PERJALANAN YANG PANJANG

637 Kata
"Setelah pertemuan itu raditia dan clara mulai menjalin kedekatan.Mereka berdua semakin dekat,mereka saling bercerita tentang kesibukan masing-masing. Dan mulailah tumbuh benih-benih cinta diantara keduanya." Raditia mulai merasa menemukan takdir hidupnya. Setiap detik raditia merasakan perasaan yang sulit Ia ungkapkan. Perasaannyaman "Di dekatnya, dunia yang biasanya bising mendadak menjadi sunyi yang menenangkan, seperti hujan yang jatuh tanpa tergesa" Rasa rindu yang halus “Namanya tinggal di kepalaku seperti lagu yang tak pernah benar-benar selesai—terdengar pelan, tapi terus berulang." “Kami tidak membutuhkan banyak kata; sebab dalam diam, hati kami sudah saling memahami lebih dari yang bisa dijelaskan.” Seakan raditia tidak ingin membuang waktu lebih lama iya harus menyampaikan perasaannya kepada clara.Disatu malam raditia menelfon clara,awalnya hanya terjadi perbincangan seperti biasa yang telah mereka lalui. Setelah lama bercerita raditia diam sejenak dan menghela nafas sembari mengungkap perasaannya. "clar ada yang mau aku sampaikan" ucap raditia dengan nada gugup. "ada apa kak?" ujar clara. Raditia lansung menyampaikan isi hatinya kepada clara "Aku tau ini terlalu cepat,kita belum lama kenal,tapi aku nggk mau menunda ini lagi" ujarnya dengan suara yang bergetar. "sejak pertemuan pertama kita sampai saat ini aku sebenarnya...." Ia terdiam sejenak sembari menghirup nafas dalam-dalam. Lalu Ia melanjutkan ucapannya “Kita memang baru kenal, tapi aku nggak mau bohong sama apa yang aku rasakan.kamu mau nggak jadi pacar aku" suasan malam itu mendadak terasa sunyi tak ada jawaban yang terdengar dari clara.hanya terdengar suara nyaring jangkrik."krik...krik...krik...." namun tak lama suasana hening itu terpecah oleh suara dari dalam ponsel raditia "ya...aku mau"dengan nada suara malu-malu. Hari pertama setelah mereka jadian terasa seperti dunia baru yang perlahan terbuka. Pagi itu, Raditia bangun dengan perasaan yang berbeda—lebih ringan, seolah ada sesuatu yang indah menunggunya. Sebuah pesan masuk di ponselnya. “Selamat pagi, Kak ☀️” Pesan sederhana dari Clara, namun cukup untuk membuat hari Raditia terasa sempurna. Sejak itu, pagi mereka selalu dimulai dengan sapaan kecil, dan malam ditutup dengan ucapan hangat. Hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa, kini berubah menjadi sesuatu yang sangat berarti. Mereka mulai menjalani hari-hari sebagai sepasang kekasih. Di angkot yang sama, mereka duduk berdampingan. Kadang saling bercerita, kadang hanya saling diam sambil tersenyum. Namun bahkan dalam diam, suasana terasa penuh—seolah waktu enggan berjalan terlalu cepat saat mereka bersama. Sesekali, tangan mereka saling bersentuhan. Awalnya canggung, lalu berubah menjadi kebiasaan yang diam-diam dirindukan. Di hari libur, mereka mulai menjelajah tempat-tempat sederhana—taman kecil, pinggir jalan dengan jajanan murah, hingga sudut kota yang mungkin tak pernah dianggap istimewa oleh orang lain. Namun bagi mereka, setiap tempat terasa indah. Karena kebahagiaan itu bukan tentang ke mana mereka pergi, tapi dengan siapa mereka berbagi waktu. Clara sering tertawa karena hal-hal kecil—candaan sederhana Raditia yang mungkin tak lucu bagi orang lain, tapi selalu berhasil membuatnya bahagia. Dan bagi Raditia, tawa itu adalah suara paling menenangkan yang pernah ia dengar. Kadang, mereka saling bertukar cerita tentang masa lalu, tentang luka yang pernah ada, dan tentang harapan yang ingin mereka jaga. Dalam percakapan-percakapan itu, mereka tidak hanya jatuh cinta—mereka juga belajar saling memahami. Ada hari-hari di mana mereka hanya duduk berdua tanpa banyak bicara. Menikmati langit sore yang perlahan berubah warna, ditemani angin yang berhembus lembut. Dan di saat-saat seperti itu, Raditia sering berpikir Bahwa kebahagiaan ternyata bisa sesederhana ini. Waktu terus berjalan, namun bersama Clara, setiap detik terasa lebih hidup. Dan di antara hari-hari yang mereka lalui, cinta itu tumbuh semakin dalam,bukan lagi sekadar rasa yang berdebar, tapi juga ketenangan yang menetap. Seolah mereka bukan hanya saling menemukan, tapi juga saling memilih… setiap hari, tanpa ragu. Mereka mulai saling menjadi rumah—tempat kembali, tempat beristirahat, tempat di mana segala rasa bisa diterima tanpa syarat. Dan di antara hari-hari yang mereka lalui, cinta itu tumbuh semakin dalam—bukan lagi sekadar rasa yang berdebar, tapi juga ketenangan yang menetap. BERSAMBUNG......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN