Penginapan yang sunyi

1141 Kata
Reno mengikuti langkah kaki Clara dari belakang. Kedua matanya menatap ke arah tulisan yang ada di papan. “Home Sate,” guman Reno membaca lirih. Ini rumah sate apa penginapan?, tanyanya di dalam hati dan nyaris tertawa. Mendengar suara tawa Reno yang lirih terdengar, Clara langsung menoleh. “Ada apa?” tanyanya sambil menggerakkan dagu dengan alis berkerut. “Kamu engga baca tulisan ini apa?” ujar Reno yang kesulitan menahan tawanya. Kedua mata Clara mengikuti ke mana arah sepasang mata Reno memandang. “Mungkin maksudnya Homa stay,” sahut Clara ikut membaca. “Atau mungkin ini hanya strategi marketing.” “Selamat datang dan selamat malam Tuan dan Nyonya,” sapa seorang pria berumur tujuh puluh tahun yang mengelola penginapan tua ini. Clara dan Reno menoleh ke arah sumber suara. Mereka melihat pria tua yang tersenyum ramah dengan kemeja berwarna putih bergaris. “Selamat datang dipenginapan kami,” katanya lagi sambil mempersilahkan masuk. “Silahkan ke dalam. Di luar hujan deras. Pakaian kalian juga basah. Kami bisa pinjamkan pakaian ganti dan juga kamar beristirahat untuk pasangan suami istri.” Clara langsung menggerakkan telapak tangannya. “Bukan-bukan. Kami bukan pasangan suami istri,” jawab Clara segera. “Dia adalah Nyonyanya dan aku sopirnya pak,” sahut Reno memperjelas. Clara kembali melihat ke arah Reno. Penjelasan yang diucapkan Reno tidak nyaman di dengar. Walau memang kenyatannya hubungan mereka adalah Nyonya dan driver, tapi Clara tidak pernah menganggap Reno sebagai seorang sopir. “Aku kira kalian pasangan suami istri. Wajah kalian sangat mirip dan terlihat serasi. Cantik dan ganteng,” puji pria tua tadi. Clara hanya tersenyum simpul menanggapi. “Terima kasih pak. Bisa kami memesan dua kamar?” “Tentu saja bisa,” jawab bapak tua yang kini berjalan dengan langkah berat dan tubuhnya sedikit bungkuk ke depan. “Ke mari. Silahkan tulis nama dan tinggalkan kartu tanda pengenal. Dan salam kenal, namaku Suyitno.” “Saya, Rara,” sahut Clara sambil mengambil bolpoint dan menulis di atas kertas nama Reno dan juga namanya yang sengaja ditulis Rara. “Ren, mana ktp kamu,” pinta Clara dengan wajah tetap melihat ke buku panjang, daftar tamu di depannya. Reno menghela nafas panjang sambil mengambil ktpnya yang ada di dalam dompet. Menariknya pelan dari saku celana bagian belakang. “Kenapa pakai ktpku coba ...,” gerutunya sambil mengambil ktp dari dalam dompet berwarna coklat berbahan kulit buaya asli dan kemudian memberikannya pada Clara. “Ini ....” Clara menatap wajah Reno dengan tajam sambil menarik kartu tanda pengenal yang dipegang Reno. “Masa aku yang naruh jaminan ktp di sini?” Reno hanya berdecak kesal menanggapinya dan pasrah menerima. “Baiklah dua kamar tidur ya ...,” kata pak Suyitno sambil mengambil dua buah kunci kamar dari rak kunci dan kemudian mengambil jubah handuk mandi untuk pakaian ganti sementara Reno dan Clara. “Pakai ini sementara pakaian kalian masih basah,” katanya sambil memberikannya pada Clara. Clara menerimanya. “Terima kasih pak Suyitno ....” “Sekarang aku antarkan kalian ....” Pak Suyitno mulai mengantarkan Clara dan Reno menuju kamar mereka. Suara halilintar dan derasnya hujan, juga kilat petir yang telihat dari sisi kiri dan kanan koridor penginapan yang sepi pengunjung ini membuat Clara menjadi sedikit takut. “Apa penginapan ini selalu sepi begini pak?” tanyanya ingin tahu. Karena sejak tadi Clara tidak melihat adanya orang lain kecuali mereka. “Ya, penginapan ini memang sepi karena mungkin sudah tidak dilirik lagi. Dulu penginapan ini sempat menjadi satu-satunya penginapan yang paling diminati di sini. Tapi roda memang berputar. Tempat ini sudah mulai kehilangan pelanggan dan mungkin akan aku jual karena aku tidak memiliki banyak dana untuk mengelolanya dan juga membayar pajak bangunan penginapan,” jawab pak Suyitno mulai bercerita. Clara dan Reno terdiam. Mereka menjadi simpati pada pria berumur tujuh puluh tahunan ini. “Ini kamar kalian. Nomer 13 dan 14,” kata pak Suyitno saat berada di depan dua kamar yang berdampingan. Dua kamar yang langsung menghadap pada taman yang mungkin terlihat indah pada pagi dan siang hari. Namun menyeramkan ketika malam hari seperti ini. Clara menelan ludah sambil melihat ke sekeliling. Jubah mandi berwarna putih yang terasa seperti selimut itu di dekapnya. "Selamat beristirahat," kata Pak Suyitno sambil memberikan kunci kamar pada Clara dan Reno. Dua kunci kamar yang memiliki gantungan bernomer tiga belas dan empat belas. "Jika ada perlu apa-apa, jangan sungkan hubungi aku. Tapi di dalam kamar sudah ada dispenser, jadi kalian bisa membuat minuman hangat sendiri." Reno menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, pak Suyitno." Pak Suyitno pun menganggukkan kepalanya dan kemudian membalikkan badan dan lama kelamaan bayangannya menghilang dalam koridor panjang yang memiliki penerangan redup. Clara dan Reno masih memandang lurus ke arah koridor panjang hingga suara halilintar menggelegar dan petir mengkilat lagi-lagi terlihat bagai lidah api di gelapnya malam. Membuat keduanya terkejut hampir berlonjak dari tempat mereka berdiri. "Ini punyamu. Gantilah pakaianmu mengenakan ini," ujar Clara sambil memberikan jubah handuk yang memiliki serat tebal dan justru terasa seperti selimut yang lembut. "Terima kasih," ucap Reno sambil mendekap handuk mandi yang tebal itu. "Hm ...," jawab Clara hanya menganggukkan kepalanya. Mereka bertatapan sebentar dan kemudian sama-sama memalingkan muka. Lalu membuka pintu kamar masing-masing. "Sampai jumpa," kata Clara lagi sebelum menutup pintu kamar. Lagi-lagi Reno hanya menganggukkan kepalanya, tidak menjawab dengan suara. Reno menutup pintu kamar dan mulai merasa resah karena tidak pulang ke rumahnya. Pikiran di kepalanya terus memikirkan Astrid dan Diva yang hanya berdua saja di rumah. Saat pintu kamar telah tertutup rapat, Reno langsung menaruh jubah handuk itu di atas kasur. Ia tidak langsung mengganti pakaiannya yang basah. Namun justru buru-buru mengambil ponsel di saku celananya. Jari-jarinya mengusap layar dengan gesit mencari nama Astrid dan kemudian menghubunginya. Mungkin Astrid sudah tidur, hingga ia harus menelpon istrinya itu sampai beberapa kali. Dan saat panggilan ke tiga, suara Astrid mulai terdengar, "Halo ...." "Astrid ...!" "Hm ... Iya Ren ...." Suara Astrid terdengar serak. Sepertinya tadi ia sudah tidur nyenyak dan kemudian terbangun. "Ada apa?" tanya Astrid yang seperti tidak mencemaskan keberadaan suaminya itu. "Astrid, maaf. Aku tidak bisa pulang. Aku dan Clara terjebak hujan badai. Sebetulnya bisa langsung pulang jika ban mobil kami tidak pecah. Jadi kami terpaksa menginap di penginapan." "Oh ...," sahut Astrid yang sama sekali tidak merasa cemas atau cemburu, mengetahui Reno dan Clara sedang bersama di penginapan. "Kami memesan dua kamar," timpal Reno melanjutkan penjelasannya. Ia takut istrinya akan salah faham. "Hm ... iya, tidak apa-apa." "Kamu tidak marah?" tanya Reno cemas. "Tidak," jawab Astrid lugas. "Bekerjalah dengan baik Ren. Karena kita membutuhkan uang dari pekerjaanmu itu. Hidup kita sedang sulit. Jangan menambah kesulitan kita. Kami mengandalkanmu." Reno terdiam. Ia menghela nafas panjang dan dalam, lalu menghembuskannya kasar. Ternyata dalam pikiran Astrid masih sama, yang terpenting uang bulanannya tercukupi dan tidak kurang. Terkadang di dalam hati Reno bertanya, 'Apakah ada cinta yang tulus kepadaku?' "Jangan sampai mbak Clara memecatmu Ren ...," lanjut Astrid. bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN