12. Kembalinya Dunia Seksi

2117 Kata
     Dampaknya sudah tidak dapat dibendung. Lantai kamar kini terpenuhi serpihan kaca dari hasil Jee menghancurkan dinding terbuat dari kristal. Suara itu pun terdengar sampai keluar ruangan dan membuat orang rumah terutama Yasmine ikut bertanya-tanya.      Buku jari terpenuhi darah terus Jee perhatikan. Bukan ini! Ya, bukan seharusnya Jee menjadi pria yang lebih t***l hanya karena Yoanna sudah memiliki seorang anak. Dan dari benak Jee memang tidak sanggup mengira tentang suami Yoanna, bersumpah dengan segala ketabahan Jee tidak akan sanggup menerima semua ini.      Hingga dua kali Jee memukul sisa penutup ruangan dengan tangan. Entah apa yang membuat Jee merasa sia-sia, dan rasanya bukan karena Yoanna tetapi Jee menikmati kekalahan dari waktu 6 tahun terakhir. Memalukan! Masih terlalu dini jika pertemuannya kembali merupakan masalah yang sama. Jee tidak akan pernah memiliki Yoanna seutuhnya.      Keringat mulai bergulir dari pelipis sampai ke sisi wajah tampan Jee. Ia tidak peduli meski Yasmine sudah memanggilnya hingga berkali-kali, Jee hanya memberi kode dehem dari balik pintu besar. Jee tidak bisa memberi yakin jika hari ini ataupun besok akan merasa jauh lebih baik, sambil membalut luka Jee tersenyum miring karena semua ini terlalu lucu untuk dikenang.      Tanpa menjelaskan secara detail untuk ibunya, Jee pergi ke kantor dengan setumpuk rasa kesal. Perjalanan pun menjadi hitungan menit kemudian Jee menugaskan kepada Rd untuk membatalkan semua rapat. Justru Jee kini tengah melakukan panggilan telepon dengan salah satu produser film. Sempat Jee hanya memberi jawaban singkat sampai Jee kini mencermati setiap perbincangan.      "Sebenarnya dari kapan kau mulai terpikirkan untuk mencari model di perusahaan ku? Apa stok mereka kurang menjual? Atau..," Jee menghisap olahan tembakau. "Keseksian mereka kurang menguntungkan perusahaan?"      Dari arah sambungan nirkabel rekan Jee terbahak-bahak. "Yang jelas semenjak kau sudah tidak bekerja lagi denganku. Semua aset sepertinya mengalami kerugian besar."      "Kau saja yang i***t mencari model. Bukan karena aku." balas Jee memang ia ingin meremehkan orang hari ini.     "Bisa jadi," terdengar suara kecapan lidah. "Tapi aku memang sudah membuktikannya, beberapa model kelas atas masih kalah dengan keahlian mu Jee."      Jee mendengus. "Aku mual mendengar rayuan."     "Hei ayolah! Ini bukan rayuan Jee, kau memang model paling seksi di Jerman. Apalagi adegan yang kau bawa itu sangat murni, kau nomor satu di Eropa Jee." balas rekan Jee antusias.      Di samping meja kerja Jee menekan-nekan pelipis. Rasanya berat jika mengingat tentang Yoanna, Shaila dan juga gairah yang terkoyak oleh keinginan. Meski berpasrah Jee tidak akan rela jika 6 tahun terbayar dengan pernikahan Yoanna dengan pria lain. Semakin Jee merasa terasingkan, Jee pula semakin besar ingin meringkus Yoanna dalam pelukannya.     "Jee!"     "Aku bisa bekerjasama denganmu. Asal aku memilih siapa yang akan menjadi fotografer ku nanti, dan aku ingin kau membuat film panas yang spektakuler." tukas Jee berambisi.    "A--pa kau yakin?" suara dari seberang menanyakan kepastian.      "Ya. Aku yakin," Jee tersenyum picik. "Aku kembali sebagai Jee yang baru."      Belum sempat satu jawaban melintas dari panggilan, Jee sudah mengakhiri. Satu alis Jee terangkat kemudian ia tidak sengaja dibuat terpaku, matanya terarah tanpa kedipan saat Yoanna dan Arnold terlihat melintas di depan ruangannya. Dari korden yang tersingkap Jee segera keluar, dan sontak keberadaannya membuat Yoanna terkejut. Yoanna pun menahan napas saat Jee hanya menggunakan kode agar Arnold segera pergi.      "Ikut aku!" tanpa jawaban Jee menarik tangan Yoanna.      Yoanna menolak apa yang tengah mencengkeramnya. "Lepas! Apaan sih kamu, nggak jelas!"      Tentu saat Yoanna menghindar Jee meraih pinggang terasa mungil di tangannya. Menjerumuskan Yoanna lebih dalam ke ruangan Jee. Di sana Jee mengubah sandi pada pintu agar Aloysia tidak lagi mengganggu aktivitas yang Jee rasa hari ini sedikit privasi.      "Lepasin!"      Jee menyudutkan tubuh Yoanna ke dinding. Mengikat kedua tangan Yoanna dengan satu cengkeraman tangannya.      "Aku cuma mau bilang sesuatu," Jee mengamati bola mata yang terus bergerak-gerak mencari pandangan lain. "Ada pekerjaan baru untukmu, dan itu tidak bisa kau tolak atau..,"      Seakan menyediakan pilihan. Yoanna mengerjap berusaha meringkus rasa takut jika Jee akan berbuat sesuatu pada dirinya. "B--ukannya aku lagi kerja ya? A--ku udah kerja di cabang perusahaan JE'O 'kan?"      "Kurang! Ini masih kurang Y." bukan ini yang ingin Jee perbuat. Namun jari telunjuknya terlena sehingga membuka satu kancing baju Yoanna.      Aroma napas Jee terlalu menyengat di pikiran, menyebar niat dan keinginan lain di setiap sentuhan yang Yoanna rasakan. Bentuk yang mengeras itu telah melekat di balik celana tebal menyentuh apa yang terpahat di dalam rok mini ketat Yoanna, seolah meraba semua bagian yang paling menyenangkan.      "Apanya yang kurang? Nggak usah sinting Jee."      "KAU YANG MEMBUAT AKU FRUSTASI DAN GILA!" bentak Jee dari bahasanya saat itu membuat Yoanna hanya sanggup meraup napas dari mulut.      Untuk saling menukar aroma saat mengambil napas bersamaan saja Jee sudah merenda gairah, seakan memiliki tanggung jawab di bawah sana.      "K--kenapa aku? Itu kan emang kamu yang udah gila!" entah setan apa yang merasuki hingga Yoanna mampu menatap mata itu.      Rupanya jarak sejengkal tangan saja tidak cukup. Jee menarik pinggang Yoanna, mencengkeram kuat bongkahan seksi itu dengan satu tangan saja. Terang kain beludru tok Yoanna tersibak, saat ini Jee dapat merasakan kulit mulus Yoanna.      "Ingin tau kenapa aku gila?"      "Nggak!" bentak Yoanna memalingkan wajah saat ujung hidung Jee menyentuh sisi wajahnya.     "Good girl!" satu gerakan singkat Jee sudah menetapkan Yoanna di gendongannya. "Ini... Yang membuatku gila!"      Saat berontak kamera digital di tangan terlepas. Yoanna gagal menarik tali yang menggelantung dan benda yang menjadi senjatanya bekerja jatuh ke dasar. Pecah hingga lensanya berserakan.      Dari situ Jee hanya tersenyum simpul. Tanpa melepas Yoanna meski tubuh itu terus mencerca pertahanan agar Jee segera melepaskannya. Tapi bukan Jee tentang apa yang ia inginkan tidak terpenuhi, apalagi mengenai Yoanna.      Saat ini Jee masih ingin melanjutkan pesta kecil yang sempat tertunda waktu itu, tapi rupanya Jee melupakan sesuatu jika hari ini ia harus menghadiri acara rapat.      "Sekarang ikut aku!"      "Apa? Nggak aku nggak mau! Lepasin bos gila," Yoanna menjambak rambut Jee, dan saat itu Jee melempar tubuh Yoanna ke sofa.      Kemeja putih tipis dipercantik dengan bra hitam yang terlihat membuat Jee merasa dahaganya mencicil keinginan. Dengan cepat Jee merobek kemeja Yoanna, mengunci kembali pergelangan tangan Yoanna dengan satu cengkeraman. Lalu tanpa menyiarkan apapun Jee melahap leher Yoanna. Mengecup hingga meninggalkan jejak merah di sana.      "Aku masih inget Y," deru napas Yoanna bagaikan irama di telinga Jee. "Seperti ini 'kan?"      Apa yang ingin Yoanna pertahankan tiba-tiba berontak. Hangat dan basah Jee menyentuhnya tanpa melepas apa tangan dan desiran darah di dalam tubuh mulai terasa. Yoanna mengerjap karena rasa itu masih melekat tajam, mengundang tingkah laku agar Yoanna dipuaskan.      Bahkan Jee dapat melihat leher Yoanna menelan ludah. Itu sangat menggoda, hingga Jee mengikuti air itu tertelan. Kemudian kecupan Jee bergulir hingga belahan d**a Yoanna.      "Lepas!" tibalah Yoanna ingin mengakhiri jejak iblis yang siap mengindahkan suasana ini.      Yoanna tersentak begitu Jee telah menarik lengan dan pinggangnya. Yoanna kembali berdiri, sebisa mungkin Yoanna melindungi kulit yang terlihat dan terutama dari tatapan rakus Jee.      "Ingat! Kalau kamu menghindar sama aja kamu nyuruh aku berbuat lebih gila lagi, dan ingat baik-baik!" Jee benar-benar geram dan terus menarik pinggang Yoanna agar tidak jauh darinya sedikit pun.      "Setiap aku minta kamu ikut, tidak ada kata 'tidak'. Dan aku nggak akan menjamin hidup kamu tenang," Jee nekat mencium bibir Yoanna singkat. "Kalau kamu nggak bisa jadi wanita penurut."      Yoanna segera menjauh. Mengusap bekas basah bibir Jee dan terus membenarkan kemejanya yang telah robek.      "Emangnya kamu siapa? Aku cuma kerja, cari uang buat biaya hidup. Kalau kamu ngancem silakan! Aku nggak takut sama kamu!" yakin Yoanna tidak akan luluh segampang itu.      Menarik. Jee mengendurkan dasi lalu melepas jasnya dan melempar ke arah Yoanna. "Tutup tuh kulit kamu yang seksi, ada saatnya nanti aku membukanya."      "Sialan." umpat Yoanna lirih.      "Ikut aku atau kamu ganti kamera ini! Aku mulai hobi kasih kamu pilihan Miss Y." tandas Jee tentunya memberi penekanan untuk Yoanna.      Melihat kondisi kamera mahal yang sudah terjatuh rasanya Yoanna sesak napas. Bahkan membayangkan gaji beberapa bulan akan lenyap untuk satu jenis kamera seperti Leica S2-P. Itu sebabnya Yoanna tidak bisa leluasa berdalih, ia hanya diam kemudian mengenakan jas Jee untuk menutupi sebagian tubuhnya.      Di depan pintu kantor Jee sudah menetapkan tatapan Aloysia yang sudah menunggu Jee hampir 30 menit. Jee terlihat santai dengan rambut dan penampilannya yang terkesan berantakan.      "Ada apa?" tanya Jee menoleh saat Yoanna keluar dari ruangannya.      Aloysia terpaku. Dari ujung rambut sampai kaki Yoanna terus ia perhatikan, sampai Aloysia paham jika jas navy itu milik Jee.      "Jika tidak ada urusan," Jee membungkuk agar lebih jelas melihat wajah Aloysia. "Aku pergi! Ada urusan penting untuk dilakukan."      Kemudian Jee menarik lengan Yoanna. Tanpa basa-basi mengambil kesempatan memeluk Yoanna di depan Aloysia ide bagus. Meski Yoanna terus menolak, Jee tidak kenal apa itu larangan. [...]      Satu hari menjadi tawanan Jee sempat membuat Yoanna hampir mati karena khawatir Jee akan berbuat gila. Tapi tidak seperti perkiraan Yoanna. Sebelum Jee mengajaknya ke tempat yang Yaonna sendiri tidak tahu di mana, ia sudah mendapatkan baju layak pakai. Sebuah kamera baru yang Yoanna tahu itu merupakan kamera termahal di dunia, satu bidikan saja tidak pernah mengalami cacat sedikit pun.      "Aku nggak mau!" tegas Yoanna masih sama. Tidak ingin jika pemberian Jee merupakan salah satu alasan Yoanna menuruti perintah.      Sungguh, Jee ingin menjadi pria jahat dan siap berbuat kriminal jika di dekat Yoanna. "Kamu kira itu buat pribadi? Hasil gambar yang kamu ambil itu adalah aset, kalau jelek siapa yang rugi heh?"      Dari kaca mobil Yoanna memilih untuk melirik bingkisan besar berisi kamera. Memang benar jika alat di sampingnya merupakan properti perusahaan, tapi Yoanna tidak bodoh. Jee meredam sesuatu di balik kebaikannya.      "Biasanya aku taruh kamera itu di kantor," Yoanna masih tidak percaya diri memakai rok mini di dekat Jee. "Jadi nanti kamu taroh aja di dekat meja pak Arnold, beres 'kan?"      Semakin meluas rasa penasaran Jee jika menghadapi wanita yang sama sekali tidak tertarik dengannya. Pikiran macam-macam memang sudah muncul sejak pertemuannya dengan Yoanna, tapi Jee urung karena bukan ini yang ingin menjadi tujuan. Meski terkadang Jee merasa terhibur bermain-main dengan Yoanna.      Mobil segera melaju cepat menuju perusahaan film terkemuka di Jerman. Jee memotong perjalanan dan membuat singkat hingga logo huruf 'T' perusahaan industri film ditempuh singkat.      Segera Jee memarkirkan mobil. Ia dengan sigap melepas seatbelt di pinggang dan juga milik Yoanna. Tanpa berpikir panjang lagi Jee menarik lengan Yoanna seolah barang cantik itu tidak ingin Jee tinggalkan.     "Nggak usah protes!" perintah Jee tanpa memandang.      Selain berandai-andai, Yoanna ingin sekali lagi menampar wajah tampak tampan itu. Tapi menjadi manis sepertinya lebih aman karena Yoanna tetap ingin Shaila selamat tanpa tersentuh tangan panas Jee.      Sambil bermimpi menginjak-injak wajah Jee, mata Yoanna terpaku dengan segala arsitektur terutama hiasan dinding di sepanjang koridor perusahaan Tree S. Perasaan Yoanna menangkap kesan aneh namun ia tidak peduli dengan firasatnya yang selalu salah. Kemudian Yoanna diseret oleh Jee menuju ruangan megah dan sedikit asing.      Kemudian pintu otomatis terbuka. Lalu pintu berbahan baja mulai tersibak pelan tanpa suara. Dengan pendengaran yang masih tajam Yoanna mendengar suara orang berteriak. Bukan, lebih meneriakkan kenikmatan. Sampai pintu terbuka sepenuhnya jantung Yoanna hampir mencuat keluar dari rongga d**a.      "Selamat datang tuan Jamie." sambut seorang pria mengenakan pakaian serba transparan. Bentuk dominan yang kuat pun terlihat.      Dari balik tirai yang melambai Yoanna melihat jelas dua pria dan dan satu wanita tengah bergumul di atas ranjang. Mencerna kenikmatan seks di depan kamera, melakukan adegan panas sebuah film edukasi seksi.      "Baik," Jee menyambut rekannya dengan memberi pelukan namun Jee menoleh seketika saat akan mendapat kecupan di bibir. "Kau bagaimana?"      Desahan dari ruang yang sama membuat telinga Yoanna terasa panas. Kemudian secara langsung Yoanna mengubah tubuh Jee menghadap ke arahnya.      "Ini tempat apa?" tanya Yoanna memastikan jika ini bukan musibah.      Jee melihat cengkeraman tangan Yoanna di lengannya. "Kamu pikir ini tempat apa hm?"      Yoanna memejamkan mata lalu meraup udara dalam pernapasan. "B--ukan ini kan pekerjaan baru yang kamu maksud?"      Tangan Jee justru berbalik menjerat lengan Yoanna. "Bukan! Kamu nggak kerja sama mereka, kamu tetap bekerja di perusahaan ku. Tapi... Sebagai fotografer pribadi!"      "Fotografer pribadi?" Yoanna mempertegas ucapan Jee. Berharap jika Yoanna salah mendengar.      Kemudian dari arah yang berlawanan di ruangan yang sama Yoanna melihat desahan merangkap dengan sikap dalam percintaan itu adalah sebuah film panas. Adegan yang merajalela di atas ranjang dan gemulai tubuh itu mengarah pada kamera, meliuk-liuk tanpa beban meski terlihat beberapa orang di sana.      Hanya anggukan kepala dari Jee saja sudah cukup membuat Yoanna ingin mati. Sampai Yoanna dungu melihat wajah Jee mendekat, semakin dekat hingga Yoanna merasa Jee sudah menyergap bibirnya. Saling melekat lebih dalam dan Yoanna tidak dapat terlepas sekalipun Yoanna sudah mendorong d**a Jee.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN