Akira menikmati hari-harinya bersembunyi di rumah Clarissa. Dia merasa tenang memiliki teman berbagi. Sudah terhitung empat hari pula dia tidak masuk kerja. Rasanya Akira tidak mampu menginjakkan kaki di kantor itu lagi setelah apa yang pernah terjadi.
Clarissa juga sempat menanyakan hal itu. Akira justru mengatakan akan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Akira lebih memilih mencari pekerjaan lain dari pada harus kembali bekerja di tempat yang sudah membuatnya merasa tidak punya harga diri.
“Aku sudah menyiapkan surat pengunduran diriku. Besok aku akan mengantarnya ke kantor. Meski sebenarnya aku sangat tidak ingin datang ke sana lagi. Tapi bagaimana pun juga aku harus menyelesaikan semuanya dengan cara yang baik,” tutur Akira.
“Tapi bagaimana dengan kontrak kerjanya? Apa tidak ada masalah jika kamu berhenti lebih awal?” tanya Clarissa.
“Aku tidak mengerti. Hanya saja, aku yakin Pak Albert mau memahami kondisiku. Dia begitu baik padaku. Aku akan berbicara dan meyakinkan dia.”
“Lalu setelah itu apa rencanamu selanjutnya?”
“Aku akan mencari pekerjaan atau usaha lain. Mungkin sesuatu yang bisa dilakukan dari rumah agar aku tidak perlu banyak berinteraksi dengan orang-orang sekitar. Bagaimana pun juga aku sudah berhutang banyak dengan kesediaanmu menampungku tinggal di sini. Aku tidak akan semakin menyusahkan dengan membebani masalah keuangan juga,” ujar Akira.
“Tidak perlu seperti itu, Ra. Kamu ini seperti tidak mengenalku saja. Apa aku pernah perhitungan denganmu? Kamu tidak perlu memikirkan masalah itu. Kiriman dari orang tuaku juga masih lancar,” jawab Clarissa sembari tertawa lebar.
“Kamu memang sahabat terbaikku, Cla. Terima kasih banyak,” ucap Akira tulus dan dua teman baik itu pun saling berpelukan. Dekatnya hubungan mereka sudah seperti saudara kandung.
***
Sinar mentari terbit menandakan dimulainya lembaran hari yang baru. Pagi itu Akira sudah bersiap untuk pergi ke kantornya. Surat pengunduran diri sudah ada dalam genggaman. Gadis itu masih mematut diri di depan cermin.
Sesungguhnya ia merasa cemas untuk kembali datang ke kantor itu meski hanya untuk yang terakhir kali. Akira membayangkan bagaimana pandangan karyawan kantor nantinya saat melihat keberadaannya di sana.
Gadis itu sejenak memejamkan mata. Melarutkan segala rasa takutnya. Mengusir paksa kecemasan dan berusaha menghadirkan keberanian. Dia harus melakukan itu meski apa pun resikonya.
Akira berangkat ke kantor seorang diri. Dia menolak saat Clarissa menawarkan untuk menemani. Benar saja, banyak pandangan mata langsung tertuju padanya bahkan saat dia baru memasuki pintu utama. Para karyawan di front office melihatnya dengan tatapan sinis. Mungkin mereka berpikir betapa tidak punya malunya gadis itu.
Akira bukan tak mendengar kasak-kusuk tentang dirinya. Tapi dia berusaha mengabaikan semua itu dan terus melanjutkan langkah. Tujuan utamanya hanya Albert, pemimpin perusahaan. Dia hanya memiliki kepentingan dengan laki-laki itu.
Tanpa mampir ke ruangannya sendiri atau sekedar menyapa Levin, Akira lebih memilih langsung mendatangi ruangan Albert. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, ia mendengar sebuah panggilan untuk masuk. Tak pelak, kehadirannya juga sempat membuat Albert terkejut. Akira tidak bisa menebak apa yang dipikirkan atasannya itu dengan kedatangannya kali ini.
“Ternyata kamu, Akira. Ayo silahkan duduk!” ujar Albert mempersilahkan Akira duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
“Senang melihatmu kembali. Kalau tidak salah, sudah empat hari kamu tidak masuk kerja tanpa mengabari,” imbuh Albert setelah Akira mengambil posisi duduk di hadapannya.
“Saya minta maaf, Pak. Saya tidak sempat mengajukan izin sebelumnya,” kata Akira merasa tidak enak. Dia terkesan seperti seseorang yang tidak bertanggung jawab.
“Tidak apa-apa. Saya mengerti kamu pasti butuh waktu untuk menenangkan diri dulu sebelum kembali bekerja di kantor ini,” jawab Albert memaklumi.
“Tidak, Pak. Kedatangan saya ke sini bukan untuk kembali bekerja,” tutur Akira sempat membuat Albert mengerutkan dahi.
“Apa maksudmu?” tanya laki-laki itu.
“Saya ke sini hanya untuk mengantarkan surat pengunduran diri saya. Saya ingin berhenti dari pekerjaan ini,” jawab Akira sembari menyodorkan surat itu di meja Albert.
“Kamu ingin berhenti bekerja? Tapi kenapa, Akira?” ucap Albert menyiratkan keberatan.
“Saya rasa saya tidak perlu menjawab. Bapak pasti mengerti alasannya. Saya mohon jangan persulit proses pengunduran diri saya, Pak. Saya tahu mungkin ini melanggar kesepakatan kontrak kerja. Tapi saya harap bapak bisa mengerti apa yang saya alami. Saya tidak bisa bekerja di sini lagi.”
Akira terus berusaha membuat Albert setuju dengan keputusannya. Beberapa bujukan Albert pun tak mampu merubah keputusan final itu. Pada akhirnya Albert menyerah dan mengikuti keinginan Akira. Dia bersedia melepaskan Akira dari kontrak kerja mereka.
“Terima kasih banyak sudah mau menerima pengajuan saya, Pak. Saya juga minta maaf jika selama bekerja saya sering menyusahkan bapak. Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Akira yang kemudian beranjak untuk pergi.
“Tunggu Akira,” cegah Albert menghentikan langkah gadis itu. Membuat Akira menoleh kembali ke arah Albert.
“Biarkan aku mengantarmu pulang,” kata Albert membuat pernyataan.
“Tidak perlu, Pak. Saya bisa pulang sendiri,” tolak Akira.
“Aku sudah menuruti keinginanmu untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Tapi kamu tidak bisa menolak tawaranku kali ini, Akira” kata Albert tetap memaksa. Laki-laki itu langsung membuka laci dan mengambil kunci mobilnya.
Akira akhirnya menurut saja dan membiarkan Albert mengantarnya pulang. Mereka berjalan beriringan keluar dari kantor. Tentu saja pemandangan itu tak lepas dari bisikan-bisikan para karyawan. Albert meminta agar Akira tidak terlalu menghiraukan.
Awalnya Albert hendak mengantar Akira pulang ke rumah Sofia. Albert tahu alamat itu karena sudah pernah sekali mengantar Akira setelah dari rumah sakit. Namun Akira justru menolak dan meminta diantarkan ke rumah temannya. Akira menunjukkan alamat rumah Clarissa.
Albert yang merasa aneh langsung membuat banyak pertanyaan. Membuat Akira terpaksa mengaku bahwa dia sebenarnya sudah pergi dari rumah. Albert terkejut mendengar hal itu.
“Kenapa kamu sampai pergi dari rumah?” tanya Albert ingin mengulik lebih banyak informasi.
“Saya hanya tidak ingin ibu saya tahu tentang kehamilan ini. Dia pasti akan bersedih dan kecewa.”
“Tapi sampai kapan kamu akan terus bersembunyi seperti ini? Aku harap kamu tidak akan mengambil keputusan gila dengan menggugurkan janin itu,” tegas Albert.
“Saya masih punya hati nurani untuk tidak membunuh anak yang tidak bersalah. Saya tetap akan menjaga kandungan ini sampai saya melahirkan. Meski setelah itu saya tidak tahu apakah saya sanggup membesarkannya sendiri atau saya berikan saja pada orang lain yang bisa merawatnya. Saya sadar keterbatasan ekonomi yang saya alami bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak itu nanti.”
Jawaban Akira sontak membuat Albert terkejut. Dia merasa tidak terima jika Akira sampai memberikan anak itu untuk dibesarkan oleh orang lain yang tidak jelas. Bagaimana pun juga anak itu adalah keturunannya. Darah daging Albert yang tidak diketahui oleh Akira. Entah mengapa Albert merasa tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Albert dipenuhi serba salah dalam hati.