakan itu dia keluar dari ruangan gue dengan begitu tenangnya. Dammit.
Dia bisa keluar dengan ekspresi setenang itu sementara perasaan gue campur aduk walau gue lebih memilih menjahit bibir gue ketimbang mengakui itu.
Gue menekan dial extension Manager Departemen HR dan mengatakan untuk tidak langsung menghubungi Raline bahwa dia diterima bekerja di sini, paling nggak gue harus membuat Raline sedikit cemas.
Apalagi permintaan gaji Raline nggak gue permasalahkan, anggap aja biar setimpal.
"Tapi itu angka yang terlewat tinggi Pak, bisa merusak struktur gaji karyawan di Perusahaan." kata Manager HR yang kalau gue nggak salah ingat namanya Erina.
"Lalu?" kata gue sambil membaca CV Raline, Lenan membayarnya cukup tinggi tapi gue bisa membayar Raline berlipat-lipat. Seolah bisa memahami nada biacara gue, Erina menyerah.
"Baik, Pak akan saya proses seperti yang Bapak perintahkan." Erina harus mulai terbiasa, Hamifh Shaleindra tidak terlalu suka terlibat dalam perdebatan yang kurang penting.
Gue mulai kembali ke kesadaran setelah lima belas menit mengambang di udara karena pertemuan gue dengan Raline. Gue mengambil ponsel yang tadi gue letakkan sembarangan sambil mempertimbangkan apakah gue perlu memberi tahu Lenan atau nggak.
Ada dua pesan w******p dari Bela, temen SMA gue yang sampai sekarang masih berhubungan. Maksud gue berhubungan pertemanan.
[ Bela : baru aja mutusin Bari. minum? ]
Manusia ter-nggak jelas. Putus nyambung putus nyambung sekarang putus lagi buat ke sejuta kalinya dengan orang yang sama. Dari sekian banyak teman wanita, Bela satu-satunya wanita yang nggak bisa gue tolak kalau ngajak ketemuan. Dia mirip gue, paling benci penolakan dan nggak suka dibantah. Kalau ada yang bilang pria dan wanita nggak bisa berteman tanpa ada pihak yang punya rasa, gue bisa patahkan statement itu.
Gue bukan nggak tertarik sama Bela, dia tipikal wanita yang bisa membuat strangers langsung noleh kalau dia lewat. Hanya nggak dapet aja chamistry-nya. Dia nyaman curhat sama gue, gue juga nyaman ngobrol sama dia, sisa sejarah kita? Hanya kita yang tahu.
That's all I can say for now.
[ Gue : Di? ]
[ Bela : Apartmen lo. Gue males keliatan public lagi minum-minum ].
Gue belum bilang ya? Bela ini model yang katanya sering muncul di majalah, tapi gue sendiri belum pernah lihat. Gue nggak terlalu sering baca majalah fashion. Terakhir gue baca majalah waktu gue tahu temen gue Lenan, muncul jadi headline majalah Man-Today.
[ Gue : g ada tempat lain? ]
[ Bela : g usah ribet deh, kayak apartemen lo masih suci aja. ]
Mau nggak mau gue nyengir. Gue nggak pernah terbuka tentang masalah percintaan gue ke siapapun, anehnya Bela selalu tahu siapa-siapa aja cewek yang pernah masuk apartemen gue. Kadang gue curiga dia pasang cctv di salah satu sudut apartemen gue. Hm. Gue jadi punya ide iseng buat bikin Raline masuk ke apartemen gue.