Sudah hampir setengah jam lamanya Maira menunggu disana tanpa bergeming sedikitpun, ia terlalu takut untuk mengintip apakah Ridho sudah benar-benar pergi dari sana atau belum yang jelas tanpa ia sudah cukup lama berada disana sampai tak menyadari kedatangan Angga yang baru turun dari lantai tiga dengan mengenakan seragam sekolah.
"Kamu mau ke sekolah?" tanya Maira yang langsung berdiri saat itu juga, Angga tak menjawab dan hanya jalan melewati Maira seakan-akan ia menganggap kala gadis itu tidak pernah ada.
Maira yang menyadari kalau dirinya telah dicuekin kembali, cuman bisa menerimanya dengan lapang d**a saja dan ia memutuskan untuk memberanikan diri mengintip kembali . Nafasnya langsung lega dalam sekejap saat menyadari kalau Ridho sudah menghilang dari sana, ia langsung berjalan cepat menaiki lantai 3 dan memasuki rumah secara buru-buru.
Didalam, ia bisa melihat Ibu lagi sedang membersihkan makanan dimeja tanpa sekalipun menatap kearah Maira.
Maira yang menyadari kalau ibu lagi berberes-beres langsung inisiatif ingin membantu, ia berjalan ke wastafel dengan niat untuk mencuci piring kotor yang sudah ditata rapi disana oleh ibu.
Namun begitu melihat Maira disana, ibu langsung meninggalkan kegiatannya dan berjalan menjauhi maira seakan-akan ia menganggap kalau gadis itu benar-benar tidak pernah ada.
Ibu mengambil sapu dan kain pel, sepertinya ia langsung mengganti pekerjaannya .
"Aku akan mencuci piring ini, tante!" beritahu Maira yang berusaha tetap tenang , lagipula ia juga tidak mempunyai hak untuk membenci Ibu apalagi saat ini ibu sedang berduka.
Dan dengan senyuman palsunya, ia mencuci piring-piring tersebut dengan teliti sampai tak ada satupun noda yang tersisa disana walaupun ada beberapa kali perutnya bunyi karena keroncongan menahan lapar.
Singkat cerita begitu selesai mencuci piring, Maira langsung berlari kearah ibu yang sedang menyatukan sampah-sampah kedalam plastik hitam dan lagi-lagi setiapkali Maira datang pasti ibu bakal pergi meninggalkan pekerjaannya tersebut.
Terpaksa Maira lah yang harus membereskan sampah-sampah tersebut, ia langsung mengikat plastik hitam itu dan berjalan keluar rumah tetapi langkahnya terhenti saat diluar pintu .
Ia menatap sekeliling untuk sejenak, memastikan kalau Ridho memang sudah menghilang dari sana dan begitu keyakinannya telah terkumpul barulah ia berjalan turun ke bak pembuangan sampah yang ada dilantai dasar menggunakan lift.
"Kamu siapa? Penghuni disini, nak?" ucap satpam tua yang bekerja menjadi penjaga keamanan dirumah susun itu.
Maira hanya mengangguk saja seraya tersenyum ramah setelah ia selesai membuang plastik hitam itu ke bak sampah.
"Rumah kamu dimana?kok gak melapor?"
"Saya tinggal dirumah Detektif Lukman."
"Wah saya kurang kenal pulak sama nama yang kamu bilang, mungkin karena beliau jarang kelihatan kali ya. " gumamnya sendiri , lalu ia kembali melihat kearah Maira.
"Berarti kamu itu putrinya?" tanyanya lagi yang membuat Maira terpaksa mengangguk saja karena bingung mau menjelaskan apa pada satpam ini.
"Oh yaudah kalau gitu, semoga betah ya tinggal disini! Lain kali ajak orang tuamu ikut acara pengajian bapak-bapak supaya bisa dikenal disini." ucapnya yang langsung pergi berlalu, Maira cuman mengangguk saja lalu berjalan kembali kerumah.
Dan begitu sampai dirumah, ia melihat ibu telah selesai membereskan rumah dan sedang menonton televisi diruang tamu. Tapi anehnya tak ada satupun siaran yang benar-benar ditonton oleh ibu selain hanya menukar bolak-balik semua siaran tersebut hingga Maira bisa mendengar jelas isak tangis yang dari ibu setiapkali siaran itu berganti dan memberikan jeda beberapa saat.
Tentu saja maira semakin merasa bersalah, ia sebenarnya ingin meminta maaf sambil bersujud dikaki ibu saat ini tetapi ia ragu karena mau bagaimanapun tetap saja ibu akan membencinya dan tindakannya tersebut sama sekali tidaklah berguna karena tidak bakal bisa juga menghidupkan kembali Nadia.
Sehingga Maira memutuskan untuk duduk didekat pintu selama ibu masih menonton televisi diruang tamu, ia tidak ingin lagi kehadirannya mengganggu waktu berduka ibu dan membuat lagi-lagi wanita paruh baya itu beranjak pergi menghindarinya.
Dalam sekilas ia teringat akan bayangan mengenai kedua orangtuanya yang samapi detik inipun ia tak ingat sama sekali, da kini setiapkali melihat wajah ibunya Nadia membuat gadis itu merasa ingin memiliki seorang ibu juga.
Sementara dilain sisi, Ridho sedang menatap beberapa foto yang sengaja digeletaknya diatas meja. Dalam foto itu terlihat kebersamaannya dengan Maira dan sebagian foto lainnya ialah foto mereka saat kecil dengan anak lain dan ditemani oleh seorang Pria tua yang mengenakan pakaian kumuh disebelah Ridho.
"Apa ini foto kita?" tanya nya seraya memperlihatkan foto tersebut kepada seorang pria yang tengah berbaring lemas dilantai , dan ia lemparkan foto itu kepada sang pria.
"Mana fotomu waktu kecil?" tanyanya pelan pada sang korban tersebut atau lebih tepatnya mungkin saja salah seorang teman lamanya saat kecil.
"Dasar psikopat!!!" ketus korban yang langsung meludah saat itu juga, Ridho hanya tersenyum saja dari balik maskernya tetapi tangannya begitu cekatan mengambil pisau dari atas meja.
"Ah, jadi kau tak ingin menjawab pertanyaanku?" tanyanya lagi sambil menarik rambut Korban dengan wajah yang sudah babak belur akibat dipukul secara terus-menerus oleh Ridho.
"Sudah kubilang jangan pernah sedikitpun membantah!!!!" bentak Ridho yang langsung menusukkan pisau itu ke mata kanan korban sampai membuat korban menjerit kesakitan dan bergerak kesana-kemari secara membabi-buta.
Dengan kedua kaki dan tanganya yang ikat dengan rantai membuat ia tak punya kesempatan untuk bisa melarikan diri disana atau sekedar membaluti perdarahan dari matanya yang semakin membanjiri lantai.
Dalan kesunyian ruangan yang berukuran studio itu, kini hanya suara teriakan kesakitan korban yang tampak sangat dinikmati oleh Ridho . Ia seperti menikmati setiap jeritan kesakitan korban dan malah yang paling kejinya lagi ia menyeret korban untuk mendekat kepadanya dan langsung menusuk pisau itu tepat ke tenggorokan korban sampai menembus kebelakang tenggorokan lalu mencabutnya secara paksa hingga korban mulai tak berdaya menyaksikan detik-detik kematiannya saat itu.
Dan ditengah keputusan itu, korban berusaha memaksa tubuhnya merayap mendekati kaki Ridho seakan-akan ia sedang memohon pertolongan pada Ridho yang hanya dibalas tendangan kasar dari remaja gila itu.
Lalu ia menginjak punggung korban dengan sepatu bot yang dikenakannya saat ini dan membiarkan korban meninggal disaat itu juga.
"Kau lemah sekali!" Pekiknya seraya tertawa bangga, ia bahkan menduduki punggung korban dan bersantai disana sampai ia menyadari Pipinya telah dibanjiri air mata.
"Kenapa mataku basah? Apa aku menangis?" gumamnya yang masih tetap tertawa seperti orang gila saja.