Bab 4 Bertemu Pacar Ayah Ethan

1999 Kata
Sudut Pandang Maxine Martin “Sayang, kamu sudah di sini.” Wanita pemarah itu langsung menghampiri—pacarnya? Tadi nada bicaranya terdengar galak, tapi sekarang berubah manis. Namun, perhatianku segera beralih dari wanita itu ke pria yang melambaikan tangan. Pria itu tampan sekali. Tatapan kami belum bertemu, tapi aku sudah merasa meleleh hanya dengan melihatnya. Dia terlihat seperti aktor dari serial asing yang pernah kutonton, mungkin dengan aura khas Turki atau Yunani. Bahkan dari kejauhan, pesonanya terasa begitu kuat. Postur tubuhnya mampu membuat siapa pun melirik dua kali. Dengan kemeja polo lengan panjang berwarna biru muda, aku bisa melihat sedikit bentuk tubuhnya yang luar biasa—d**a dan bisepnya tampak samar di balik kain itu. Beberapa kancing yang sengaja dibiarkan terbuka semakin menambah daya tariknya. Wajahnya sangat maskulin. Rahang yang sempurna, hidung mancung, ditambah kumis tipis dan jenggot yang membuatnya terlihat begitu memikat. Sorot matanya... sungguh, inilah tipe pria yang selalu membuatku jatuh hati, seperti karakter dalam serial yang aku tonton. Kehadirannya begitu kuat, dan bahkan bibirnya terlihat sangat menggoda untuk dicium. Cium? Ya ampun, kenapa pikiranku jadi ke arah sana! “Ayah?” Aku mendengar Ethan berkata. Tapi mataku masih terpaku pada pria yang mendekati Ethan. Ayah? Tunggu... ini ayahnya Ethan? Ayah yang katanya punya banyak anak dari ibunya? Aku hampir tidak percaya. Dari penampilannya, dia hanya terlihat seperti pria usia pertengahan tiga puluhan. Tidak mungkin dia semuda itu. Dia terlihat seumuran dengan Ethan. Mungkin dia menikah di usia sangat muda. Dia pria yang sangat tampan dengan daya tarik luar biasa—tidak heran anak-anaknya juga semua tampan. Dan wanita dengan d**a besar itu pasti pacarnya. Wanita yang disebut anak-anaknya sebagai “penyihir.” Kemarin aku dengar dia sedang sakit, itu sebabnya ayahnya Ethan datang menjenguk. Tapi sekarang dia terlihat sangat sehat. Orang memang cepat sembuh jika ada yang merawat. Aku harus mengakui bahwa Glaiza ini punya daya tarik yang besar. Mereka terlihat... cukup cocok. Dia tampak keras dan pemarah. “Ethan?” Suara ayahnya Ethan terdengar, sedikit bingung. Bahkan suaranya pun sangat maskulin. “Uh, Ayah...” Ethan tiba-tiba menoleh ke arahku. Kini perhatian ayahnya Ethan tertuju padaku. Tatapan kami bertemu. Aku merasa seperti meleleh di bawah tatapannya yang begitu tajam. Aku berusaha keras agar wajahku tidak menunjukkan bahwa aku merasa tertarik pada ayahnya Ethan. Aku memastikan ekspresiku tetap netral. Tapi entah kenapa, aku tidak bisa menahan diri untuk menelan ludah dengan gugup ketika tatapan kami bertemu sesaat. Rasanya seperti tertangkap basah. “Dia temanku,” aku mendengar Ethan berkata sambil memandang ayahnya. “Aku ingin Ayah bertemu dengannya, tapi Ayah pergi kemarin...” “Sayang,” pacarnya tiba-tiba menyela dengan nada ceria. Aku melihat ayahnya Ethan merangkul pinggang Glaiza, dan tangan wanita itu bersandar di d**a kokoh pria tersebut. “Sayang, kamu baik-baik saja?” Wajah ayahnya Ethan menunjukkan kekhawatiran yang jelas. Aku memalingkan pandangan dari pasangan itu. Restoran ini rasanya hampir membutuhkan ember untuk menampung semua kemesraan mereka. Mereka terlihat seperti satu-satunya orang di tempat ini. “Aku cuma sedikit pusing, Sayang,” jawab wanita itu lemah. “Aku sudah bilang jangan bekerja dulu... kamu baru saja sembuh. Aku akan mengantarmu kembali ke apartemenmu, Sayang.” Nada suara ayahnya Ethan penuh perhatian, seolah-olah aku dan Ethan sudah tidak ada di sana. “Hei, Ayah,” Ethan menyela, dan aku melihat ayahnya tiba-tiba menoleh ke arah Ethan. “Ethan, maaf. Kami harus pergi sebelum Tante Glaiza merasa lebih buruk.” Ayahnya Ethan menatapku dan mengangguk ringan. Dia hendak membawa pacarnya pergi. “Tunggu, Sayang, aku ambil ponselku dulu.” Glaiza tiba-tiba menunduk ke lantai, tempat ponselnya yang rusak tergeletak. Dia mengambilnya dan kembali berdiri di samping pria itu. “Apa yang terjadi dengan ponselmu?” Ayahnya Ethan bertanya dengan tenang. “Uh, Sayang, aku tadi tidak sengaja bertabrakan dengan teman Ethan.” Glaiza melirik ke arahku. Aku tidak bisa membaca ekspresinya sekarang. Aku menarik napas pelan. Wow, aktris terbaik, pikirku. Sebelumnya dia memanggilku “bodoh,” dan sekarang dia begitu manis, mungkin karena di depan pacarnya dan calon anak tirinya. Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke ayahnya Ethan, takut dia akan marah padaku dan memaksaku mengganti ponsel pacarnya. Ketika aku menatapnya, aku melihat dia memandangiku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku memakai rok pensil selutut dan blus, jadi kakiku cukup terlihat. Entah kenapa, aku tiba-tiba merasa tidak percaya diri. Aku mulai bertanya-tanya apakah penampilanku cukup rapi. Saat mata kami bertemu, dia dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali ke pacarnya. “Sayang, kita akan membeli ponsel baru,” kata ayahnya Ethan. Lalu dia menoleh ke Ethan. “Nak, kita ketemu di rumah nanti.” Ethan yang berdiri di dekatku tampak menghela napas. “Iya, Ayah. Hati-hati di jalan.” Ayah Ethan menoleh ke arahku. "Senang bertemu denganmu." Aku terkejut mendengar ucapannya, tapi aku segera pulih dari rasa terkejut itu dan hanya mengangguk kecil padanya. Mereka tidak lama di sana. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari mereka, terutama dari ayah Ethan yang tampan. Aku bahkan sempat melihat Nona Glaiza sedikit condong ke arah ayah Ethan. Saat mereka melangkah pergi, aku terhenyak ketika ayah Ethan menoleh kembali. Pandangan kami bertemu langsung. Aku buru-buru mengalihkan pandangan dan menunduk. Baru kusadari, aku bahkan belum tahu nama ayah Ethan. Rasanya memalukan tinggal di rumahnya tanpa tahu harus memanggilnya apa. Mungkin dia juga belum tahu kalau anaknya mengizinkanku tinggal di sana. Dia pasti akan terkejut saat melihatku di rumah nanti. "Max," panggil Ethan. Saat aku menatapnya, dia sedang mengerutkan dahi. "Wajahmu merah... jangan-jangan kamu naksir ayahku?" Mataku membelalak memandang Ethan. Tidak heran wajahku terasa panas, aku memang sedang memerah. Mungkin itu alasan ayahnya melihatku tadi. "T-tidak, aku hanya gugup berada di dekat ayahmu. Aku rasa dia belum tahu aku tinggal di rumah kalian. Lagipula, aku bahkan tidak tahu namanya. Aku bingung bagaimana harus bersikap," jawabku gugup. Jawabanku tampaknya cukup meyakinkan Ethan. "Ngomong-ngomong, Max, kita kembali ke meja kita ya. Tadi aku sempat khawatir. Kukira kamu dan Tante Glaiza bertengkar... ternyata kalian cuma tidak sengaja bertabrakan." Aku hanya mengangguk. Namun, bayangan suara marah-marah Nona Glaiza tadi masih terngiang. "Aku ke kamar mandi dulu," kataku pada Ethan, lalu berjalan ke arah sana. Begitu masuk kamar mandi, aku merasa lega. Aku menatap diriku di cermin sebelum menggunakan fasilitas di dalamnya. Untungnya, penampilanku tidak terlalu