9. Tentang Mas Baja

1019 Kata
“Yang benar, Mbak kalau ngomong. Jangan sembarangan!” seru Arga. Aku bahkan belum sempat membalas ucapan senior perempuan ini. Malas membuat masalah terpaksa aku memilih diam. “Aku gak sembarangan, Ga. Banyak buktinya. Dia aja yang gak tahu diri” Wajah senior perempuan di kantor kami semakin sinis. Ia membenciku hanya karena Bos tidak memecatku. Lama-lama aku ingin menyumpal mulutnya juga. “Ngomong gak ada bukti itu pembual, Mbak!” Arga terus menimpali ucapan senior. Mungkin dia paham jika perempuan yang bertengkar akan lebih fatal. Konsentrasiku pun menjadi terbagi. Aku tak mampu memfokuskan diri pada pekerjaan dan ingin menyeran balik ucapan senior. Beruntung ponselku bergetar diiringi dengan nada dering kencang. Aku pun mengurungkan niat dan beralih ke panggilan itu. Nama Martia terpampang di layar. “Ya, ada apa, Mar?” [Pulang, Mir, sekarang juga. Ibu kamu masuk rumah sakit!] Kalimat itu menghantam gendang telingaku. “Kapan, Mar? Gimana kondisinya?!” teriakku karena panik. Arga tampak berdiri. [Ini baru dibawa sama ambulance desa. Kamu cepet balik, ya, Mir.] Aku pun mengangguk. Segera kututup panggilan itu dan menyambar tasku. “Mau ke mana, Mir?” “Pulang. Ada yang penting,” jawabku. Ruangan admin penjualan siap kutinggalkan. Namun, langkahku terhenti saat Pak Ginanjar melintas di depan area ini. Bisakah aku izin kali ini? “Ada apa? Kenapa bawa tas?” “Pak, saya mau izin. Ibu saya di desa dilarikan ke rumah sakit. Saya harus pulang, Pak.” Tak bisa lagi menutupi. Aku harus jujur untuk mendapatkan izin dari Pak Ginanjar. “Sekarang?” Aku pun mengangguk mantap. Pak Ginanjar memegang dagunya. Ia tampak berpikir sejenak. “Ya sudah tidak apa-apa. Kamu hati-hati, Mira. Cepat pergi mumpung Bos lagi ke bagian lain.” “Makasih, Pak. Makasih.” Kuayunkan langkah semakin cepat. Parkiran motor menjadi tujuan. Ratusan kendaraan roda dua terparkir di di sana. Beruntung aku selalu bisa mengingat di mana aku parkir. Setelah menemukan motor matic merah, kubuka bagasi untuk memasukan tas. Lalu meraih jaket tebal untuk menghalau angin. Saat akan menutupnya lagi, teringat aku belum mengisi bensin. Saku celana pun kuraba. Lembaran rupiah sudah tidak ada. Aku harus bagaimana? Tanpa berpikir lebih jauh aku tetap keluar dari parkiran. Sebelum ketahuan Bos dan malah tidak mendapatkan izin. Kepalaku terus berputar untuk mencari solusi. Siapa gerangan yang bisa membantuku di kota ini? Haruskah ke rumah Mas Baja dan meminta padanya? Paling tidak ia bisa mengantar dengan mobil silver dan aku akan ke desa bersama Akila juga. Di persimpangan jalan kubelokan motor ke arah kanan. *** Pagar besi rumah itu selalu tinggi menjulang. Meski begitu tak ada penjaga di rumah besar ini. Kutarik napas dalam untuk mengumpulkan kekuatan, lalu mengembuskannya. Helm yang kukenakan kulepas terlebih dahulu. Dengan keraguan aku melangkah masuk ke rumah itu. Dari luar terlihat pintu utama rumah terbuka. Biasanya di waktu pagi seperti ini ibu mertua sedang asyik menyiram tanaman. Namun, tidak kali ini. Mobil silver Mas Baja sudah berada di halaman. Itu artinya dia sudah bersiap untuk bepergian. Lengang. Rumah terasa sangat sepi. Tak kudengar juga suara Akila. Aku masih bisa menginjakkan kaki di rumah ini. Tak masalah meski MaS Baja sudah berniat menceraikanku. Lagipula aku juga harus izin dengan Akila agar ia tidak mengira aku pergi begitu saja. pintu utama rumah yang terbuka membuatku mudah untuk memasukinya. Di ruang tamu dua cangkir berisi teh sudah kosong separuh. Itu artinya baru ada tamu di rumah ini. Aku terus melangkah ke dalam. Memasuki area televisi yang luas. Tak jauh dari sini ada kamar kami. Meski aku tak pernah menginap di sana. Sayup-sayup kudengar suara orang bercakap. Bisa jadi Akila dan Mas Baja sedang berdiskusi. Aku yang memang rindu dengan putriku itu terus melangkah maju. Hingga tubuhku benar-benar berada tepat di depan pintu kamar itu. Kudekatkan telinga ke daun pintu. Semakin jelas suara siapa yang ada di dalam. Itu suara Mas Baja. Tetapi bukan suara Akila. Pikiran buruk melintas. Akankah dia? Belum selesai aku mengambil kesimpulan. Tangan kananku sudah bergerak. Perlahan mendorong pintu itu yang ternyata tidak dikunci. Keduanya sedang mengembangkan layar kasih. “Apa-apaan kamu!” seru Mas Baja saat mendapatiku diam di gawang pintu. Tatapanku tertuju pada baju keduanya yang teronggok di lantai. “Amira!” teriaknya lagi. Seperti orang bodoh aku tak langsung pergi dari situ. Kedua kaki seakan terpaku di bumi. “Dasar perempuan gak tahu malu. Mentang-mentang pintu terbuka main masuk aja,” pekik wanita yang kini mencoba meraih selimut. Mendengar kelimatnya membuatku muak. Siapa yang tak tahu malu? “Ada apa kamu ke sini, Amira?!” Mas Baja masih terus membentakku. Ia seakan tak peduli dengan kesalahannya. Ada apa? Kenapa aku ke sini? Aku harus mampu mengontrol diri. Jika keduanya bisa melakukan hal semacam ini di rumah. Lalu di mana Ibu dan Akila? Bagaimana nasib putriku jika tahu? “Mana Akila, Mas?” Meski suaraku bergetar aku mencoba tegar. Mas Baja meraih bajunya di lantai lalu mengenakannya. Ia berjalan ke arahku. “Pergi sama Ibu. Kamu ngapain ke sini?” Mas Baja terus menyalak. Tampak wanita itu memalingkan wajah. Ia seakan jengah dengan hubunganku dan Mas Baja. Menyadari tatapanku, Mas Baja kembali menoleh. Melihat selingkuhannya. “Sebentar, Sayang. Aku bereskan dulu perempuan tak tahu diri ini.” Tutur kata Mas Baja sangat lembut untuknya. “Terserah. Yang pasti aku malas meneruskan hari ini. Bawa keluar sana!” hardiknya. Tanpa disuruh sampai dua kali, Mas Baja menarik tanganku. Dengan cepat mengajakku keluar. Wanita itu benar-benar menguasai Mas Baja. Bahkan laki-laki dengan nama seperti itu pun takluk dan tunduk. “Ada apa? Kenapa ke sini?” Pertanyaan Mas Baja berulang. Membuatku semakin kacau. Aku lupa dengan tujuanku. “Mana Akila? Kamu melakukannya saat jelas-jelas anak kita ada di rumah ini, Mas?” “Gak usah ikut campur. Sudah kubilang Akila sedang pergi dengan Ibu. Ngapain kamu ke sini?” Mas Baja memasukkan tangannya ke saku celana. Ia benar-benar menikmati permainan ini. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertemu Akila,” kilahku. “Kalau begitu yang kamu cari tidak ada. Tolong tutupkan pintu dari luar. Kamu tahu Amira, aku paling tidak bisa menahannya.” Mata Mas Baja mengarah pada pintu kamar yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Dalam hati aku mengumpat perbuatan kedua orang ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN