George

1094 Kata
"George..." lirih Risa dengan suara bergetar membuat pria di hadapannya tertegun menatapnya. Ricardo mengernyit wajahnya tampak bingung dengan panggilan itu. Dia bangkit melangkah pelan mendekat ke arah Risa seolah ingin memastikan sesuatu. Ekspresinya tampak kembali datar dengan tatapan nyalang dan tegas. "Siapa George? apakah anda sedang salah memanggil seseorang nona?" ucapnya dengan nada tenang, namun berhasil membuat jantung Risa berdegub kencang. "Saya Ricardo Gabriel, bukan George!" Tubuh Risa mematung, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, "Tidak, aku mengenalmu tidak mungkin aku salah, kau George ini aku Risa...... " Isaknya dengan suara bergetar. Risa bahkan berani menyentuh lengan pria itu seperti sedang memastikan bahwa dia tidak salah dan pria itu adalah George. "Hey miss, what are you doing? stop!" teriak seorang pria sambil menarik lengan Risa dengan kasar. Keributan itu mulai mengganggu kenyamanan sekitar, membuat orang-orang yang ada disana mulai memperhatikan mereka. Polisi yang menyadari hal itu mulai bertindak tegas, "Nona, mohon tenang anda telah membuat kekacauan disini!" ucap si petugas berusaha menenangkan situasi. Risa memeluk tubuhnya melindungi diri dari runtuhnya dunia di depannya. Tatapannya masih berharap bahwa pria itu adalah George, kekasihnya yang hilang. Namun tatapan asing pria itu sudah menjelaskan bahwa dia tidak mengenali Risa. "I'm sorry..." lirih Risa sebelum membalikkan tubuhnya dan pergi menjauh dengan langkah gontai. Mata tajam itu seakan menembus pintu kaca, menatap punggung Risa yang kian menjauh dari sana dengan penuh tanya Siapakah George sebenarnya? Ricardo menoleh pada salah satu rekannya, "Cari tahu siapa dia," pintanya. Drtt My Beloved ❤ Ricardo mengangkat panggilan itu dengan sedikit terpaksa, seorang wanita cantik muncul di layar dan mulai mengomel. "Kenapa tidak menghubungiku jika datang kesini? aku sudah menghubungimu sejak tadi dan yang mengangkat panggilanku adalah seorang wanita, apakah kamu sudah memiliki wanita lain?" keluh wanita itu. "Berhenti mengoceh dan menuduhku, apa yang kamu inginkan?" tanya Ricardo to the point. "Tentu saja aku ingin priaku datang mengunjungiku! ayolah, datang ke apartemenku," pintanya dengan manja. "Jangan mengada-ngada, Siska! aku memiliki tugas yang jauh lebih penting daripada bertemu denganmu." "Sebentar saya bebe, aku benar-benar merindukanmu," bujuknya dengan nada manja. Ricardo menghembuskan nafas berat, ia melirik rekannya lalu kembali menatap layar ponsel. "Kirimkan alamatnya, aku akan datang jika sempat." "Yeay!" teriak Siska begitu gembira. Sambungan Vidcall itu langsung di putus oleh Ricardo. tak lama, sebuah notifikasi pesan masuk berisi alamat apartemen Siska. ** "Aku yakin dia George, tapi kenapa dia tidak mengenaliku?" isak Risa meratapi kesedihan pertemuannya dengan Ricardo tadi. Risa berjalan sempoyongan sambil terus menangis, dia terus bergumam meyakinkan dirinya bahwa pria tadi memang George. Ia menengadah ke langit, "Apa aku salah? apakah dia hanya seorang pria yang mirip dengan George? tapi bukankah anak kembar pun memiliki perbedaan? lantas kenapa semua yang ada padanya mencerminkan seorang George Tuhan!" teriaknya. Risa menghentikan langkahnya, dan duduk di sebuah bangku kosong di pinggir jalan yang mulai sepi, "Aku sudah benar-benar gila, jika dia memang George kenapa dia tidak mengenaliku? kenapa dia tidak mencariku selama ini justru kini dia melupakanku," lirihnya berusaha menahan perih yang tersimpan di dalam d**a. Air mata menetes di atas kakinya, "Dia bukan Georgeku," bisiknya sambil menarik nafas dalam. Risa bangkit dia menyeka wajahnya yang basah, "Hanya karena mereka mirip bukan berarti dia orangnya kan?" ucapnya lirih sambil kembali berjalan menuju hotel. Bahkan Risa telah melupakan makan malamnya, rasa sedih membuat rasa laparnya hilang seketika. "Selamat