berantakan. Aku tidak berlama-lama di sana. Ketika keluar, aku kembali ke meja kami, dan Ethan tersenyum menyambutku. Pesanan kami belum juga datang. "Ngomong-ngomong, siapa nama ayahmu, Ethan?" tanyaku. "Namanya Lorenzo, Max," jawabnya. Lorenzo Taylor – bahkan namanya terdengar tampan! "Ayahmu kelihatan sangat muda. Sepertinya dia menikah di usia muda," komentarku. "Ya, memang. Dia menikah langsung setelah lulus kuliah. Ibu juga tidak menyelesaikan kuliahnya. Beliau memilih menjadi ibu rumah tangga sederhana..." Aku melihat perubahan di wajah Ethan. Saat dia mengingat ibunya, matanya mendadak terlihat sedih. Aku bisa memahaminya. Kehilangan orang tercinta memang selalu meninggalkan luka, tidak peduli berapa tahun berlalu, karena kenangan itu tetap melekat. "Maaf," kataku pelan. "Aku tidak bermaksud membuatmu sedih dengan menanyakan tentang ibumu." "Tidak apa-apa. Kau tahu... aku sudah berdamai dengan kepergian Ibu, meskipun itu sangat menyakitkan. Setelah Ibu meninggal, Ayah mengambil peran ganda untuk kami. Aku sangat mengaguminya. Meski dia sibuk dengan bisnis, dia selalu meluangkan waktu berkualitas untukku dan saudara-saudaraku." Cerita Ethan membuatku semakin merasa sedih, mengingat perjuangan Ibu yang membesarkan aku dan Margaux seorang diri. "Sudah lebih dari enam tahun sejak Ibu meninggal. Saat itu, adik bungsuku, Layla, baru berusia kurang dari setahun. Sejak itu, Ayah benar-benar mengabdikan hidupnya untuk bekerja dan merawat kami. Dia tidak pernah memikirkan wanita lain. Dia sangat mencintai Ibu. Karena itu, kami semua terkejut saat dia memperkenalkan Tante Glaiza tiga bulan lalu." "Jadi, hubungan Ayahmu dan Tante Glaiza baru tiga bulan?" tanyaku. "Ya... Tante Glaiza orangnya baik." Aku hampir tersedak mendengar pernyataan Ethan. Baik? Kalau saja Ethan dan ayahnya tidak datang tadi, wanita itu mungkin sudah menamparku karena tidak sengaja merusak ponselnya. "Tapi saudara-saudaraku tidak menyukainya," lanjut Ethan. "Mereka merasa perhatian Ayah jadi terbagi sekarang. Ayah juga masih sibuk dengan perusahaan. Aku rasa saudara-saudaraku belum terbiasa berbagi perhatian Ayah." "Tapi kau sendiri tidak masalah kalau Ayahmu menikah lagi?" tanyaku ragu-ragu. "Sebenarnya... aku tidak sepenuhnya setuju. Aku belum terbiasa memiliki sosok ibu baru. Tapi selama Ayah bahagia... aku bisa menerimanya. Meski begitu, sebagian besar saudara-saudaraku menentang pernikahan ulang Ayah. Tante Glaiza pasti akan kesulitan mendapatkan restu mereka." Saat itu, pelayan datang menghidangkan sarapan kami, menginterupsi pembicaraan. Meski begitu, aku masih punya banyak waktu untuk mengenal Ethan lebih dalam. Aku kagum padanya, dia anak yang baik dan kakak yang perhatian. Margaux pasti akan beruntung jika memilikinya. Sayangnya... Ethan dan aku cepat-cepat menghabiskan makan kami. Aku benar-benar puas dengan kelezatan hidangan itu. Tak lama kemudian, Ethan mengantarku ke kampus. "Hai, Max. Apa kabar?" sapa Klea dengan senyum ramah saat aku duduk di sampingnya. Aku membalas dengan senyum tipis yang terasa dipaksakan. Selama seminggu terakhir, Klea rajin menanyakan kabarku setiap hari. Aku sangat menghargainya, juga teman-teman yang lain yang telah menyampaikan belasungkawa mereka. Sudah lebih dari dua minggu sejak Ibu dan Margaux meninggal. Meski aku sudah melewati fase penerimaan, aku masih menangis setiap malam. Aku tidak tahu berapa lama proses berduka ini akan berlangsung. Rasanya masih sangat menyakitkan. Aku dan Klea berbincang soal pelajaran sampai bel pulang berbunyi. Aku masih berusaha mengejar ketertinggalan pelajaran setelah melewatkan beberapa hari selama pemakaman Ibu. Saat waktu pulang tiba, aku bingung apakah aku harus menunggu Ethan menawarkan tumpangan atau tidak. Dia tidak menyebutkan apa-apa sebelum kami berpisah. Karena masih cukup sore, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan dulu. Aku ingin membaca catatan dari beberapa penulis untuk mata pelajaran yang sedang kupelajari. Rasanya itu pilihan yang lebih baik. Ethan juga bisa mengirim pesan kalau nanti dia bisa mengantarku pulang. Meski aku tahu rumahnya berada di kawasan eksklusif yang hanya bisa diakses mobil, dan para penjaga mungkin tidak akan membiarkanku masuk jika aku naik taksi. Tak lama kemudian, aku mendapat pesan dari Ethan. Dari Ethan: Hai, Max. Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Ada urusan penting yang harus kuselesaikan sekarang. Naik taksi saja, ya. Aku sudah memberi tahu penjaga untuk mengizinkanmu masuk. Aku menghela napas begitu membaca pesan itu. Sejujurnya, aku tidak ingin pulang tanpa Ethan. Rasanya akan canggung. Aku bahkan tidak mengenal staf rumahnya, apalagi saudara-saudaranya. Aku pasti akan merasa tidak nyaman di sana. Apa yang harus kulakukan ketika sampai? Langsung masuk ke kamar dan mengurung diri? Bahkan soal makan pun jadi masalah. Bagaimana kalau Ethan pulang sangat larut sementara aku sudah kelaparan? Rasanya memalukan kalau aku harus ke dapur dan meminta makanan. Situasi ini benar-benar rumit. Rasanya tidak mungkin aku bisa benar-benar tak terlihat, berbeda ketika aku di rumah bersama keluargaku sendiri. Mau tidak mau, aku tetap harus pulang. Aku tidak ingin berlama-lama di perpustakaan dan terlambat sampai ke rumah Ethan. Setelah keluar dari kampus, aku mampir makan di sebuah restoran terdekat. Setelah selesai makan, aku menyetop taksi dan langsung naik. Aku memberi tahu sopir alamat tujuan. Lalu lintas tidak terlalu padat sore itu. Aku meminta sopir menurunkanku di gerbang kawasan perumahan. Aku tahu Taylor Manor tidak jauh dari situ, cukup berjalan kaki untuk menghemat biaya taksi yang dihitung argo. Saat itu sudah pukul enam sore, langit mulai gelap. Ketika aku hendak masuk gerbang, seorang penjaga menghentikanku. "Mau ke mana, Nona?" tanyanya sambil mengamatiku dari atas sampai bawah. Umurnya sekitar lima puluh tahun. "Ke Taylor Manor, Pak," jawabku sopan. "Saya belum pernah melihat Anda sebelumnya, Nona. Anda mau berkunjung?" "Tidak, Pak. Saya tinggal di sana. Tuan Ethan Taylor sudah memberi tahu penjaga untuk membiarkan saya masuk." "Ah, baiklah. Saya cek dulu di catatan jaga, ya. Siapa nama Anda, Nona?" "Maxine. Maxine Martin, Pak," jawabku. "Baik, tunggu sebentar..." Penjaga itu terdiam ketika mendengar suara klakson mobil. Aku menoleh untuk melihat. Sebuah mobil mewah berhenti di gerbang. "Tuan Taylor," gumam penjaga itu buru-buru sambil hampir berlari kembali ke pos jaga. Aku terpaku di tempatku berdiri saat dia menyebut nama belakang Taylor. Palang pintu gerbang pun langsung diangkat untuk membiarkan mobil itu masuk ke kawasan perumahan. Penjaga itu segera kembali ke sisiku. Tubuhku masih kaku di tempat, dan aku semakin tegang ketika menyadari mobil mewah itu tidak bergerak. Sebaliknya, jendela mobil itu terbuka perlahan, memperlihatkan wajah tampan dan memikat ayah Ethan, Lorenzo Taylor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN