Di rumah sakit Arafan tak berhenti berdoa. Setelah kembali sadar dari lelapnya ia terus mengamati kondisi Abrisam. Sampai melupakan kalau ponselnya sudah habis batre. “Istriku telpon?” tanyanya pada Vanya. Perempuan itu baru saja membuka mata. Refleks Vanya mengangguk. “Kamu bilang apa?” “Sesuai instruksimu.” Arafan mengulas senyum tipis. Ia rasa Hanania memang perlu mengetahuinya. Cepat atau lambat. Ia berencana kembali melihat kondisi Abrisam. “Kenapa kamu langsung percaya? Kenapa kamu yakin kalau Brisam anak kamu?” Bagi Vanya respons Arafan yang langsung mengiyakan cukup membingungkan. Biasanya laki-laki akan mengelak atas perbuatannya dan berusaha untuk menutupi demi kehidupannya saat

