bc

Aku Terpaksa Menjadi Istri Kedua

book_age18+
18
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
love after marriage
doctor
drama
polygamy
nurse
passionate
like
intro-logo
Uraian

Cerita yang diperuntukkan bagi yang berusia 21+ tahun ya. Harap bijak untuk para pembaca.

Dinda berliana, seorang wanita yang berhasil lepas dari bayang-bayang luka masa laluny, dan kini tengah menikmati kehidupan barunya sebagai seorang perawat di salah satu Klinik Kesehatan. Mengenal orang-orang baru yang akhirnya sekarang sudah dia anggap seperti keluarga.

Kedekatannya dengan dr. Intan yang merupakan ketua Yayasan Klinik itu dan juga dr. Reymond suaminya membuatnya merasa hidup kembali. Dinda merasa berhutang budi karena dr. Intanlah yang merawatnya saat dia harus mendekam di Rumah Sakit Jiwa. Merasa begitu banyak mendapat pertolongan dari pasangan itu sampai akhirnya tidak bisa menolak saat dr. Intan memintanya untuk menjadi istri kedua suaminya dan menjadi ibu tiri bagi keempat anaknya.

Lalu bagaimanakah akhir cerita dari kisah kehidupan rumah tangga antara mereka bertiga?

Apakah Dinda mampu menjalankan permintaan dr. Intan dengan baik?

Untuk menjawab semua rasa penasaran, ikuti terus cerita ini ya.

Disclaimer: Cerita hanya fiktif belaka. Untuk kesamaan nama tokoh ataupun setting waktu dan tempat hanya berdasarkan ide dari penulis. Dan harap bersabar, karena rasa kesal bukan hanya dirasakan oleh pembaca, tapi juga penulisnya :)

chap-preview
Pratinjau gratis
Awal Mula
POV Dinda... "Selamat ya Dinda Berliana M.Kep., Sp.Kep.An. Semoga ilmunya bermanfaat buat orang banyak." Ucap dr. Rey. "Terima kasih ya dok. Saya juga mau ucapin terima kasih buat dokter yang selama ini sudah bantu Tesis saya." Ucapku sambil membalas jabat tangannya. "Ka... Selamat ya, kata papa kakak udah jadi dokternya perawat." Celoteh Abi, anak bungsu dr. Rey. "Terima kasih Abi, anak pintar... Ganteng... Kesayangan kakak Dinda." Aku langsung menggendong Abi sambil mencium kedua pipi gembulnya. "Surprise... Saya bawakan pasangan buat kamu foto-foto Din." Ucap dr. Rey. Aku hanya tertawa menanggapi sambil memeluk anak ini dengan gemas. Bagaimana tidak gemas, Abi sekarang ini memakai setelan jas untuk datang ke wisuda program pasca sarjanaku. "Ehm... Duh yang udah S2. Besok-besok kamu harus sering-sering traktir kami lho Din. Gelar baru kan waktunya naik gaji..." Potong dr. Intan yang baru saja datang dan langsung bergelayut manja ke suaminya. "Hei ma..." Sapa balik suaminya itu dan langsung memeluknya. Ternyata dr. Intan menyusul kami, padahal sebelumnya beliau mengirimkan pesan jika hari ini berhalangan hadir karena penerbangannya tertunda. "Surpriseee... Maaf ya Din saya nge prank kamu." Mendengar pernyataan itu membuat bibirku mengerucut. "Duh jangan marah dong. Habis acara nanti saya yang traktir makan deh." Rayu dr. Intan. "Trus papa juga ditraktir gak ma?" Ledek suaminya itu yang merajuk karna belum puas berkangen-kangenan. "Iya... Ih malu sama Abi sama Dinda. Baru juga ditinggal lima hari pa." Dr. Intan mencoba menghindari pelukan suaminya itu. Aku tersenyum melihat keromantisan mereka. Mereka adalah orang-orang penting dalam hidupku, dan sekarang aku menganggap pasangan suami istri ini seperti kakakku sendiri. Tanpa mereka, aku tidak tau akan bagaimana kelanjutan hidupku. Menurut cerita dr. Intan, dr. Rey adalah adik kelasnya saat kuliah dulu, mereka langsung menikah karena saat itu dr. Rey selalu mengejar-ngejar dr. Intan. Karena kegigihannya itulah akhirnya dr. Intan luluh lalu jatuh cinta dan menerima permintaannya, sampai akhirnya kini memiliki empat anak. Walaupun dr. Intan usianya lebih tua enam tahun, tapi kemesraan keduanya menyamarkan soal kenyataan itu. Lihat saja. Saat ini keduanya tengah bermesraan di depanku. Untung saja aku sudah terbilang biasa dengan pemandangan seperti ini, karna tidak sekali atau dua kali aku juga ikut mereka pergi bersama, bahkan ikut serta di beberapa moment keluarga mereka. Tapi, beberapa bulan kemudian dr. Intan terlihat selalu murung. Bahkan sempat melakukan kesalahan dalam menentukan diagnosa dan membuat masalah di klinik. "Din, ada masalah apa?" Tanya dr. Rey yang langsung mendatangi klinik ketika mendapat laporan tentang kejadian hari ini. "Ini dok, dr. Intan salah mendiagnosa." Aku memberikan laporan medis pasien itu pada dr. Rey. Pasien wanita yang berumur 45 tahun dengan keluhan nyeri perut sampai pingsan dan didiagnosa radang lambung tanpa pemeriksaan lanjutan. Karna keluarga pasien tidak yakin dengan pernyataan dr. Intan itu, mereka mencari second opinion dengan pergi ke dokter lain dan hasilnya ternyata menderita gagal ginjal. Akibatnya, penyakit pasien itu semakin parah dan saat ini pihak keluarganya meminta pertanggung jawaban dr. Intan. "Kok bisa? Kamu gak cek lagi memangnya?" Dr. Rey langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi setelah melihat dokumen rekam medis yang aku berikan. Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Bagaimanapun pekerjaanku hanya sekedar membantu dokter, bukan wewenangku untuk memeriksa semua hasil yang telah dokter berikan bagi para pasiennya, mungkin karena kebingungan akhirnya kata-kata itu yang hanya bisa terucap dari mulut dr. Rey. "Terus dimana istri saya Din?" Tanyanya kemudian. "Tadi saya lihat dr. Intan sedang duduk di taman belakang dok..." Tunjukku ke arah taman yang kumaksud. Dr. Rey langsung berlalu untuk menemui istrinya itu. "Semoga saja masalah ini segera cepat tertangani dan dapat diselesaikan dengan damai." Batinku. Tapi ternyata masalah lainpun berlanjut. Berkali-kali dr. Intan melakukan kesalahan, entah dengan salah memberikan resep, tidak fokus saat memeriksa pasien sampai pasien kesakitan saat menerima