Sudut Pandang Maxine Martin
“Ibu! Margaux!” Aku terisak, menyaksikan peti jenazah dua orang yang paling kucintai diturunkan ke dalam liang lahat.
Sudah jam dua siang, tapi aku belum juga makan. Aku tidak lagi merasakan lapar atau lelah. Satu-satunya yang kurasakan hanyalah sakit mendalam di hati karena kehilangan mereka. Bahkan langit seolah ikut berduka, tetesan gerimis mulai turun di pemakaman tempat keluargaku disemayamkan.
Akhirnya, peti jenazah Ibu dan Margaux benar-benar terkubur. Aku memeluk erat sahabatku, Klea, sambil menyaksikan para penggali menutup liang lahat dengan tanah. Mataku bengkak karena terlalu banyak menangis. Aku tidak bisa berhenti menangis. Hari ini lebih menyakitkan dibanding sebelumnya. Karena sekarang, aku benar-benar merasakan bahwa ketika aku pulang nanti... aku akan sendirian.
Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut di punggungku membuat rasa sakit itu sedikit mereda.
“Maxine, kamu pasti bisa melewati ini.”
Aku mendengar kata-kata itu berkali-kali dari beberapa kerabat. Namun, di dalam hati, aku tahu bahwa aku tidak akan sanggup menanggungnya setelah Ibu dan Margaux benar-benar dimakamkan. Aku tidak tahu harus memulai dari mana setelah ini.
Ketika semua telah selesai, satu per satu pelayat mulai berpamitan. Kerabat dari keluarga Ibu dan Ayah, terutama mereka yang sudah lama tidak kulihat, menghampiri. Beberapa dari mereka menyelipkan amplop ke tanganku—bantuan uang untukku.
Aku tidak tahu berapa jumlah yang mereka berikan. Berapa hari aku bisa makan dengan uang itu? Berapa lama aku bisa melanjutkan sekolah? Aku hanya berharap cukup untuk kebutuhan selama sebulan. Aku juga masih harus mengurus hak asuransi dari perusahaan tempat Ibu bekerja. Aku harus datang ke sana dan memastikan semuanya diberikan padaku.
“Max.” Klea tiba-tiba mendekat lagi dan menepuk punggungku. “Mau kuantar pulang?” tanyanya.
“Terima kasih, Klea. Tapi aku ingin di sini lebih lama, aku ingin tetap di sisi Ibu,” jawabku.
“Baiklah. Aku harus pergi dulu, ya, Maxine.”
Klea pergi tak lama kemudian. Aku sangat bersyukur memiliki sahabat seperti dia, yang tidak pernah meninggalkanku. Besok kami juga ada kelas di kampus. Sudah seminggu aku tidak masuk. Aku mengirim surat izin, tapi aku harus kembali besok karena semakin lama aku absen, semakin sulit untuk mengejar pelajaran. Untungnya, Klea terus memberitahuku tentang materi yang diajarkan. Namun, rasanya tidak ada satu pun yang masuk ke kepalaku.
Aku harus berusaha keras belajar. Aku harus menyelesaikan kuliahku. Itu yang terus kupikirkan, sebagai cara untuk tidak menyerah. Aku harus mencari pekerjaan paruh waktu. Masalahnya adalah di mana aku akan tinggal. Uang sewanya 122 dolar per bulan, dan aku tidak bisa lagi tinggal di sana. Selain karena biaya, aku tahu akan sulit bagiku untuk terus hidup di tempat itu, dengan semua kenangan yang ada.
Tidak ada kerabat yang menawarkan tempat tinggal, dan aku juga tidak ingin tinggal bersama mereka. Aku tidak terlalu dekat dengan sebagian besar dari mereka.
“Maxine...”
Aku berbalik saat mendengar suara seseorang memanggilku dari belakang. Aku langsung menoleh dan terkejut melihat Ethan masih di sana. Matanya sedikit merah, tanda bahwa dia juga habis menangis. Ekspresinya sangat sedih.
“Ethan, kukira kamu sudah pergi,” kataku.
Tadi aku tidak memperhatikannya karena fokusku hanya pada Ibu dan Margaux. Namun, sebelumnya Ethan sempat menyampaikan belasungkawa, dan aku juga mengucapkan hal yang sama. Kami berdua kehilangan orang yang sangat kami sayangi.
“Aku harus pergi...,” kata Ethan, suaranya terdengar serak.
Aku tahu dia benar-benar mencintai adikku. Aku hanya berharap dia bisa segera bangkit. Sayang sekali, hubungan mereka tidak bertahan lama.
“T-terima kasih, Ethan, atas belasungkawanya. Dan terima kasih juga sudah membuat adikku bahagia selama kalian bersama,” kataku dengan tulus.
“Terima kasih juga, Max. Karena kamu menerima aku di sisi Margaux,” jawab Ethan dengan senyum yang dipaksakan. “Apa rencanamu sekarang?”
Pertanyaannya membuatku terdiam. Aku menghela napas panjang, membalikkan badan dan kembali menatap makam Ibu dan Margaux. Aku melangkah mundur hingga berdiri di samping Ethan. Kini kami berdua memandang makam yang sama.
“Aku tidak tahu, Ethan. Aku hanya perlu menyelesaikan sekolah. Itu prioritas utamaku. Aku akan mencari pekerjaan paruh waktu di dekat kampus. Aku tidak bisa menyerah sekarang karena aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku juga tidak bisa tinggal di rumah lama lagi. Selain sewanya mahal, aku takut tidak bisa bangkit dari kesedihan,” jawabku.
“Kalau kamu butuh pekerjaan, Max, aku bisa membantumu,” tawarnya.
***
Keningku berkerut melihat sebuah mobil mewah berhenti di depanku. Aku sedang menunggu Ethan menjemput di sudut jalan. Mobil itu terlihat sangat mahal, mungkin harganya mencapai sepuluh jutam dollar.
Ini hari Minggu. Ethan bilang dia sedang dalam perjalanan dan akan menjemputku di depan. Aku sengaja menunggunya di luar agar dia tidak perlu mencari rumahku di gang sempit ini. Lagipula, hubungan Ethan dengan Margaux dulu adalah dirahasiakan, jadi dia belum pernah ke rumahku sebelumnya.
Namun, jantungku berdegup lebih kencang ketika mobil itu tidak bergerak meski jalan di depannya kosong. Aku melirik sekeliling. Hanya aku yang berdiri di sini. Ketakutan mulai merayapi diriku. Kaca mobil itu gelap, aku tidak bisa melihat siapa yang ada di dalam.
Jangan-jangan ini penculik? Atau mungkin ini modus penjahat yang akan menjual organ tubuhku? Imajinasi liar itu membuat tubuhku membeku. Kakiku lemas, tidak mampu melangkah.
Pintu mobil perlahan terbuka.
“E-Ethan?” Aku mendapati diriku bergumam pelan, mulutku ternganga, mata melebar. Aku merasa sedikit lega karena orang yang keluar bukanlah orang jahat.
Tapi dari mana Ethan mendapatkan mobil mewah ini? Meminjam? Aku tahu Ethan berasal dari keluarga berada, tapi mobil semewah ini... hanya orang super kaya yang bisa memilikinya.
“Max!” sapa Etan dengan ceria, meski matanya menyiratkan kesedihan. “Kamu sudah lama menunggu?” tanyanya.
“Hah? T-tidak... Tidak lama kok,” jawabku terbata-bata. Aku menatap sekilas ke arah Ethan, lalu fokus pada mobil mewahnya. “Ini mobilmu?” tanyaku.
“Ya, Max. Ayo, masuk, aku akan mengantarmu pulang,” katanya.
Aku mengangguk tanpa sadar. Ethan meraih barang-barangku yang tergeletak di tanah—sebuah koper dan dua ransel. Isinya pakaian dan dokumen pentingku.
Setelah pemakaman Mama dan Margaux, aku dikejutkan oleh tawaran Ethan. Tawaran yang sulit kutolak karena sangat cocok dengan keadaanku. Ethan menawarkan pekerjaan sebagai asistennya. Dia bilang aku bisa tinggal di rumahnya, yang dekat dengan universitas tempatku belajar.
Awalnya, aku menolak. Aku tidak cukup mengenalnya untuk tinggal bersamanya. Rasanya aneh jika langsung setuju begitu saja. Apa kata keluargaku nanti? Meski, jujur saja, pendapat mereka tidak terlalu penting. Aku tahu mereka tidak bisa membantuku, dan aku tidak ingin menjadi beban.
Namun, setelah beberapa kali dibujuk, aku akhirnya menerima tawarannya. Ethan bilang dia ingin membantu karena aku adalah saudara Margaux, dan ini adalah hal terakhir yang bisa dia lakukan untuk kekasihnya yang telah tiada. Sebagai gantinya, aku menjadi asistennya—mengerjakan laporan-laporan kecil di rumah, serta membantu pekerjaan rumah jika aku mau. Sebagai imbalannya, dia akan membayar biaya kuliahku, menyediakan tempat tinggal, dan uang makan.
Aku merasa ini keputusan yang masuk akal. Setidaknya aku bekerja untuk apa yang kudapat. Aku tidak ingin sekadar meminta bantuan tanpa memberikan sesuatu sebagai balasan. Ethan tampaknya memiliki posisi tinggi di perusahaan tempat dia bekerja. Mungkin dia seorang manajer dengan penghasilan besar.
Aku tidak sempat bertanya lebih lanjut karena dia tiba-tiba mendapat telepon dan pergi. Kami tidak berbicara lagi hingga kemarin, saat dia mengirim pesan bahwa dia akan menjemputku. Untungnya, aku sudah mengepak beberapa barang untuk dibawa. Aku sibuk mengejar pelajaran yang tertinggal di kampus, jadi tidak sempat memikirkan hal lain.
Yang masih mengganjal adalah bagaimana aku harus bersikap setelah tinggal di rumah Ethan. Apakah dia tinggal sendirian? Atau ada orang lain? Aku tidak ingin ada salah paham. Rasanya aneh membayangkan diriku dianggap sebagai pacarnya, apalagi mengingat hubungan masa lalunya dengan Margaux.
“Sudah makan, Max?” tanya Ethan.
Kami kini berada di dalam mobil, dan Ethan sedang menyetir. Aku merasa kecil duduk di mobil semewah ini. Bahkan, aku tidak tahu cara memakai sabuk pengamannya. Ethan yang memasangkannya untukku. Aku ingin bertanya dari mana dia mendapatkan mobil semahal ini, tapi aku terlalu malu dan takut pertanyaanku terdengar tidak sopan.
“Sudah, Ethan. Kalau kamu sendiri?” Aku menoleh padanya.
“Sudah. Aku sarapan tadi bersama saudara-saudaraku,” jawabnya sambil tetap fokus menyetir.
“Kamu punya saudara? Kamu tinggal bersama mereka?” tanyaku, berusaha menyembunyikan rasa penasaran.
“Ya, nanti aku kenalkan pada mereka,” jawabnya.
Aku langsung diam. Ada rasa gugup saat membayangkan harus bertemu keluarganya.
Bagaimana jika mereka berpikir aku kabur bersama Ethan? Atau lebih buruk lagi, mengira aku menggantikan Margaux?
“Tenang saja.” Ethan tiba-tiba berbicara, seakan membaca pikiranku. “Mereka tahu aku membawa seseorang pulang. Mereka sudah bertemu Margaux, dan aku bilang kamu saudaranya. Ayahku saja yang belum tahu karena dia sibuk,” jelasnya.
Aku mengangguk, mencoba menenangkan diri, meski masih ada banyak pertanyaan di kepalaku.
Setelah beberapa saat, kami memasuki area yang sangat familiar. Aku mengerutkan kening. Ini lingkungan para orang kaya. Aku langsung merasa ada yang tidak beres. Seberapa kaya sebenarnya Ethan? Ternyata dia tidak hanya mapan, tapi benar-benar kaya raya.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar. Tidak, ini bukan rumah. Ini istana. Aku terpaku menatap bangunan mewah itu, lengkap dengan gerbang besi besar yang memperlihatkan sekilas kemegahannya.
“Kita sudah sampai,” Ethan mengumumkan.
Aku menoleh padanya. “Ini rumahmu?”
“Rumah ayahku,” jawabnya, tersenyum kecil. “Aku belum pindah.”
Aku menelan ludah. Ethan bukan hanya kaya, dia super kaya. Aku tidak pernah menyangka dia berasal dari keluarga seperti ini.
Gerbang terbuka, dan mobil melaju masuk. Setelah parkir, Ethan membantuku keluar dari mobil. “Aku akan suruh seseorang membawakan barang-barangmu ke kamar,” katanya.
Tapi aku hampir tidak mendengar apa yang dia katakan. Mataku sibuk mengagumi taman luas di depan rumah. Ada air mancur besar di tengahnya. Rasanya seperti berjalan di taman istana.
“Ayo, Max. Aku akan mengenalkanmu pada ayah dan saudara-saudaraku,” kata Ethan, menarik lenganku.
Kami berjalan menuju sebuah meja bundar di taman. Ada sekelompok orang yang tampaknya sedang berkumpul. Saat semakin dekat, aku sadar bahwa ini semua adalah saudara-saudara Ethan. Ada banyak sekali. Aku tidak bisa menghitung jumlahnya dari tempatku berdiri.
“Semua ini saudaramu?” tanyaku dengan senyum canggung.
Ethan tertawa kecil. “Ya, sembilan bersaudara. Tidak ada yang kembar,” katanya.
Aku terdiam. Sembilan anak? Ibunya pasti sangat hebat. Tapi, sebelum aku bisa berpikir lebih jauh, seorang pria berdiri menyambut kami.
“Elijah, di mana Ayah?” tanya Ethan.
“Dia bersama...” jawab Elijah.
“Dia bersama penyihir itu!” potong seorang gadis kecil dengan marah.
“Lindsey, jangan panggil Tante Glaiza penyihir. Ayah akan sedih kalau tahu kamu berbicara seperti itu,” kata Ethan dengan tegas.
Aku hanya bisa terpaku mendengar percakapan mereka. Apakah ayah Ethan memiliki pacar baru? Atau mungkin ibunya sudah tiada? Rasanya aku seperti masuk ke dalam drama keluarga yang kompleks.
“Karena dia memang seperti itu, Kak, dia seorang yang matre!” Lindsey membalas dengan marah. “Tidak ada yang bisa menggantikan mendiang ibu kita. Tak seorang pun!”