Wiliam yang sengaja buat memberhentikan mobil buat memilih mau makan apa.
“Kenapa berhenti?” tanya dia yang bingung mengapa memberhentikan mobil
“Kan mau milih makan apa!”
“Jadi kita makan sushi kan? Enggak ganti lagi kan sayang?”
Misell terkejut saat di panggil dengan sebutan sayang dirinya tak menyangka bahwa bisa langsung di panggil sayang dengan Wiliam itu, tak ada dipikiran dia buat seperti itu.
“Hm, enggak ah kalau itu!”
“Jadi maunya apa Misell cantik?”
Dari tadi Wiliam mencoba buat membaperkan Misell terus tak berhenti-henti.
“Terserah!”
Wiliam paling malas dengan kata-kata itu yang selalu di andalkan oleh kaum wanita kenapa tidak ada kata-kata lain. Tidak ada makanan namanya terserah apakah itu menu baru di kota besar ini?
“Hm pizza?”
Misell menggelengkan kepala dan Wiliam tampak mencari tahu apa makanan kesukaan Misell yang suka dia makan.
“Seblak?”
“Iya.... peka banget sih jodoh orang!” ucap Misell sambil tersenyum dan melihat ke arah Wiliam
“Jodoh orang? Jodoh kamu sayang!”
Lagi-lagi Misell hanya mendiamkan saja tak ada di ladenkan jika di ladenkan dia bisa menjadi-jadi.
Mereka langsung pergi ketempat Seblak itu dan ternyata toko itu tutup dan terlihat muka kecewa di wajah Misell. Tidak kecewa hanya mengapa toko itu tutup dan mereka langsung berputar arah buat mencari makanan yang lain.
Sepulangnya Wiliam dari kantor tak lupa Wiliam berkunjung ke rumah sakit tempat Atika dirawat. “Kenapa aku terus memikirkan anak itu?”Wiliam terus memikirkan perkataan wanita yang sempat berkata bahwa dia sangat mirip dengan Robin.
“Wiliam siapa yang sakit?” tanya Dita yang ternyata masih berada didalam rumah sakit itu
“ Apa Robin sakit? Keluarga kamu sakit?”Wiliam pergi meninggalkan Dita yang masih di parkiran yang sepertinya hendak pulang
“Ada apa dengan Wiliam? Kenapa dia berubah?” Ucap Dita dalam hati sambil melihat gerak jalan Wiliam dari belakang.
Wiliam pun masuk kedalam ruangan dimana Anak itu di rawat, terlihat Sandra sepertinya sangat lelah menjaga Atika yang sedang sakit. Wiliam pun tidak tega melihat Sandra seperti itu. “Halo Atikal!” Wiliam menghampiri Atika dan Sandra yang sedang berada di tempat tidur rumah sakit itu.
“A- ayah...” seru Atika terbatah mendengar semua itu Wiliam terkejut dengan apa perkataan anak itu memanggil dia dengan sebutan Ayah. “ Hai Nak!” Wiliam menggendong anak itu dengan selang infus yang Wiliam pengang disebelah tangan kiri nya.
“Apakah kau sudah makan Sandra?”Wiliam melihat ke arah Sandra yang kelihatannya sangat kelelahan menjaga Atika seharian “ Kalau kau belum makan, sebaiknya kau pergi makan dulu. Apakah tak baik kalau terlalu berlebihan menjaga Atika kau akan sakit juga kalau begini Sandrai!”.
Sandra berdiri mengambil nasi kotak yang ia tadi akan dia kantin belakang rumah sakit. Sandra sangat senang akhirnya dia bertemu dengan Wiliam lagi. Tetapi dia malu dengan Wiliam akan kondisi nya yang sekarang. “Apakah kau sendiri sudah makan?” Sandra melihat Wiliam dengan tersenyum.
“Kau tak perlu bertanya kepadaku itu urusanku, aku bisa mengurus hidupku sendiri!”Wiliam yang berkata seperti itu kepada Sandra. Sandra langsung terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa lagi kepada Wiliam. Wiliam pun membuka jendela ruangan itu agar terhirup segar kamarnya.
“Hai Nak. Apakah kau tahu itu apa?” Wiliam menunjuk ke arah dimana banyak kendaraan yang terparkir. Atika yang tidak paham hanya terdiam memperhatikan wajah Wiliam “ Kenapa kau memperhatikan wajahku anak kecil?” Atika tetap diam dan belum paham maksud apa yang dikatakan dengan Wiliam
“Sandra.” Sandra melirik ke arah Wiliam dan langsung mengangkat kedua alisnya. “ Kenapa anak ini mirip padaku?” sontak Sandra terkejut mendengar pertanyaan itu dia tak percaya akan ditanya seperti itu dengan Wiliam
“Aku tak tahu Wiliam. Mungkin itu hanya kebetulan!”Wiliam tersenyum kepada Sandra Sekarang Sandra telah melupakan semuanya ia tak mau mengingat kejadian kejadian yang telah berlalu. Yang terpenting sekarang adalah Sandra akan memulai hidup baru hidup dengan kehadiran Wiliam yang kembali kepadanya.
“Permisi Sus! Apakah ada disini ada pasien yang bernama ?” Suster pun langsung mencari siapa yang bernama “Anak yang berusia dua tahun, nama Ibu nya ya pak??”mengangguk dan suster itu tersenyum “ Kamar Mawar nomor tiga ya Pak. Bapak lurus aja nanti belok kanan!” langsung berjalan menuju arah yang di arahkan dengan suster itu.
melihat dan dari kaca kecil yang ada di dekat pintu. Senyuman di pipi dan sangatlah membuat senyuman juga di pipi. “ Anak itu...” kata-kata itu terpatah di mulut , “Anak itu kenapa mirip sekali dengan aku??”. membuka pintu dan yang melihat langsung tersetak terkejut kenapa bisa tahu keberadaan dia sekarang.
ucap Juni dgan gugup dengan kedatangan “ Tahu dari mana kamu kalau aku disini?” tanya dengan dengan sedikit menjauh dari
Wiliam melihat secara detail dan seyakin mungkin apakah dia pernah melihat atau tidak tetapi seingat dia, dia pernah melihat wanita itu tetapi dia tidak tahu kapan dia melihat nya.
"Apakah tadi malam kita bertemu?" tanya Wiliam dengan Milsel yang dia curigai menyamar menjadi Sandra
"Aku rasa tidak, soalnya tadi malam aku tak ada pergi kemana-mana hanya dirumah saja jadi mana mungkin kita bertemu hmm..."
Wiliam hanya mengangguk dan tersenyum melihat muka dia yang santai.
"Kau sebenarnya cantik, hanya saja kau menjadi perempuan yang dandan seperti layaknya wanita biasa!"
"He he he, tidak! aku hanya perempuan biasa tidak cantik lagian perempuan semuanya juga cantik!"
Wiliam suka dengan pemikiran Misell yang sudah dewasa yang cocok menjadi seorang pekerja.
"Pemikiran kau cukup dewasa aku suka!"
"Hah? suka apa?"
Misel masih gugup karena dia takut akan tahu jika dia itu adalah orang yang tadi malam ada pada saat makan malam di selenggarakan.
"Suka pemikiran kau yang dewasa!".
"Oh... he he he iya terimakasih!"
Mereka pun memulai meeting saat rekan kerja itu sudah datang, sangat lah bahagia bisa menjadi seorang pekerja dan magang di kantor yang pemimpin nya masih muda. pemikiran Misel saat meeting tersebut.
"Jadi meeting hari ini selesai, apakah kau benar-benar siap buat bergabung ke perusahaan kami?"
"Iya kita sudah melihat bahwa perusahaan anda cukup bagus dalam hal properti seperti ini!"
"Terimakasih telah bergabung dengan perusahaan kami, kami harap anda senang dan puas."
"Ada apa ya nanya seperti itu?"
"Tidak ada apa-apa hanya nanya saja tidak boleh?"
"Hah boleh kok!"
Mereka melanjutkan buat sarapan dan melupakan soal pembahasan yang tidak penting tadi. Selesai sarapan mereka langsung cepat-cepat buat kembali ke kantor.
"Makasih ya sudah di bayarin!" Wiliam yang tadi di traktir dengan
"He he he iya pak sama-sama!"