suntikan darinya, dan kesalahan lainnya. Aku tidak bisa tinggal diam, aku harus bicara untuk mengingatkan beliau. Kalau memang ada masalah yang sedang dipikirkannya setidaknya mungkin beliau bisa mengambil cuti sementara sampai pikirannya itu tenang kembali. Pagi itu aku bergegas menuju ruangannya dan sengaja menunggu kedatangan beliau di depan ruangannya itu. Drrrrrttt Drrrrrrtttt... Kurasakan ponselku bergetar. Ku lihat nama si penelpon lalu segera mengangkatnya ketika terlihat nama dr. Intan di sana. "Selamat pagi dok? Ada yang bisa saya bantu?" "Hallo Dinda. Din, maaf saya ganggu. Kamu sudah sampai di klinik?" Jawabnya dari ujung telepon. "Oh iya dok. Ada apa?" Selintas terdengar seperti ada suara laki-laki, lalu sambungan telepon terputus-putus sampai akhirnya suara dr. Intan kembali terdengar. "Hmmm itu Din. Tolong dong kamu masuk ke ruangan saya terus kamu cari amplop di atas meja saya. Tolong cari yang isinya undangan penyambutan mahasiswa baru, saya lupa hari ini ada undangan dari kampusnya Rara." Tanpa sadar kepalaku mengangguk "Oh iya dok, Saya masuk ke ruangan dokter dulu ya." Aku langsung memasuki ruangannya, dan terlihat beberapa tumpuk berkas serta beberapa amplop di atas meja kerjanya. "Hmmm maaf dok, amplopnya warna apa ya? Ada beberapa amplop soalnya." Tanyaku memastikan. "Aduh, saya lupa yang mana. Bentar..." Jawabnya. "Din... Din... HP saya lowbat lagi, saya sambil nyetir ini. Kamu buka aja deh semua amplopnya gak apa-apaya. Tolong ya Din, nanti kalo udah ketemu tolong kamu langsung susul saya ke UI ya," sambungnya dan kemudian panggilan teleponpun terputus. Akhirnya aku menuruti perintah dr Intan. Ada setumpuk amplop serta map, aku membukanya satu-persatu sampai akhirnya terkejut saat membuka salah satu amplop yang isinya adalah hasil pemeriksaan kesehatan dr. Intan. Tanganku bergetar dan rasanya air mataku langsung keluar dan tak mampu kubendung lagi. "Kanker Melanoma Stadium 3" Ulang batinku. Air mataku keluar lagi dan lagi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan dr. Intan jika mengetahui kenyataan ini. Ah... Apakah sebenarnya dia sudah tau, karna sepertinya semua kemurungannya berawal setelah dia melakukan cek kesehatan rutin. *** "Makasih ya Din, kamu jadi repot deh. Tumben Intan lupa. Kayaknya akhir-akhir ini istri saya itu kecapekan ya Din, apa saya harus ajak dia liburan sebentar? Din... Dinda... Kamu dengar omongan saya gak?" "Ah dok... Iya iya ada apa?" Lamunanku tersadar saat tangan dr. Rey mengguncangkan lenganku. Saat ini aku sedang bersama dengannya menuju kampus Rara karena akhirnya dr. Intan tidak sempat jika harus mampir ke klinik terlebih dahulu, dan dr. Intan memintaku untuk ikut juga menghadiri acara penyambutan mahasiswa baru itu. "Kamu juga ada masalah ya? Dari tadi saya ngomong dicuekin terus..." Tanya dr. Rey. "Hmmm... Ah... Maaf dok. Iya ada yang saya pikirkan sedikit." Jawabku jujur. "Wah hebat. Dinda udah bisa memikirkan sesuatu yang buat bengong terus dari tadi. Jangan-jangan soal cowok ya, udah ada laki-laki yang mau mengkhitbah kamu?" Tanyanya. Aku langsung menoleh ke arah dr. Rey. "Dok, yang benar aja. Mana ada laki-laki yang mau sama saya setelah tau semua masa lalu saya. Saya sekarang bisa kerja dan berguna buat orang lain aja udah Alhamdulillah, gak mau berharap sama yang gak mungkin." Jawabku sambil menunduk sambil memilin tanganku. "Hah..." Terdengar helaan nafasnya. "Maaf saya jadi ngorek luka lama. Dinda... Semua orang berhak bahagia, begitu juga kamu. Nanti InsyaAllah pasti ada laki-laki yang baik yang akan jadi pendamping kamu." Jawab dr. Rey sambil menepuk-nepuk pundakku dari kursi kemudinya. "Aamiin, InsyaAllah." Jawabku. Dan untuk menghiburku, dr. Rey menceritakan hal lain untuk keluar dari tema pembicaraan kami sebelumnya. Beliau memang sosok yang ceria dan tidak pernah marah di mataku. Suami dan ayah yang baik bagi keluarganya, dan juga seorang dokter yang sangat hebat dalam pekerjaannya. Sosok yang sempurna menjadi pendamping dr. Intan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
202.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.6K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
12.8K
bc

Kali kedua

read
222.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook