Tekanan

1209 Kata
                Astrid melipat baju kemeja kotor yang baru saja dilepaskan oleh Reno. Menggantinya dengan piyama tidur berwarna biru laut. Tanpa sengaja indera penciuman Astrid mencium aroma parfum wanita yang khas. Sejenak ia terdiam sambil menempelkan kemeja Reno di ujung hidungnya. “Ada apa?” tanya Reno yang baru saja keluar dari kamar mandi yang ada diujung ruangan kamar. Astrid menoleh dan menatap Reno yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Ada apa?” tanya Reno lagi dengan kedua alis terangkat ke atas. “Memang dari mana kamu tadi?” tanya Astrid yang mendadak seperti seorang satpam. “Seperti yang sudah aku bilang padamu sebelum aku pergi, aku akan menemui Aji. Mungkin dia bisa memberikan pekerjaan tambahan untukku,” jawab Reno sambil duduk di pinggir ranjang dengan tangan masih menggosok-gosokkan handuk ke kepala dan rambutnya. “Lalu kenapa kemejamu ini beraroma parfum wanita?” tanya Clara sambil menyodorkan baju bekas pakai di tangannya. Punggung Reno yang tadi sedikit membungkuk itu kini seketika menegak. “Cium ini ... Jelas sekali ini parfum wanita. Kenapa kamu tidak bilang jika akan bertemu dengan orang lain selain Aji?” Astrid tetap menyodorkan kemeja bekas pakai itu ke arah Reno. Reno mengatupkan bibirnya dan menghela nafas panjang. Ia mengambil kemeja yang disodorkan ke arahnya dan menaruhnya di atas ranjang. “Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Clara,” jawab Reno lirih. Entah mengapa ia takut jika Astrid akan marah dan mengomel. Tapi ternyata di luar dugaan. Kedua mata Astrid malah berbinar-binar. Astrid bergerak mendekat. Duduk di samping Reno. “Jadi kamu bertemu dengan Clara? Lalu apa dia menanyakan Diva?” Reno menganggukkan kepalanya. “Iya, dia menanyakan Diva. Dan ingin memberikan makanan siap saji yang dijual di restoran tempat kami bertemu. Tapi aku menolaknya.” “Kenapa kamu menolaknya ...?” keluh Astrid dengan wajah masam. “Kamu kaya kurang makanan aja. Kan malu. Kenapa mesti dia harus memberikan makanan untuk kita? Walau kita sedang dilanda kesusahan tapi kita tidak kekekurangan makanan kan!” seru Reno. “Ck ....” Astrid berdecak. Wajahnya terlihat mendung. “Kamu engga mengerti. Kenapa sih kamu engga pernah faham ....” Reno mengerenyitkan dahinya. “Maksudnya?” “Clara menyukai Diva. Ya memang anak kita menggemaskan. Kenapa kita tidak memanfaatkan keadaan itu ...?” Astrid menatap Reno dengan tajam. Reno semakin tidak mengerti maksud Astrid. Kerutan di dahinya semakin bergaris. “Memanfaatkan, bagaimana?” “Aku ingin Diva menjadi seorang artis cilik. Jika Diva menjadi artis, kita sebagai orang tuanya juga pasti akan menikmati hasil kesuksesaan yang dijalani Diva kan ....” Reno tidak percaya jika Astrid bisa berpikiran demikan. “Jadi kamu ingin mendompleng ketenaran Clara demi kesukesaan Diva, begitu?” tanya Reno sambil menggelengkan kepalanya. “Ini bukan mendompleng Reno. Kita minta bantuan Clara,” jawab Astrid dengan wajah seriusnya. “Eh tapi ... jika kita mendompleng ketenaran Clara engga apa-apa juga sih ... Bukankah banyak artis pemula yang melakukan hal seperti itu? Bahkan dulu Clara pernah disebut sukses karena mendompleng ketenaran Wildan.” Reno terdiam. Ia tidak ingin berkomentar. “Jika Diva menjadi artis, pasti masa depannya gemilang,” ujar Astrid menambahkan. “Tapi Diva terlalu kecil untuk disibukkan hal seperti itu. Kecuali jika Diva sendiri yang menginginkannya. Dan hanya untuk sebagai sebuah hobi semata,” sahut Reno dan mulai bergerak menuju tengah ranjang tidurnya. Menepuk bantal dan menarik selimut. Astrid mengikuti gerakan Reno. Ia ikut merapikan bantalnya dan kemudian bersiap tidur. Selimut lebar ia tarik hingga sampai di batas dadaa. Suara detik jam yang terpasang di dinding terdengar perlahan. Seperti sebuah suara penghipnotis sepasang mata agar terpejam dan rapat. Nyaris saja Reno sudah menuju alam mimpinya, saat Astrid