Dengan tubuh bergetar Risa mulai menyuntikkan obat itu ke dalam tubuh Ricardo, "Kamu harus selamat, apapun yang terjadi aku akan menyelamatkanmu," gumamnya dalam hati.
Waktu berlalu Risa dengan setia berada di samping pria itu, perlahan namun pasti jari tengah Ricardo mulai menunjukkan reaksi yang menandakan obat itu sudah mulai memulihkan kesadarannya.
Risa mendekat matanya berkaca-kaca, "Ricardo, apa kamu mendengarku? jika iya tolong berikan reaksi padaku."
Mata tegas itu perlahan terbuka, tatapan mata itu langsung terpusat pada Risa yang juga menatapnya dengan penuh haru.
"Siapa kau!" teriaknya tiba-tiba membuat Risa terkejut dan menjauh dari sisinya.
"Tenang aku dokter Risa, dokter yang menanganimu," Risa melepaskan maskernya untuk menunjukkan wajahnya pada Ricardo.
Mendengar teriakan yang cukup keras itu membuat semua orang yang berjaga di luar langsung masuk memicu kepanikan pada Risa.
"Apa yang terjadi dokter, Tuan apakah anda baik-baik saja?" tanya mereka tampak khawatir.
Ricardo tak merespon namun matanya tetap mengarah pada Risa.
"Tenang ya, aku adalah doktermu aku disini yang bertugas menjaga dan memastikan keadaanmu." ujar Risa.
Tak lama berselang dokter Samuel ikut masuk, "Dokter Risa, apa yang terjadi?"
Risa menggeleng pelan, "Sepertinya dia panik saat melihat keberadaanku disini, dia belum pulih sepenuhnya namun ini adalah kabar baik dia mulai merespon tanda bahaya di sekitarnya."
Ricardo tampak memijit keningnya tampak lenguhan kecil terdengar lirih di bibirnya, "Ini terasa sakit sekali, aku mual," ujarnya.
"Itu adalah efek dari racunnya, artinya obat itu bekerja dengan baik dia akan pulih dalam waktu dekat," ujar dokter Samuel membuat semua orang yang ada disana bernafas lega.
"Dokter Risa tetap awasi keadaannya, jika ada sesuatu laporkan pada saya," ujar dokter Samuel.
Semua orang sepakat untuk keluar, meninggalkan Risa dan Ricardo berdua disana membiarkan sang dokter bekerja maksimal dan tuan mereka beristirahat untuk pemulihan keadaannya.
Risa mengamati Ricardo dari jauh, dia tidak ingin pria itu merasa terganggu dengan dirinya karena saat ini pasti semua orang bisa di anggap ancaman bagi dirinya.
"Saya ada disini, jika kamu membutuhkan apapun panggil saja ya karena saya harus disini memantau keadaanmu sampai pulih total."
Ricardo melirik Risa dengan tatapan biasa tidak tajam seperti tadi, "Saya mengingatmu, bukankah kamu wanita yang ada di restoran malam itu, benar kan?"
Risa terdiam sejenak dia tidak menyangka pria yang tampak kejam itu mengingatnya, "Ya," jawab Risa lirih dengan suara nyaris tidak terdengar.
"Siapa namamu?" tanya Ricardo.
"Aku Risa, dokter yang menanganimu." jawab Risa sambil menunduk.
"jelaskan apa yang sudah terjadi padaku, kenapa aku bisa sampai di rawat seperti ini?" Ucapnya dengan suara datar.
"Kamu mengalami keracunan, akibat makanan yang kamu konsumsi dan itu hampir saja menghilangkan nyawamu jika kamu terlambat di bawa kesini."
Mendengar hal itu Ricardo tampak tidak percaya terlihat dari ekspresi terkejutnya, "Kau bercanda? aku tidak selemah itu, aku seorang kapten begitu banyak ancaman yang aku dapatkan selama bertugas rasanya sulit dipercaya jika aku hampir mati hanya karena racun."
"Tapi itu adalah faktanya, racun itu hampir saja merenggut nyawamu dan sekarang polisi sedang mencari siapa pelaku itu."
Mendengar hal itu, Ricardo mulai mengingat apa yang terjadi sebelumnya dan ingatannya mengarah pada pertemuannya dengan Siska.
Siska? ya kekasihnya yang telah lama tinggal disana untuk melanjutkan kuliah.
"Apa kamu ingat sesuatu?" tanya Risa memastikan.
Ricardo menggeleng, "Tidak ada, mungkin kamu benar aku telah keracunan." jawabnya karena dia tidak ingin jika Risa tahu apa yang dia pikirkan, biarlah dia sendiri yang akan memastikannya.
"Kapan aku bisa keluar?" ucapnya tiba-tiba membuat Risa kaget.
"Keluar? kamu serius, lihatlah keadaanmu kami harus mengecek keadaanmu sampai benar-benar pulih." tegas Risa.
Ricardo menggeleng, "Aku sudah cukup merasa sehat, dan aku ingin segera pulang karena harus segera terbang ke irak."
"Irak? kenapa tidak disini saja."
Mendengar ucapan Risa, Ricardo tampak mengerutkan keningnya, "Untuk apa kamu menahanku disini?"
Risa terdiam menyadari kesalahannya, dia bisa merasakan jika Ricardo masih mencurigainya.
"Aku sama sekali tidak bermaksud menahanmu, tapi tolong perhatikan kondisi tubuhmu yang belum stabil. sebagai doktermu aku punya hak untuk menahanmu disini, memastikan keadaanmu semakin pulih sebelum kamu pergi kemanapun yang kamu mau." ucap Risa dengan tenang, sambil menatap Ricardo dengan tegas.
Ricardo mengalihkan pandangannya, dia menarik nafas berat. Dalam pikirannya bayang Siska terus ada, terlebih mengingat makanan yang dikonsumsinya adalah pesanan Siska sebelum dia berangkat ke kampusnya.
Tanpa curiga sedikitpun Ricardo menyantap makanannya, dengan rencana akan langsung berangkat menuju gedung setelahnya.
Tapi apa yang terjadi? tubuhnya mengalami reaksi tak biasa, Ricardo meradang karena hawa panas yang tiba-tiba, nafasnya mulai terengah-engah hingga membuatnya kehilangan kesadaran.
"Kalau aku di racuni, apa itu artinya Siska sengaja melakukannya?" gumam Ricardo dengan nada sedikit tidak percaya.
"Kamu mengatakan sesuatu, Ricardo?" tanya Risa memastikan.
Ricardo mengalihkan pandangannya pada Risa, "Kamu mengatakan jika aku hampir mati karena keracunan, aku hanya makan dari satu tempat dan itu pesanan dari seorang yang aku kenal dan percaya."
Risa terdiam, tak ingin bersuara lebih jauh karena dalam kasus seperti ini memang orang terdekat justru sering menjadi ancaman.
"Jika memang begitu kamu harus lebih berhati-hati." Pesan Risa.
Ricardo mendesah, "Namanya Siska, dia kekasihku tapi sepertinya aku tidak bisa mengabaikan bahwa mungkin dia memiliki hal lain yang selama ini tidak aku ketahui."
Risa menunduk ada rasa sakit di hatinya saat mendengar kata kekasih, namun dia berusaha bersikap profesional, "Terkadang kebenaran yang paling menyakitkan adalah saat mengetahui pisau itu ditancapkan oleh seseorang yang paling kita percaya."
Ricardo memejamkan matanya, "Aku ingin memastikan semuanya, aku harus menemuinya untuk menyelidikinya."
"Kamu yakin, kondisimu sedang tidak baik-baik saja!"
Ricardo mengangguk pasti, "Tidak ada pilihan lain, jika dia benar pelakunya aku harus tahu apa alasannya, jika tidak hal ini pasti akan terulang padaku atau bahkan orang lain."
Risa menatapnya dengan perasaan campur aduk, ingin menghentikan Ricardo untuk melindunginya namun dia tahu pria di hadapannya bukanlah pria lemah yang butuh campur tangan orang lain di hidupnya.
"Baiklah kalau itu memang maumu, aku akan menyiapkan tim medis kecil untuk berjaga, tapi berjanjilah satu hal padaku tetap. kembali kesini dengan keadaan sehat tanpa kurang satu apapun," pinta Risa dengan penuh permohonan.
Ricardo mengangguk, "Aku janji, tapi sebelum itu aku ingin tahu satu hal."
"Apa?" tanya Risa bingung.
"Malam itu kenapa kamu memanggilku George dan kenapa kamu menangis?"
Wajah Risa langsung pucat, suasana tiba-tiba berubah tegang.
Bibirnya terasa kaku untuk terbuka, tenggorokannya tercekat tubuhnya mulai bergetar meski dia tetap mencoba menyembunyikannya dari Ricardo.
"Maaf, aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu tersinggung atau bingung," sesal Risa.
Ricardo menatapnya dengan lembut, "Lantas kenapa kamu menangis seolah saat melihatku kamu terluka, apakah dia begitu berharga bagimu?"
Tubuh Risa semakin bergetar hebat dia tidak mampu menyembunyikan perasaannya.
"George....... " lirihnya mulai terisak.