6. Bertemu Ibu Mertua

1070 Kata
Sembari mengambil motor di parkiran aku memikirkan pesanan Mas Baja. Martabak telur dengan dua telur bebek. Uang seratus ribuan yang sudah tidak lengkap lagi karena harus kualokasikan untuk membeli bensin, akan semakin berkurang sore ini. Sementara gajianku harus menunggu sampai tanggal empat. Tidak seperti perusahaan pada umumnya yang tanggal dua puluh lima gaji sudah masuk ke rekening. Aku tetap meneruskan perjalanan meski sesekali perutku berbunyi. Berkendara ke arah barat dari kantor setelah dua puluh menit, membuatku menemukan penjual martabak langganan keluarga Mas Baja. Mereka terutama Ibu sangat suka dengan martabak terang bulan ini. Pernah suatu hari aku membelikan dengan merek lain, Ibu sama sekali tidak menyentuhnya. Jantungku berdebar saat tampak dari jauh tenda berwarna biru milik penjual itu belum terbentang. Jangan-jangan hari ini libur. Aku pun menarik kencang gas di tangan kanan. Memastikan dugaanku itu. Tepat saat roda motorku berhenti di depan gerobak, terdapat tulisan : HABIS (SEDANG ADA PESANAN). Penjual tersenyum ramah. Aku sudah paham tanpa perlu menanyakannya. Terpaksa berputar balik untuk mencari martabak di tempat lain. Tanpa berpikir lagi, mengingat waktu sudah semakin gelap, aku terus berkendara. Martabak terang bulan hanya ada satu di daerah ini. Aku tidak mungkin membeli di lain daerah. Dengan sangat berat hati kuputuskan membeli martabak yang tidak sesuai keinginan Ibu. "Telor bebeknya gak ada, Mbak. Adanya ayam," jawab tukang martabak itu. "Ya udah gak apa-apa, Pak. Yang penting martabak." Aku sedikit malas menimpali penjual ini. Terlebih ini kali pertama aku membeli. Setelah menyerahkan uang dan menerima martabak telor ayam, kembali aku melaju bersama motor matic merah. Wajah Akila yang belum sempat mandi tadi pagi terbayang di kaca helm. Sedang apa putri kecilku? Bahagiakah ia bersama neneknya? *** Tepat pukul setengah delapan malam aku tiba di rumah dengan pagar besi yang menjulang. Salah satu rumah besar di komplek ini. Jantungku terus berdegup lebih kencang. Aku juga mengalami kegugupan. Menginjakkan kaki di sana sama saja siap untuk menjadi bahan hinaan. "Tidak apa-apa. Demi Akila dan Mas Baja, Amira." Hatiku terus merapal doa. Kudorong pintu gerbang itu. Mengayunkan langkah dan menenteng martabak tadi. Motor sengaja kuparkir di pinggir jalan. "Assalamualaikum," sapaku dari luar. Meski rumah ini besar lampu penerangan di teras sangat tidak terang. Pernah aku berkomentar dan malah diperingatkan sama Mas Baja. Akhirnya aku terbiasa meski tidak suka dengan suasana gelap. "Waalaikumsalam. Ayah, Ibu pulang!" suara Akila terdengar. Gadis itu sudah pasti menungguku. Perlahan pintu utama terbuka. Akila dengan baju piama gambar frozen menyambutku hangat. Mas Baja berdiri di belakang. "Mana martabaknya?" todong Mas Baja. Ia bahkan tak menyapaku terlebih dahulu. "Ini, Mas." "Yang biasa, kan?" "Nggak." Ada kalanya aku merasa kesal. Menjawab singkat dan melawan Mas Baja kadang kulakukan. "Hmm. Habis, dah kita. Tidak bakal dapat pinjaman bulan ini." Dengan sangat santai Mas Baja membahas pinjaman. Ia seperti amnesia saja pagi tadi sudah marah-marah di rumah. "Ja, Baja. Mana martabaknya?" Suara Ibu terdengar sampai teras rumah. Aku sangat sungkan saat harus bertemu beliau. Usaha kami untuk mengambil hatinya selalu tidak tepat. "Ya, Bu, sebentar." Mas Baja bersiap mengantarkan martabak itu. Namun, ternyata Ibu justru keluar dan memilih mengambil sendiri. "Kok kreseknya beda?" Tatapan mata Ibu mengarah pada martabak yang dibawa Mas Baja. Beliau tidak menyapaku. "Dah, kamu kasih kucing, aja. Bulan ini tidak ada pinjaman untuk angsuran." Tatapan Ibu berubah sinis. Kali ini tertuju padaku. Beliau bersiap masuk kembali ke rumah. "Tapi, Bu. Gak kaya gitu. Ini Amira memang gak pernah becus kalau Baja minta tolong. Selalu gini, Bu." Kesekian kalinya Mas Baja tidak membelaku. "Udah tahu gak becus masih dipertahankan. Balikin aja ke orang tuanya. Di kampung!" Kupegang erat tangan Akila. Malam ini aku memang sudah siap dengan segala hal yang akan membuatku menangis. Termasuk ucapan ibu mertuaku ini. Namun, aku menepisnya. Mencoba bersikap kuat di depan mereka. "Maaf, Bu. Tadi yang biasa tutup." "Alasan. Paling sengaja cari yang murah, 'kan? Biar Ibu sakit setelah menelan martabak itu?" Raut wajah Ibu berubah. Seakan membayangkan martabak yang aku beli tidak higeinis. "Bukan begitu, Bu. Amira tidak bohong. Kalau ada yang biasa pasti Amira belikan." Aku yang biasanya memilih diam sedang ingin melawan. Menimpali ucapan Ibu dan Mas Baja. "Hobi, kok, ngelak!" Mata Ibu membelalak. Sungguh ia sangat baik dengan semua orang, tetapi tidak denganku. "Akila, ayo masuk. Nanti kamu digigit nyamuk!" perintahnya. "Akila mau pulang, Nek. Akila mau sama Ibu." Kadang, Akila juga ingin memiliki kesempatan memilih. Tidak menurut terus seperti biasa. "Biarin Akila pulang sama Amira, Bu. Ini bukan hari libur. Akila sudah bolos satu hari." Tahun ini Akila masuk TK. Ia sudah mulai terbiasa dengan rutinitas sekolah. "Lah, yang punya yayasan juga Om nya Akila. Kok pusing. Gak apa-apa bolos sehari. Ibu masih mau sama Akila." Pada saat seperti ini aku sangat mengharapkan sosok Mas Baja yang dulu. Mas Baja yang akan dengan sigap membela dan melindungiku. Mas Baja yang dengan segala cara akan membujuk Ibu. "Ibu benar, Amira. Kamu pulang saja. Lagian kita juga sebentar lagi berpisah. Akila sudah pasti akan ikut aku." Mas Baja benar-benar serius dengan ucapannya. Ia terus mengulang kata berpisah. "Mas! Kalau bicara yang benar. Akila dengar, Mas." Segera kututup telinga Akila. "Ayo Akila masuk. Besok Nenek belikan boneka baru. Punya boneka kok hasil ngumpulin koin dari time zone. Kasihan amat." Ibu menarik tangan Akila. Beliau benar-benar tidak mau kalah. "Gak mau, Nek. Akila mau pulang. Atau Ibu nginep sini!" Solusi dari Akila harusnya menjadi yang terbaik. Namun, tidak mungkin itu akan terjadi. Enam tahun hidup bersama Mas Baja, aku belum pernah menginap di sini. Sorot mata Mas Baja mengarah pada Akila. Putri kami jelas tak bisa menolak saat ayahnya sudah menatap dengan tatapan perintah semacam itu. Sejak awal Mas Baja sudah keras mendidik Akila meski ia sangat menyayanginya. Perlahan Akila melepaskan tangannya dari genggamanku. Ia berjalan maju ke arah neneknya. Dengan cepat mereka meninggalakan teras dan sengaja membiarkan pintu tertutup. "Akila," lirihku. "Ayo bicara di luar!" ajak Mas Baja. Ia meletakkan martabak itu di atas meja yang tersedia di teras. Lalu melangkah menuju luar gerbang. Aku bergeming. Satu tahun ini Mas Baja sangat berubah. Ia tak lagi menjadi suami yang mencintaiku apa adanya. Perutku sangat lapar. Aku bahkan rela tidak makan siang demi menghemat pengeluaran. Seenak sendiri mereka mengabaikan martabak telur ayam ini. Kuambil kembali martabak itu. Menentengnya, lalu berjalan keluar gerbang. Mas Baja menunggu tak jauh dari motorku terparkir. Punggungnya saja sudah sangat berbeda. Aku benci sekalgus mencintai pria ini dalam waktu bersamaan. Sebuah ide gila terlintas di kepala. Dengan cepat aku mengambil kunci dan menancapkannya pada motor. Aku ingin kabur. Untuk pertama kali. "Amira!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN