Hingga suara halilintar yang terus menggelegar Clara tak kunjung melepaskan pelukannya.
Reno membiarkan Clara memeluk punggungnya. Ia tahu sejak dulu Clara sangat takut dengan suara halilintar yang saling menggelegar seperti ini.
Setelah suara petir yang menakutkan itu telah menghilang, Clara baru berani memejamkan kedua matanya. Lampu tiba-tiba padam dan semuanya gelap.
Ia melepaskan pelukannya dan kemudian dua langkah berjalan mundur. “Maafkan aku ...,” kata Clara lirih.
Reno membalikkan badannya. Ia menatap Clara yang samar karena tidak ada pencahayaan. Wajah Clara hanya terlihat dari sinar kilatan petir yang menyalak di luar jendela.
“Kita harus menyalakan lilin,” kata Reno memberitahu.
“Lalu di mana lilinnya? Sepertinya di kamar ini tidak ada lilinnya,” jawab Clara dan berusaha mencari lilin di laci bufet dengan cara berjalan merayapi tembok dengan tangannya.
Reno yang memang sejak tadi memegang ponsel kini menyalakan lampu senter di fitur ponselnya. Ia mengarahkan cahaya senter ke arah Clara. Wajah Clara terlihat redup dan berpendar terkena cahaya senter.
“Reno, silau!” seru Clara sambil memejamkan kedua matanya.
Reno langsung menurunkan ponselnya. “Maaf, maksudku agar kamu mudah mencari lilinnya.”
“Iya, tapi mataku jadi silau dibuatnya!” gerutu Clara dan kemudian berjalan kembali menuju bufet tv.
Suara derasnya hujan dan angin yang berhembus kencang, semakin membuat bulu kuduk berdiri dibuatnya. “Ah, sial ... Mana sih ini lilinnya. Malam yang menyebalkan,” gerutu Clara kesal.
“Tidak ada?” tanya Reno yang mengarahkan ponselnya pada laci bufet yang sedang dibuka Clara.
Clara menggelengkan kepalanya. “Tidak ada. Sepertinya kita harus minta lilin sama pak Suyitno.”
“Oke, aku akan ke depan. Padahal harusnya pak Suyitno lah yang ke mari dan memberikan alat bantu penerangan pada kita,” kata Reno sambil berjalan menuju ke bagian depan penginapan.
“Tunggu!” panggil Clara, membuat langkah Reno terhenti.
“Hm ... Apa?” Kedua alis Reno terangkat.
“Aku ikut, Ren ... Sumpah penginapan ini sangat menakutkan,” Clara merengek. “Aku seperti diamati paparazi sejak tadi.”
Reno menghela nafas panjang. “Ayo, kita sama-sama ke depan, cari pak Suyitno. Ini hanya mati listri Ra ... Sebentar lagi juga nyala.”
“Tapi tempat ini yang bikin tambah takut. Apa lagi nuansa bangunan tua penginapan ini membuat suasana semakin menakutkan ...,” sahut Clara sambil melihat kesekeliling tempat.
“Itu hanya perasaanmu saja ....” Baru saja Reno mengatakan demikian, tiba-tiba ia berteriak. “Aaaaa ....!”
Clara pun ikut berteriak bersama Reno.
“Hei, ini saya. Pak Suyitno ....”
Reno dan Clara yang spontan memejamkan kedua matanya karena terkejut, kini kembali membuka kelopak mata mereka. Cahaya temaram dari lima lilin yang berada dalam satu wadah perak klasik membuat raut muka pak Suyitno nampak menyeramkan.
“Ini lilin untuk kalian. Petir menyambar tugu tiang listrik yang ada di depan. Pasti listrik akan menyala esok pagi,” kata pak Suyitno melanjutkan kalimatnya.
Reno mengambil wadah lilin yang terbuat dari perak yang disodorkan oleh pak Suyitno. Tanpa sengaja jari Reno menyentuh kulit pak Suyitno. Ia terkejut merasakan dinginnya kulit itu.
“Selamat malam. Maaf jika padamnya listrik ini mengganggu kenyaman kalian,” kata Pak Suyitno sebelum membalikkan badan.
“Ada apa?” tanya Clara saat melihat muka Reno berekspresi datar.
“Kulit Pak Suyitno terasa sangat dingin.”
“Hah?” Clara tidah faham.
“Iya, tadi aku engga sengaja merasakan kulit tangannya sangat dingin,” jawab Reno.
“Lalu?” Dahi Clara berkerut.
“Bagaimana jika Pak Suyitno bukan manusia?!” seru Reno sambil menatap keseliling banguan tua yang klasik.
Sejenak terjadi keheningan. Dan beberapa menit kemudian, disusul Clara yang tertawa. “Ada-ada aja kamu. Sok berani tadi, taunya kamu lebih penakut. Ternyata kehaluanmu melebihi aku ...!” katanya sambil merebut wadah lilin yang terbuat dari perak. Kelima lilin yang berada di satu wadah itu, apinya hampir padam saat Clara mengambilnya. “Sini lilinnya buat aku. Terima kasih sudah memastikan kamarku tidak ada apa-apanya.”
Clara sedikit mendorong Reno maju ke depan gawang pintu kamarnya agar pintu itu bisa ditutup. “Selamat malam Ren ....”
“Eh tunggu ...!” seru Reno sambil menahan pintu kamar yang akan tertutup. “Lilin untukku mana?” Reno baru tersadar jika lilin yang ada hanya satu wadah.
“Ini milikku,” sahut Clara dari balik celah pintu yang akan tertutup.
“Lalu aku pake apa? Bagi satu lilinnya ...!”
“Kamu pake senter hape aja!”
“Kalau batrenya lama-lama habis gimana? Kan harus dihemat. Listrik akan menyala pagi hari nanti,” sahut Reno yang nyaris memohon bak anak kecil.
Clara hampir tertawa melihat ketakutan di wajah Reno. “Yaudah, ini aku bagi kamu satu lilin dan yang empat aku,” kata Clara sambil mengambil lilin yang menyala dengan tangannya sendiri. Namun lelehan lilin yang panas mengenai jari telunjuknya. “Aw!” teriaknya spontan.
Dan tanpa disadari Reno, tangannya langsung menarik jari Clara yang terkena lelehan lilin dan meniupnya. “Lagian main ambil aja.”
Clara menatap wajah Reno yang saat ini hanya berjarak beberapa sentimeter dari matanya. Bibir masukulin dan hidung Reno yang mancung terlihat sangat jelas. Bahkan alis matanya yang panjang dan lebat itu nampak rupawan.
Clara menarik jarinya perlahan. “Yaudah kita sekamar aja. Tapi aku di atas ranjang, kamu di bawah ya!”
Pintu kamar kembali terbuka lebar.
Reno menghela nafas lega. “Iya, tidak apa aku tidur di bawah. Yang penting aku jauh dari pak Suyitno ...,” pekiknya lirih.
Lagi-lagi Clara tertawa. Ia tidak bisa menahan diri agar tetap diam. Kejadian seperti ini membuatnya teringat saat camping di kaki gunung. “Kamu tidak berubah Ren. Dengan preman kamu berani. Tapi dengan hantu takutnya setengah mati.”
“Ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa berubah,” timpal Reno sambil mengambil selimut bedcover yang tebal dan menggelarnya di atas lantai.
“Seperti ketakutanmu terhadap hantu?” tanya Clara dengan nada bicara mengejek.
“Seperti cinta seorang ibu kepada anaknya,” sahut Reno yang langsung menghunus jantung Clara.
Suasana seketika menjadi hening dan sunyi. Hanya gemuruh suara angin yang terdengar. Kencangnya angin hingga menimbulkan suara gedoran di jendela kaca yang tebal.
Lilin-lilin yang bersinar dan temaram membuat bayangan di dalam kamar kini berwarna keemasan.
Reno melirik ke arah Clara yang terbaring di atas ranjang. Dari bawah lantai ia menatap wanita yang pernah dicintainya itu menatap lurus menerawang. “Ra ...,” tegurnya. “Kenapa jadi diam tiba-tiba? Apa aku salah bicara? Semua orang bisa berubah. Kamu yang tak pernah takut apa pun kini ketakutan dengan paparazi. Aku juga mungkin bisa berubah. Tapi kasih sayang dan cinta seorang ibu pada anaknya tidak akan berubah.”
Kerongkongan Clara tiba-tiba mengering. Suaranya seakan tercekat dan sepasang mata indahnya yang dibingkai bulu mata lentik natural itu memerah dan berkaca-kaca.
Clara memalingkan mukanya dan menyeka air matanya yang mulai keluar dari sudut matanya.
“Seperti kasih sayang dan cinta Astrid pada Diva. Terkadang aku merasa cintanya pada Diva lebih besar dari pada kepadaku ....” Reno melanjutkan kalimatnya sambil tersenyum tipis. “Begitulah cinta sesungguhnya seorang ibu.”
Air mata Clara tak lagi bisa dibendung. Ia menangis dalam diam sambil menghadap ke dinding.
Bersambung