Suara pintu terdengar digedor oleh seseorang. Nia dan Wildan berpandangan dan menoleh ke belakang secara bersamaan, melihat ke arah pintu utama yang bisa terlihat dari ruang keluarga. “Siapa itu Wil?” tanya Nia lirih. Wildan menelan ludah dan mengangkat bahunya ke atas. Ada perasaan takut terselip di hatinya, bagaimana jika ternyata yang menggedor pintu villanya itu adalah gerombolan polisi? Bagaimana jika ternyata ini adalah hari terakhir ia menghirup udara bebas. Nia beranjak dari duduknya. Menarik nafas panjang dan berkata, “Biar aku saja yang melihatnya. Kamu tetap di sini saja dan bersembunyilah. Apa di villa ini ada pintu belakang?” Wildan menganggukkan kepalanya. “Iya, ada pintu belakang.” “Bagus kalau begitu,” sahut Nia sembari menganggukkan kepalanya dan sebelah alisnya teran