mulai bersuara lagi dan menyentuh lengannya. “Oia sampai lupa, bagaimana dengan pertemuanmu dengan Aji? Apa ada pekerjaan untukmu?” tanya Astrid yang baru teringat. Reno membuka kembali kedua matannya yang sudah berwarna kemerahan. “Tidak ada,” jawabnya singkat. “Apa ...?! Bagaimana bisa tidak ada?!” Reno menoleh dan menatap Astrid yang ada di sisinya. “Memang aku tahu. Katanya tidak ada. Ya tidak ada. Aku terlambat. Pekerjaan itu sudah diisi orang lain.” Astrid menghela nafas panjang. “Kamu sih engga gerak cepat. Terus kalo begini gimana?” “Aku kan bukannya sama sekali tidak mempunyai pekerjaan. Aku hanya mencari pekerjaan sampingan agar semua kebutuhan kita bisa dipenuhi.” “Yang kamu maksud dengan masih memiliki pekerjaan adalah usaha ikan hias yang pasti akan bangkrut itu?” Suara Astrid mulai sedikit meninggi. “Aku bosan hidup pas-pasan kek gini terus ...,” keluhnya dengan bibir cemberut. Kalimat yang dikatakan Astrid langsung mengingatkan saat perpisahaannya dengan Clara. ‘Aku bosan hidup susah seperti ini!’ Suara Clara terngiang di telinganya. Reno menghela nafas panjang dan memiringkan tubuhnya. Ia memunggungi Astrid. “Pokoknya kamu harus mendapatkan pekerjaan lainnya, Ren ...,” kata Astrid sekali lagi. Reno tidak menjawab. Itu semua ia lakukan agar tidak terjadi pertengkaran dengan istrinya. Tapi sepertinya Astrid tidak mengerti arti kebisuan Reno. “Sudah dua bulan kita menunggak cicilan rumah. Kan sayang kalo rumah ini disita. Apa lagi tidak lama lagi rumah ini akan lunas,” kata Astrid lagi. “Ini ujian Astrid. Bersabarlah ... aku akan mencari jalan keluarnya,” sahut Reno sambil memejamkan kedua matanya. Astrid mendengus kesal. “Kapan ujian ini berakhir? Sabar dan ini ujian ... Begitu terus yang kamu bilang. Memang kamu tidak memiliki kosa kata lainnya apa?!” Reno mengatupkan bibirnya dan akhirnya membuka kelopak matanya. Ia langsung terbangun dan mengambil bantal yang tadi sebagai alas kepalanya. Reno berdiri. Sepasang mata Astrid mengikuti gerakan Reno dan ia mengadahkan wajah ketika suaminya itu mulai bangun dari ranjang tidur. “Kamu mau ke mana?” “Tidur di luar!” ***     Tubuh Clara terasa pegal-pegal dan rontok. Mungkin apa yang dikeluhkan tubuhnya sekarang efek dari beberapa hari yang lalu, ia berkerja terlalu giat hingga tengah malam. Suara kicauan burung yang bertengger di pohon yang berada dekat dengan jendela kamarnya. Membangunkan Clara perlahan. Tangan Clara menggapai-gapai ponsel yang tergeletak asal di atas kasurnya. Setelah beberapa menit ia mencari ponselnya sambil masih memejamkan kedua mata. Akhirnya ketemu juga. Clara membuka kedua matanya yang masih terasa lengket seperti di lem. Bola matanya melihat jam digital yang tertera di ponsel. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Menjelang siang. Ia harus bangun saat ini juga karena jam dua siang nanti harus mengisi acara sebagai bintang tamu di  sebuah stasiun tv swasta. Belum juga semua nyawa Clara terkumpul dengan benar di dalam raganya. Suara  ketukan pintu terus menggedor. “Nyonya ... Nyonyah Claraaaa ...,” panggil Bi Kesi dengan suara keras dan lantang. “Iya, Bi ... masuk aja ...,” jawab Clara dengan suara serak karena habis bangun tidur. Pintu kamar terbuka. Bi Kesi masuk ke dalam kamar dengan  tergopoh-gopoh. “Nyonyah, ada tamu. Tadi saya sudah bilang kalo Nyonyah masih tidur. Tapi katanya penting dan sudah membuat janji dengan Nyonyah,” kata Bi Kesi memberitahu. Clara mengerenyit. “Siapa?” tanyanya malas. “Sepertinya aku tidak membuat janji dengan siapa pun. Suruh saja dia pulang. Mengaku-ngaku sudah membuat janji ...,” gerutunya sambil merentangkan badan ke atas dan ke samping. “Kata pria itu, namanya Reno.” Wajah Clara yang malas langsung berubah semangat. “Apa, Reno?!” serunya dengan ekspresi terkejut. “Suruh Reno masuk dan aku akan segera menemuinya!”     Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN