Bagian 8 - Hari Pertama Menjadi Kekasih

1771 Kata
Sebelum lanjut membaca, pastikan kalian sudah tap tanda love dan follow akun aku ya :) ***   Sepanjang sisa perjalanan menuju ke kantor Audrey, senyum Naya tidak bisa lepas menghiasi wajahnya. Ajakan menjadi kekasih Kenan membuat hatinya dipenuhi oleh bunga-bunga. Di dalam hatinya Naya bergumam, Untung aku hari ini berdandan seperti Ibu Kyara. Keberuntungan benar-benar datang karena dandananku ini. “Naya,” panggil Kenan. “Iya, Sayang,” sahut Naya dengan lugas dan dengan senyum lebar di wajahnya. Mata Kenan mengerling tajam pada Naya. “Kamu panggil saya apa tadi?” tanyanya dengan dahi sedikit berkerut. “Hmm … Sayang,” jawab Naya tanpa sedikit keraguan dalam dirinya. Naya merasa jika mereka berdua sudah resmi menjadi sepasang kekasih, jadi tidak ada salahnya jika Naya memanggil Kenan dengan sebutan seperti itu. Toh biasanya sepasang kekasih memang saling memanggil dengan sebutan ‘sayang’. Sayangnya pemikiran tersebut sama sekali tidak mampir ke benak Kenan. Ditambah saat ini mereka berdua sedang menuju ke kantor klien yang artinya mereka berdua harus bisa bersikap professional sebagai bos dan sekretarisnya. “Belum satu jam kamu menjadi kekasih saya dan kamu sudah berani memanggil saya dengan sebutan seperti itu?” Kenan tampak sedikit sinis menanyakan hal tersebut. Dengan lugunya Naya menjawab singkat dan balik memberondong Kenan dengan berbagai pertanyaan. “Iya. Eh, memangnya kamu gak suka ya dipanggil seperti itu? Atau kamu mau aku panggil dengan panggilan lain? Hmm … Ken chan gitu?” Kenan tampak menggelengkan kepalanya, tangannya juga ikut menggaruk kepala belakangnya yang sebenarnya tidak gatal. “Kamu jauh berbeda dengan Kyara,” gumam Kenan kemudian dengan suara pelan. Namun, walau Kenan sudah menurunkan volume suaranya tetapi Naya masih bisa mendengarnya dengan jelas. Tiba-tiba d*da kirinya terasa sedikit nyeri saat Kenan membandingkannya dengan Kyara. Naya sempat lupa jika dia memang dianggap sebagai pengganti Kyara oleh Kenan. “Maafkan aku jika kamu tidak menyukainya,” lirih Naya. “Aku juga akan berusaha menjadi seperti yang kamu mau. Menjadi Kyara atau siapapun itu,” tambahnya. Kenan kemudian melirik ke arah Naya. Jelas terlihat kini perubahan raut wajahnya yang sangat cepat. Sebelumnya dia tampak senang dengan senyum yang tidak pernah terlepas dari wajahnya, tetapi kini dia tampak sedih dengan bibir yang mengerucut. “Saya mau kita professional. Waktunya bekerja kita harus tetap bekerja dengan baik tanpa terbesit sedikit pun di benak kita jika kita adalah sepasang kekasih. Karena aku tidak mau kinerjamu bertambah buruk dari hari sebelumnya.” Kenan berusaha memberi penjelasan. Mobilnya kini sudah melintas melewati gerbang utama perusahaan tempat Audrey bekerja. Seorang pria mengenakan pakaian satpam membantu Kenan memberi instruksi pada Kenan saat memarkirkan mobilnya. “Dan lagi, kita sudah berada di depan kantor Ibu Audrey. Jadi jangan pernah menunjukkan sedikit pun sikap manja atau panggilan sayang seperti tadi di depan beliau dan Pak Hartono. Kamu mengerti?” ujar Kenan mengingatkan Naya. Naya hanya bisa mengangguk pelan memberi jawaban pada Kenan. Kemudian mereka berdua keluar dari mobil dan tidak membuang waktu langsung berjalan masuk ke dalam gedung bertingkat dengan banyak jendela di tiap lantainya yang berdiri kokoh di depan mereka. Seorang pria menggunakan seragam serba hitam kemudian membukakan pintu untuk mereka berdua saat ingin masuk ke dalam gedung tersebut. Lalu sedikit masuk ke dalam mereka disambut oleh dua orang wanita yang bertugas di meja resepsionis. Naya pun mendekat ke meja resepsionis tersebut dan mengatakan jika dirinya dan Kenan ingin bertemu dengan Audrey. “Apa sebelumnya sudah membuat janji?” tanya salah satu staff resepsionis di balik meja. “Sudah,” jawab Naya singkat. “Baik kalau begitu saya akan hubungi Ibu Audrey terlebih dahulu. Teman saya akan mengantar Ibu dan Bapak ke untuk menunggu di ruang meeting,” kata resepsionis tersebut. Kenan dan Naya kemudian diantar ke ruang meeting yang ruangannya berada tepat di sebelah meja resepsionis. Sang staff resepsionis juga menyuguhkan dua gelas air mineral untuk mereka berdua. Tak lama kemudian Audrey datang ke ruang meeting bersama dengan seorang pria paruh baya yang tampak masih cukup gagah dengan jas yang dia kenakan. “Maaf menunggu lama, Pak Kenan,” kata pria paruh baya tersebut. Kenan menyunggingkan senyum sambil mengulurkan tangannya pada Pak Hartono. “Tidak lama, Pak. Saya baru saja datang. Salam kenal, Pak.” “Salam kenal juga. Saya Hartono.” Pria paruh baya yang memperkenalkan dirinya sebagai Hartono tadi menjabat tangan Kenan dengan hangat. “Silahkan duduk,” kata Hartono mempersilahkan Kenan. Kemudian di dalam ruangan tersebut Kenan dan juga Naya melakukan perbincangan yang cukup panjang hingga akhirnya terjadi kesepakatan kerja sama antara perusahaan Kenan dengan perusahaan Hartono tersebut. Audrey yang sangat membantu Kenan untuk meyakinkan Hartono agar mau mencoba kerjasama dengan perusahaan milik Kenan. Bisa dibilang Kenan banyak tertolong oleh Audrey, karena Naya tidak banyak membantu dan lebih banyak diam memperhatikan. “Wah, senang ya akhirnya perusahaan kita bisa bekerja sama, Pak Kenan,” kata Audrey yang mengantarkan Kenan dan Naya hingga ke pintu masuk perusahaan. Sedangkan Pak Hartono masih berada di dalam ruang meeting menelepon kliennya yang lain. Dengan senyum di wajahnya Kenan menjawab, “Iya, Bu Audrey. Anda sudah banyak membantu saya untuk meyakinkan Pak Hartono.” “Tidak … tidak, Pak. Penjelasan anda yang luar biasa, jadi saya bisa membuat Pak Hartono lebih mudah mengerti,” balas Audrey. Wanita itu kemudian menyunggingkan senyum pada Kenan dan menatapnya penuh ketertarikan. Lalu Audrey memberikan ajakan pada Kenan. “Bagaimana kalau kita rayakan malam ini? Ya … sederhana saja, Pak. Misalnya makan malam berdua?” Kepala Naya menoleh dengan cepat saat telinganya mendengar ajakan Audrey pada Kenan. Namun, tanpa banyak berpikir Kenan malah menerima ajakan Audrey dan membuat alis naya bertautan. “Nanti malam kita makan bersama di restoran Jepang favorit saya. Saya akan share lokasinya pada anda, Bu Audrey,” ucap Kenan. Senyum Audrey semakin terkembang. “Okay, Pak Kenan. Sampai bertemu lagi nanti malam.” Huh! Pakai senyum-senyum segala. Belum tahu saja dia jika sebenarnya Pak Kenan itu sudah jadi milikku. Di dalam hatinya Naya menggerutu, bibirnya juga mengerucut ditambah kedua mata memincing saat menatap Audrey yang tampak senang karena Kenan menerima ajakannya. Naya langsung menyusun rencana dalam kepalanya agar dia bisa mengacaukan acara makan malam Kenan dan Audrey nanti. Kenan dan Naya kini sudah berada kembali di dalam mobil untuk menempuh perjalanan ke kantor mereka. Pandangan mata Kenan fokus ke arah depan memperhatikan jalan, sementara Naya kini menatap Kenan dengan mata yang disipitkan. “Kenapa kamu melihat aku seperti itu?” tanya Kenan yang ternyata menyadari hal tersebut. “Kamu beneran mau makan malam sama Ibu Audrey?” Naya menjawab Kenan juga dengan melontarkan pertanyaan. “Memangnya kenapa? Kamu mau ikut?” Mata menyipit Naya langsung terbuka lebar. “Mau!” jawabnya dengan lantang. “Tapi saya tidak mau kamu ikut.” Kenan menggoda Naya sambil menahan tawa yang siap keluar. Sikap lugu dalam diri Naya membuat gadis itu bisa mengubah ekspresi wajahnya dengan cepat. Yang tadinya merengut bisa tersenyum, lalu merengut lagi dalam waktu setengah menit saja. Benar saja, sampai pulang bekerja pun Kenan sama sekali tidak memberi ajakan pada Naya untuk ikut bersamanya. Naya yang kesal dan kecewa hanya bisa berbaring di tempat tidurnya sambil memainkan ponsel pintar miliknya. “Jahat banget ih! Padahal dia udah ngajak aku pacaran loh, tapi sekarang dia malah makan malam sama cewek lain tanpa mengajakku sama sekali. Iihh … kesal! Kesal! Kesal!” Naya menggerutu meluapkan perasaan kesal dalam hatinya. Gadis itu kemudian bangkit dari posisi berbaringnya lalu menapakkan kakinya ke lantai. Dia berjalan menuju dapur untuk mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas yang ada di sana. Dalam posisi berdiri Naya membuka botol air mineral dan menenggaknya dengan cepat. Dia merasa harus mendinginkan pikirannya dan tidak terus menerus memikirkan Kenan. “Aahh ….” Tampak kelegaan tidak hanya di kerongkongan Naya, tetapi juga di hati dan pikiran Naya. Sambil membawa botol air mineral yang tersisa setengahnya kini Naya melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Diletakkan botol air mineral tersebut di lantai tepat di samping tempat tidurnya. Naya juga ikut duduk di lantai sambil menyandarkan punggungnya di sisi tempat tidur. Diintipnya kembali ponsel yang untuk sesaat dia tinggalkan saat mengambil air. Sebuah pesan dari Kenan sukses membuatnya terperanjat hingga bangkit berdiri. Kenan : Naya, pakailah pakaian yang bagus. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit aku akan sampai di depan rumahmu. Ayo makan malam berdua denganku di restoran Jepang favoritku. “I-ini beneran??? Bukannya Pak Kenan ada makan malam dengan Bu Audrey?” Naya tampak tidak percaya dengan pesan yang baru saja dia baca. Hinga berulang kali Naya membaca pesan yang dikirimkan oleh Kenan sampai dia benar-benar yakin jika Kenan sedang tidak salah kirim karena di awal kalimat Kenan menuliskan namanya. “Yeeeaayyy …!! Makan malam sama Pak Kenan!” teriak Naya kegirangan sambil melompat-lompat di kamarnya. Naya kemudian mencari pakaian dalam lemarinya. Dia tidak boleh tampak jelek dalam makan malam pertamanya sebagai kekasih seorang Kenan Adhitama. Dipilihnya sebuah kemeja berlengan trumpet berwarna hitam dengan motif garis putih, dan dipadupadankan dengan rok a-line berwarna hitam yang panjangnya di atas lutut. Simple tetapi tetap terlihat feminim. Naya juga menguncir rambutnya seperti ekor kuda sehingga memperlihatkan leher jenjangnya. Untuk wajahnya, dia hanya memulas make up tipis sehingga tampak natural. Saat Naya sudah selesai berdandan secepat kilat, ponselnya berdering dengan kencang. Naya langsung menyambar ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Dari layar ponselnya bisa dilihat jika Kenan meneleponnya. “Halo, Pak. Saya sudah selesai nih,” ucap Naya saat menerima panggilan telepon Kenan. [Naya, maafkan saya. Saya baru saja mendapat telepon dari kedua orang tua saya dan saya harus segera pulang.] Hati Naya kini seperti diselimuti oleh awan hitam bergemuruh. Beberapa saat sebelumnya dia sudah sangat senang seperti diterbangkan oleh Kenan ke langit ke-tujuh, lalu kini dia merasa seperti dijatuhkan kembali ke bumi. “Iya, Pak. Tidak apa-apa.” Naya menjawab Kenan dengan lesu. [Maaf, Naya. Aku akan menggantinya lain hari.] Kenan kemudian mengakhiri panggilan teleponnya begitu saja. Naya menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Kekecewaan benar-benar menyelimuti dirinya malam ini. Bahkan genangan air mata sudah tampak di pelupuk matanya. “Huufff …. Mau bagaimana lagi ‘kan? Hari pertamaku menjadi kekasih Kenan benar-benar jauh dari kata menyenangkan.” Naya mengeluhkan hari pertamanya menjadi kekasih Kenan. Namun, dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Dia juga baru menyadari kembali jika Kenan menjadikannya kekasih hanya sebagai seorang pengganti, bukan karena benar-benar menaruh perasaan padanya.   ____________________   GIVEAWAY TIME Hai readers, Aya datang bawa GIVEAWAY nih, hehehe... Mau tahu GIVEAWAY nya kayak gimana dan hadiah apa yang bisa kalian dapatkan? Langsung follow akun media sosial aku karena peraturan dan hadiah GA diumumkan di sana.. FB : Aya Warsita IG : aya_ayawars Periode GA kali ini mulai dari tanggal 1 s/d 25 September 2021. Pengumuman tanggal 26 September 2021. Jadi, jangan sampai ketinggalan ya… Karena bisa jadi kalian yang beruntung :))
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN