Kami kembali melakukan perjalanan. Sunyi menyergap kami. Hanya Kicau burung dan ramai suara kera yang terdengar di Indra pendengaran.
Sepanjang perjalanan memoriku kembali hanyut pada kejadian 5 tahun sebelum bencana ini menimpa.
Lima tahun berlalu dari peristiwa menyakitkan itu, banyak yang berubah. Pria di sisiku terutama, jambang tipis menghiasi wajah semakin memperlihatkan sosok maskulin yang ia miliki. Tubuh yang semula kecil kini terlihat memiliki otot-otot besar. Aku bisa melihatnya dari otot yang menyembul di kedua lengannya.
Bisa kutebak bahwa istrinya Sekarang merupakan seseorang yang pandai merawat diri. Mengingat selain tubuh Amar yang kini berotot juga kulit Amar yang lumayan bersih jika dibandingkan bersamaku dulu.
Sekilas rasa sakit menyapa palung hati. Prasangka dan rasa bersalah menodong diri. Mungkinkah kebersamaan kami dulu tak membawa kebahagiaan untuknya?
Namun, dari segala perubahan yang terjadi, baik aku atau dirinya, hanya satu yang kuyakini, yaitu perasaan dendam yang masih bersemayam abadi di sanubari. Terutama kala aku teringat kembali bahwa lelaki di hadapanku inilah yang memisahkan aku dan anakku. Ya Tuhan mengingat itu d**a mendadak sesak. Seolah ada Hentakan martil yang menghantam d**a.
Ada banyak macam rasa sakit, kecelakaan, dikhianati, dan banyak lagi. Namun, di antara rasa sakit. Ditinggalkan adalah rasa sakit yang paling mujarab melumpuhkan asa manusia seketika tanpa ampun.
Benar! Aku tak akan pernah lupa bagaimana meraungnya aku mencakarkan kuku dengan buku-buku jari yang memutih ke seprei rumah sakit. Dari semua rasa sakit yang pernah Amar beri. Hari itu adalah puncak bagaimana pintu hatiku kututup rapat untuk lelaki berusia 30 tahun itu.
Pesonanya saat ini mungkin tak akan luntur karena dendamku yang melekat di sanubari, tapi bukan berarti dendam bisa begitu saja luruh hanya karna kedua iris mataku kembali berserobok dengan mata manik legam yang memesona. Pasak itu masih kutanam kuat.
Tidak berjalan, melainkan menggunakan mobil golf untuk sampai ke bagian utara proyek. Untuk luas wilayah proyek yang membentang hektaran, juga dengan jarak tempuh lebih dari 1 kilo dari proyek pembangunan pertama di gerbang depan. Berjalan kaki cukup untuk membuat tumit kami pegal-pegal.
Memangnya siapa yang mau membuat tumitku kebas? Jika dulu kesempatan itu akan kugunakan untuk bermanja-manja ria dengan Amar. Saat ini? Jangan harap! Duduk berdampingan dengannya di mobil sesempit ini saja sudah membuatku ingin menendang bokongnya menjauhi diriku.
Kami sampai di sebelah utara gedung utama yang hendak di bangun, tepatnya bagian ujung batas antara lahan yang hendak dibangun dengan batas hutan yang dilindungi. Jika kita mengarah ke arah selatan, maka yang terlihat adalah bangunan yang berdiri setengah persen lengkap dengan para pekerja. Namun, jika kita melihat ke utara. Maka yang tampak menyapa netra adalah pohon-pohon besar yang memangkas jangkauan penglihatan.
Berbicara tentang hutan, sejujurnya perusahaan cukup sulit mendapatkan izin untuk membuka resort di tengah hutan seperti ini. Walau bagaimanapun, ini termasuk hutan yang cagarnya masih sangat asri. Banyak sekali risiko yang di dapat jika kita memaksa diri untuk memangkas persentase hutan dilindungi ini. Terutama, akan berdampak pada ekosistem yang ada.
Entah bagaimana caranya, akhirnya kami bisa mendapatkan izinnya. Tentu dengan beberapa persyaratan. Diantaranya penebangan dilakukan tidak boleh melebihi 0,5 % dari luas hutan di pulau hijau ini. Kemudian wajibnya penanaman kembali pohon yang terlanjut tertebang untuk area mobilitas selama proses pembangunan.
“Kita mulai dari sini.” Amar menghentikan mobil dan memandang ke sekeliling, kemudian ia turun, pandangannya mengitari sekeliling dengan kedua tangannya bersedekap menutupi d**a.
Aku mengikuti, turun di sisi kiri mobil, berjalan ke arah Amar berdiri. Sepoi angin terasa lebih sejuk dibandingkan dengan proyek gapura di depan sana.
Amar merentangkan tangannya, menutup manik mata legamnya membuat yang terlihat hanya bulu mata yang sedikit bergerak tertepa angin hutan. Sejenak aku tertegun oleh caranya menikmati hidup. Dulu kami sering melakukannya di tempat baru. Kami akan merentangkan tangan bersama untuk mencicipi wangi pohon pinus atau ocean. Namun itu dulu, kini aku hanya bisa melihatnya tanpa berniat mengikuti geraknya.
“Kesini deh Wi, udara di sini sangat nyaman. Oksigennya sangat bersih,” ajaknya. Aku memilih tak menimpali. Amar menyadari tak ada suara menyahut. Perlahan kelopak mata itu terbuka. Mata kami saling bertumpu, aku dengan iris wajahku yang dingin dan dia dengan wajah yang tak bisa kutebak artinya.
"Aku merancang kolam renang di atas gedung tepat di titik ini." Amar mengeluarkan suara setelah sepersekian detik mata kita terpaku satu sama lain.
"Oke." Aku menjawab singkat dengan posisi yang tak berubah. Saling menatap seolah mata kami dan mulut kami membicarakan hal yang berbeda.
Ia mangut-mangut dan melangkahkan tungkainya beberapa meter dari tempat kami menginjakkan kaki setelah turun dari kendaraan.
“Lalu apa lagi lagi, Pak?.” Aku bertanya. Amar menatapku dengan wajah tak senang, muram terlihat di antara halisnya yang menyatu, juga tatapan yang berubah tajam, siap membilahku menjadi dua
"Aku nggak suka kamu manggil aku, Pak!" suaranya tegas penuh penekanan.
"Lalu... Apa?!"
"Panggil suamimu seperti biasa, Mas!"
Seketika mual menyerang. Sialan lelaki bermulut empedu tersebut. Siang hari membuatku ingin memuntahkan semua isi perutku. Tuhan, izinkan aku menjambak rambutnya hingga botak.
"Jika anda terus begini, saya anggap ini pelecehan!"
"Apanya? Suamimu? Mas? Yang mana bagian pelecehannya?"
Memejamkan mata sejenak, mengusir mual yang menyergap. Muntahan kata berisi makian rupanya tak jua membuat lelaki itu mengembalikan kewarasannya.
"Suami mana yang kamu maksud? Suami yang dengan bangganya mengirimkan surat pernikahannya ke rumah mantan istrinya?" Amar bungkam, wajahnya pias.
Samar senyum smirk terlukis di bibir milikku. Aku merasa menjadi pemenang. Ia mematung, aku suka melihat wajahnya kala aku yang memenangkan pertarungan. Dengan wajah mengangkat angkuh, tak sabar menunggu serangan selanjutnya.
"Baiklah. Mari kita lanjutkan" ucap Amar. Tangannya membenarkan letak dasinya dengan santai.
Aku menyipitkan mata.
Haha? Segini saja? Sudah? Bahkan ring saja belum kita gelar. Begitu memang jika seorang bertabiat pecundang, memilih kabur dari pembicaraan ketika terhimpit.
Lemah
"Aku akan membuat obor-obor estetik mengelilingi resort," lanjutnya.
"Kenapa? Akan ada penghangat ruangan di dalam jika suhu sedang turun."
"Bukan begitu. Ini hutan liar. Selain alamnya yang masih asri, juga ekosistemnya yang masih lengkap. Banyak binatang buas di sini. Perusahaanmu tidak akan mau membayar biaya rumah sakit kalau ada salah satu pengunjung diterkam harimau, kan?" Aku terperangah. Aku akui untuk hal satu ini dia cukup inovatif dan kreatif, tak salah perusahaan menggunakan jasanya untuk proyek besar ini.
Mengambil bolpoin di tas. Berniat hendak mengambil satu berkas. Namun, belum sempat tangan merogoh. Terdengar suara riuh di belakang punggung. Aku membalikkan tubuh, memastikan suara yang terdengar.