datang kembali nona," sapa petugas hotel. Risa segera menuju lift untuk naik ke lantai 3 dimana kabarnya berada, dia harus istirahat karena besok dia akan checkout. Ting! Pintu lift terbuka, Risa melangkah cepat ke kamarnya. Selain karena lelah dia ingin segera memakan sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Ceklek, pintu terbuka. Risa langsung melepas jaketnya dan melemparnya dengan sembarang ke arah sofa. Ia membuka tasnya dan mengambil dua bungkus roti yang masih ada disana. Risa membuka pintu balkon, dia memutuskan untuk duduk disana sambil menikmati roti ditemani angin malam yang syahdu. Tanpa bisa di cegah, air matanya kembali menggenang, dia memang tidak bisa menahan kesedihan jika mengingat George kekasihnya. "Sudah lima tahun, namun sedikitpun aku tidak bisa melupakanmu George hiks.... " Risa membuka ponselnya mencari foto kenangan kebersamaan mereka saat masih bersama. "George...." Risa mengelus layar ponselnya yang menampilkan wajah George yang tampak tersenyum merangkulnya, "Aku merindukanmu, sungguh aku benar-benar merindukanmu....... " isaknya sambil memeluk handphonenya. Risa merebahkan tubuhnya sambil terus memanggil George sampai akhirnya dia tertidur lelap dengan air mata di pipinya. Drttt drttt drttt "Eunggghh..." Risa membuka matanya perlahan, cahaya matahari langsung menyambut paginya ternyata Risa tertidur di balkon. Ia menatap layar ponsel yang menyala menampilkan sebuah nama yang berhasil membuatnya terbelalak dengan sempurna. "Dokter Leonard?" "Halo dokter, maaf saya tidak melihat ponsel sejak tadi," Sesalnya. "Tidak masalah dokter Risa, maaf mengganggu waktu anda di pagi ini karena saya ingin meminta bantuan." "Tentu, apa yang bisa saya bantu?" "Tolong gantikan dinas saya pagi ini, saya memiliki urusan mendadak yang tidak bisa saya tinggalkan." "Baik saya akan segera bersiap dan berangkat ke rumah sakit." “Maaf merepotkan Anda, apalagi ini hari pertama Anda mulai bekerja.” “Tidak masalah, saya senang bisa membantu.” “Terima kasih, Dokter Risa.” Tut. Risa menarik napas panjang, lalu bergegas bersiap. Hari ini ia harus check-out dari hotel. Setelah membereskan barang miliknya, Risa keluar sambil menarik koper yang belum terbuka sama sekali sejak kemarin. ah dia merasa sia-sia menyewa kamar VVIP tanpa sempat menikmatinya. Ting. Pintu lift terbuka, Risa masuk dan turun ke lobi untuk checkout. "Ini kartu kamarnya, terimakasih," ujar Risa sambil menyerahkan kartu pada petugas. "Semoga hari anda menyenangkan," balas petugas. Hellboy membantu Risa untuk memasukkan kopernya ke dalam mobil,"Thankyou," ucap Risa sebelum berlalu melaju meninggalkan hotel. 15 menit perjalanan, Risa akhirnya tiba di apartemennya. Ia segera turun dan menuju lift untuk naik ke lantai 5 tempat apartemennya berada. "Uh ini melelahkan sekali," Risa memijit kepalanya frustasi, "Semangat Risa, kamu pasti bisa!" gumamnya menyemangati dirinya sendiri. Ia menarik kopernya sambil membuka aplikasi chat berwarna hijau, ada banyak pesan dari dokter Leonard yang masuk dan semuanya berisi tentang pasien yang di tangani pagi ini dengan jumlah yang cukup banyak dan sebagian tergolong kasus berat. Saat berada di depan pintu apartemennya Risa menghela nafas panjang, dia memasukkan kode akses. Saat pintu trbuka Risa langsung masuk dan meletakkan kopernya di sekitar sofa. "Aku tidak punya banyak waktu," gumamnya sambil melangkah cepat menuju kamar mandi untuk bersiap. hanya dalam waktu 15 menit Risa sudah siap dengan balutan jas dokternya, wajahnya tampak segar meskipun terlihat kantung mata yang samar di wajahnya. Sebelum berangkat ia mengecek semua peralatan medis ringan di dalam tas kerjanya, memastikan semuanya lengkap. "Baiklah Risa mari merayakan hari ini dengan bekerja!" semangatnya pada diri sendiri sebelum meninggalkan apartemen menuju rumah sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN